[Kabar-Irian] Kabar: Minggu Pertama Sept 2006


From "Admin-Editors Kabar-Irian" <editors@kabar-irian.com>
Date Fri, 8 Sep 2006 15:53:42 +0900 (EIT)
Importance Normal
List-archive <http://www.kabar-irian.com/pipermail/kabar-irian>
List-help <mailto:kabar-irian-request@kabar-irian.com?subject=help>
List-id News on Irian Jaya/West Papua/IRJA-BAR <kabar-irian.kabar-irian.com>
List-post <mailto:kabar-irian@kabar-irian.com>
List-subscribe <http://www.kabar-irian.com/mailman/listinfo/kabar-irian>, <mailto:kabar-irian-request@kabar-irian.com?subject=subscribe>
List-unsubscribe <http://www.kabar-irian.com/mailman/listinfo/kabar-irian>, <mailto:kabar-irian-request@kabar-irian.com?subject=unsubscribe>
User-agent SquirrelMail/1.4.6

========================KABAR IRIAN=========================================
News on Irian Jaya/West Papua/IRJA-BAR

Unsubscribe/Change Options: 
http://www.kabar-irian.com/mailman/listinfo/kabar-irian
Archives: http://www.kabar-irian.com/pipermail/kabar-irian

Email Commands- Subscribe/unsubscribe/options/help
List-Post: kabar-irian@kabar-irian.com
List-Help: &lt;mailto:kabar-irian-request@kabar-irian.com?subject=help>
List-unsubscribe: 
&lt;mailto:kabar-irian-request@kabar-irian.com?subject=unsubscribe>
List-subscribe:&lt;mailto:kabar-irian-request@kabar-irian.com?subject=subscribe>
Contacts: admin@irja.org, news@kabar-irian.com, editors@kabar-irian.com
 

Too much mail? Switch to the digest version. As a matter of policy we DO NOT 
handle requests except in emergencies.

Kabar Irian (Papua)
Minggu K5 Augustus 2006

Topik2

* Pendatang Ngungsi Ke Luar Timika
* Perang Berlanjut, 1 Tewas
* Kompi E 752 Dibangun di Teluk Bintuni
* Tim Pansus Freeport ke AS Dan Australia, Tak Tepat
* Sejarah Papua Adalah Sejarah Indonesia
* Polda Papua Kirim Tim Selidiki Penembakan di Mile 69 Tembagapura
* Kendaraan Freeport Ditembaki
* Polda Papua Periksa Empat Saksi Kasus Penembakan
* MRP Kirim Utusan ke Timika
* Warga Pendatang di Kwamki Lama Mulai Mengungsi
* Mobil TRC Ditembaki di Mile 69
* Kisah Putra Papua Asal Paniai yang Berhasil Menjadi Pilot (1)
* Wagub Papua: Hentikan Saling Bunuh
* Sengketa Wilayah Halangi Pembangunan di Asmat

* Mabes Polri Kirim Tim Puslabfor Selidiki Kasus Mile 69
*



Polri dan TNI Turunkan Empat SSK Antisipasi Penembakan Gelap di Freeport


* Satu Warga Kwamki Lama Tewas Tertembak

* Kapan Papua Membangun?


* Sidang Bentrok Abe, Ditunda Lagi
* Razia Sajam, Satu Tewas Tertembak
* Hampir Setengah Penduduk Papua, Dikategorikan Miskin
* Polda Selidiki Kasus Penembakan di Mile 69
* Dana Bantuan Rp 68 M Untuk Yahukimo Diminta Diaudit
* Keterlambatan Dana Otsus Mulai Dikeluhkan
* Kisah Putra Papua Asal Paniai yang Berhasil Menjadi Pilot (2)
* Perluas Wawasan, Generasi Muda Harus Banyak Membaca
* Masih di Bawah Standar

---

http://www.indomedia.com/bpost/092006/4/depan/utama3.htm

Pendatang Ngungsi Ke Luar Timika



Mimika, BPost
Kota Kwamki Lama, Timika, Papua, masih mencekam. Dua suku asli yang
bertikai, Minggu (3/9), masing-masing tetap bersiaga

dengan senjata terhunus.

Kondisi itu memaksa aparat kepolisian dibantu TNI menjaga ketat sejumlah
titik dan pintu masuk di Kota Kwamki.

Puluhan warga pendatang di Pasar Kwamki Lama terpaksa mengungsi khawatir
terjadi kembali perang antarsuku.

Mereka mengaku takut kalau toko atau kedai mereka dibakar. Meski seituasi
Kota Timika normal namun sejak Sabtu (2/9) malam

berstatus Siaga I.

Sedikitnya, 11 orang tewas dan ratusan orang luka-luka dalam perang yang
sudah berjalan seminggu ini. Berbagai upaya

perdamaian sudah dilakukan, baik oleh kepolisian dengan dukungan
tokoh-tokoh agama, adat dan masyarakat. Sesekali pertikaian

ini berhenti. Tetapi kembali berkobar lebih dahsyat.

Terakhir perang antar-suku di Kwamki Lama kembali pecah, Jumat lalu.
Perang mengakibatkan dua orang tewas, 21 orang mengalami

luka berat, 26 luka sedang dan 38 orang luka ringan.

Kemarin, satu satuan kompi Brimob yang di-BKO-kan dari Sorong dan
Jayapura, tiba di Timika. Mereka akan menjaga keamanan di

wilayah konflik Kwamki Lama dan Kota Timika.

Pasukan tambahan itu dikerahkan menyusul kian gentingnya perang suku di
Kwamki Lama, Papua.

Selain menjaga keamanan, pasukan Brimob akan bertugas merazia senjata
perang tradisional berupa panah dan senjata tajam

lainnya bila perang masih terjadi.

Aparat TNI dari Kavaleri Detasemen 3 Timika disiagakan di titik poin Kuala
Kencana dan jalan masuk ke mil 32.

Sementara informasi diperoleh beberapa jam lalu, dua truk dibakar di mil
74. Namun hingga kini belum ada penjelasan resmi

dari aparat kepolisian tentang insiden tersebut.

Perusakan

Perang antarsuku di Kwamki Lama, Mimika, merembet pada perusakan gedung
DPRD dan aula pertemuan milik pemerintah setempat.

Jendela kaca dan pintu gedung berantakan terkena lemparan baru. Papan nama
yang terpampang di dua gedung dirobohkan.

Perusakan dipicu kemarahan Suku Mee menyusul Herman Dimi, satu dari Suku
Mee terkena panah. Pelakunya diduga kelompok

bertikai, yaitu Suku Damal dan Suku Dani.

Menurut catatan BPost, perang saudara di Mimika bermula peristiwa
tenggelamnya seorang bocah di sungai yang berada di kawasan

pemukiman eks-transmigrasi (Satuan Pemukiman 13) Timika.

Pihak keluarga bocah yang meninggal terlibat pertengkaran serius, karena
di antara mereka menduga kematian bocah itu tak

wajar.

Percekcokan di antara keluarga dari suku berbeda itu pun memanas dan
meluas sampai ke lingkungan keluarga suku masing-masing

di Kampung Kwamki Lama, Distrik Mimika Baru, Mimika, yang akhirnya memicu
aksi saling serang. ant/mtv/k

---

CENDRAWASIH POS

Rabu, 06 September 2006

Perang Berlanjut, 1 Tewas



TIMIKA-Korban perang saudara yang masih berlanjut di Kwamki Lama kembali
berjatuhan. Selasa (5/9) kemarin, seorang warga kubu

tengah, Noakam Tugubal, tewas setelah sempat kritis akibat diterjang panah
kubu atas. Korban dinyatakan tewas pukul 16.00

WIT, dan menurut kabar tadi malam jenazahnya telah dibakar.

Data yang dihimpun Radar Timika (Grup Cenderawasih Pos) dari polisi
menyebutkan sekitar 12 warga yang menderita luka-luka

dievakuasi ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) untuk mendapat perawatan.

Selasa kemarin, perang terjadi dua kali antara kubu tengah dan kubu atas
di lokasi Jalur Sosial dan Jalur IV, Kwamki Lama.

Perang pertama terjadi pukul 07.00 hingga pukul 12.30 WIT. Setelah
beristirahat, perang dilanjutkan pukul 16.00 WIT hingga

pukul 17.30 WIT.

Saat massa beristirahat itulah aparat gabungan Dalmas Polres Mimika,
Brimob Detasemen B Polda Papua serta pasukan TNI,

melakukan barikade di batas lokasi perang di Jalur Sosial, Kwamki Lama.
Akibatnya massa Kubu Tengah terkonsentrasi di Jalur

IV untuk meladeni serangan kubu atas.

Menurut data lapangan, perang kemarin terjadi akibat massa kubu atas
menyerang kubu tengah. Selain laki-laki, para orang tua,

anak-anak dan ibu-ibu, ikut ambil bagian dengan memikul tameng berupa
seng, triplek dan lainnya.

Sebenarnya sebagian ibu-ibu dari kubu tengah sudah tidak menghendaki
perang lagi. Namun mereka terpaksa meladeni karena

diserang duluan. "Mereka jual kita beli," kata salah seorang ibu kubu
tengah yang tidak mau disebutkan namanya, kemarin.

Perang kemarin terjadi dalam jarak hanya sekitar 10-15 meter melibatkan
ratusan orang dari kedua belah pihak. Bahkan massa

kedua kubu sesekali memasuki tapal batas kubu lawan.

Belum diketahui pasti penyebab perang kemarin, namun diduga akibat
tewasnya Rek Murib pasca digelarnya razia senjata tajam di

kubu tengah Senin (4/9) lalu. Massa kubu atas menuntut perang kembali
karena kematian Rek Murib.

Ratusan massa yang beringas mengamuk menggunakan busur dan panah.
Akibatnya aparat keamanan yang berjumlah 250 personil tidak

bisa membendung. Aparat keamanan yang jumlahnya jauh lebih sedikit
terlihat tidak bisa menghentikan perang itu.

Bahkan Danrem 171/ PVT Sorong, Kolonel Suyatno bersama Kapolres AKBP
Jantje Jimmy Tuilan, Dandim Mimika Letkol Inf. Try

Soeseno serta Kaden B Brimob, Kompol Abu Bakar Tertusi hanya bisa
menyaksikan dari jarak jauh.

Setelah perang berakhir sore kemarin, barikade aparat keamanan di Jalur IV
Kwamki lama tetap disiagakan. "Meskipun perang

berlanjut setelah berbagai upaya dilakukan, pihak aparat masih terus
melakukan pendekatan persuasif serta tindakan tegas

melakukan razia sajam di beberapa wilayah Kota Timika dan sekitarnya,"
kata Kapolres Mimika yang dikonfirmasi Radar Timika di

Kwamki Lama, Selasa (5/9).

Seperti terlihat kemarin, sweeping sajam dilakukan di pertigaan jalan dari
Kampung Karang Senang (SP III) menuju Kwamki Lama

dan check point 1 mile 28. "Aparat mengamankan ratusan busur dan panah,
kampak, parang dan pisau milik warga," kata Kapolres

Jimmy Tuilan.

Kapolda Pimpin Rapat Tertutup di Hotel Sheraton

Sementara itu, Kapolda Provinsi Papua, Irjen Pol. Drs. Tomy Yacobus Selasa
(5/9) pagi sekitar pukul 09.30 WIT memimpin rapat

tertutup di Hotel Sheraton yang dihadiri para perwira dari Polda Papua,
Polres Mimika dan dari Detasemen 88 Brimob. Hadir

dalam rapat tersebut antara lain, Wakapolda Papua, Brigjen Pol. Donald
Aer, Direktur Reksrim Polda Papua, Kombes Paulus

Waterpauw, Kapolres Mimika, AKBP Jantje Jimmy Tuilan, SE dan para perwira
serta para Kapolsek.

Rapat tertutup tersebut dikabarkan membahas sejumlah langkah dalam
penanganan konflik yang ada di Kwamki Lama pasca pecahnya

kembali perang antara kubu tersebut.

Kapolda Irjen Pol. Drs. Tommy Yacobus yang dikonfirmasi Radar Timika
mengenai topik yang dibicarakan belum bisa berkomentar

lebih jauh, termasuk penanganan berbagai kasus yang muncul selama
timbulnya perang mulai dari pengrusakan di Gedung DPRD

Mimika dan Graha Eme Neme Yauware Timika Indah, aksi penururan bendera,
serta penembakan terhadap warga Rek Murib. Kata

Kapolda dirinya saat ini masih mengumpulkan data dan sedang
mempelajarinya, sehingga bisa memahami secara menyeluruh baru

bisa dijelaskan katanya singkat.

Sementara itu sweeping terhadap semua kenderaan yang masuk dan keluar dari
Kwamki Lama masih tetap berlangsung. Bundaran

Check Point Mile-28 ramai oleh petugas yang berjaga-jaga. Setiap kali ada
kenderaan yang melintas di pintu masuk tersebut

langsung digeledah baik orang per orang maupun di dalam mobil bahkan di
dalam bagasi sepeda motor dan mobil.

Situasi Kota Timika hingga sore hari, tampak ramai seperti biasa apalagi
dengan adanya pembagian dana BLT di Kantor Pos

Timika. Aktifitas warga di Pasar Swadaya juga berjalan, seperti biasa
meski tidak terlalu ramai. Patroli motor dari Polres

Mimika tampak berkeliling di sekitar Kota Timika untuk memantau situasi
keamanan. Kantor-kantor beraktifitas seperti biasa.

Bupati Himbau Warga Jangan Terprovokasi

Bupati Kabupaten Mimika Klemen Tinal, SE,MM menghimbau semua warga yang
ada di Kabupaten Mimika untuk tetap tenang dan

waspada meski saat ini sedang ada berbagai situasi konflik di Kwamki Lama.

Warga juga diminta untuk tidak mudah terpancing oleh issu-issu yang tidak
benar. Hal itu dikatakannya dalam acara peletakan

batu pembangunan Pura Mandhira Mihika Madaloka Timika di Kampung Wonosari
Jaya SP IV Dsitrik Mimika Baru dihadapan umat Hindu

Timika.

Kata Klemen Tinal saat ini masyarakat yang ada di Kabupaten Mimika
khususnya di Kwamki Lama sedang dalam proses perubahan

menuju ke suatu paradigma baru menuju ke perbaikn tatanan kehidupan yang
lebih baik sehingga meski adanya konflik antar kedua

kubu semua warga diharapkan tetap tenang. Pendekatan yang dilakukan oleh
pihak keamanan saat ini memang masih sangat

persuasif dan dengan mengutamakan pendekatan budaya sebab dengan banyaknya
budaya dan ragam bahasa, sebab tentu untuk

mendekati mereka dengan kekerasan akan terbentur dengan mereka
terangnya.(vis/sas

---

CENDRAWASIH POS

Rabu, 06 September 2006



Kompi E 752 Dibangun di Teluk Bintuni

Manokwari- Kompi E 752 di bangun di Kabupaten Teluk Bintuni diatas tanah
seluas 12 hektar. Selain membangun gedung untuk

fasilitas kantor juga akan dibangun gudang senjata dan perumahan bagi
anggota. Pembangunannya sudah mulai dengan pembersihan

lokasi.

Danramil 1703-05 Kabupaten Teluk Bintuni Kapten Inf Gito ketika
dikonfirmasi wartawan mengatakan pembangunan kompi E 752

tahun ini juga dikerjakan. Pekerjaan sudah dimulai dengan pembersihan
lokasi yang juga akan memakan waktu. Sebab lokasi yang

jaraknya sekitar 5 km dari ibukota

tersebut banyak ditumbuhi pohon-pohon yang berukuran besar. "Seperti yang
bapak lihat sendiri, pembangunan sudah mulai dengan

membersihkan lokasi,"tuturnya.

Dari 12 hektar lahan yang disediakan yang dibersihkan

bari dibagian depan dekat jalan poros menuju distrik Moskona. Rencananya
dibagian depan akan dibangun kantor. Pembangunan

gedung akan dilaksanakan secara bertahap. Namun, direncanakan tahun 2006
ini juga sudah ada bangunan yang berdiri.

Pembangunan akan terus dilakukan secara bertahap hingga selesai secara
keseluruhan. Untuk mempercepat proses pembangunan akan

dilakukan kerja sama dengan pemerintah daerah.

Sedangkan untuk personil Danramil mengatakan biasanya dalam satu kompi
berjumlah 140 personil. Namun jumlah personil tersebut

lanjut Danramil juga tidak akan sekaligus. Baik fisik maupun non fisik
akan dilakukan secara bertahap. Untuk membangun

sekaligus membutuhkan dana yang cukup banyak. "Pokokonya pembangunannya
akan berlangsung bertahap baik gedung maupun

personil,"tuturnya.

Lokasi pembangunan tersebut cukup strategis. Selain berada di pinggir
jalan utama juga jaraknya dengan Kota Bintuni cukup

dekat dan mudah ditempuh.(sr)

---


http://www.gatra.com/artikel.php?id=97670


Pemkab Asmat Bangun Bandara Internasional

Jayapura, 7 September 2006 11:06
Pemerintah Kabupaten Asmat, Papua, mulai tahun anggaran 2007
mengalokasikan dana untuk pembangunan Bandar Udara (Bandara)

Internasional di Kampung Suru-Suru, Distrik Sawa Erma.

Pembangunan bandara itu untuk menarik minat wisatawan mancanegara maupun
dalam negeri untuk mengunjungi obyek pariwisata di

kawasan Asmat.

Bupati Kabupaten Asmat, Yuvensius Biakay,BA kepada ANTARA di Jayapura,
Kamis mengatakan Bandara tersebut menurut rencana akan

dinamakan Bandara Internasional Michael Rockefelen.

Michael Rockelefen adalah antroplog pertama asal Amerika Serikat (AS) yang
menurunkan sejumlah tulisan dalam penelitiannya

tentang karakteristik budaya Asmat pertama di dunia internasional tahun 1907.

Tulisan Michael antara lain menyatakan tentang Asmat, Papua yang terkenal
di dunia internasional sekalipun berada di wilayah

yang terpencil.

Biakay yang juga seorang tokoh yang memperkenalkan budaya Asmat di dalam
negeri dan dunia internasional menyatakan akan

berupaya menarik minat wisatawan mancanegara dan dalam negeri untuk
mengenal kebudayaan Asmat.

Asmat dikenal dengan kerajinan ukiran dan tarian khasnya. Ukiran Asmat
pernah dipamerkan di museum Universitas Leyden,

Belanda.

Nama Asmat, kata Biakay, kembali dikenal ketika dibangun sebuah museum di
Agats, ibukota Kabupaten Asmat tahun 1981 yang

menyimpan sejumlah misteri kehidupan suku asli dan ukirannya sehingga
Asmat kembali dikenal di belahan dunia.

Biakay mengatakan, untuk mempromosikan Asmat, maka tanggal 7-13 September
2006 akan diselenggarakan festival budaya Asmat.

Festival budaya Asmat menurut rencana dihadiri para pemerhati budaya Asmat
dari mancanegara antara lain dari New York,

Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Belanda, Australia, Selandia Baru dan
beberapa negara di Asia seperti Jepang, Korea, RRC,

Singapura, Filipina dan Timur Tengah serta Afrika. [TMA, Ant]

---

Tim Pansus Freeport ke AS Dan Australia, Tak Tepat

  Pieter Ell: Freeport Urusan Antara Negara, Bukan Provinsi
  JAYAPURA-Rencana Tim Pansus Freeport DPRP ke New Orleans (USA) dan
Australia guna menindaklanjuti aspirasi rakyat soal

penutupan Freeport, terus menuai kritik. Kritik itu tidak hanya datang
dari sesama anggota dewan sendiri, tetapi juga dari

kalangan LSM.

  Direktur Kontras Papua Pieter Ell, SH misalnya. Ia menilai rencana
keberangkan Tim Pansus Freeport ke USA dan Australia itu

kurang tepat, bahkan terkesan membuang-buang anggaran, karena tidak akan
menyelesaian persoalan yang mengemuka selama ini.
  Ia yang juga sebagai salah satu aktivis LSM yang terus memperhatikan
seputar persoalan yang mengemuka di PT Freeport

belakangan ini, menilai masalah Freeport adalah masalah urusan negara
dengan negara. Bukan negara dengan provinsi, sehingga

tidak tepat langsung mencapuri masalah peninjauan kontrak karya tersebut.
"Jadi harus dipamahi dulu di sini, bahwa masalah

Freeport adalah urusan negara dengan negara. Sehingga tidak tepat kalau
Pansus DPRP akan berkunjung ke Amerika Serikat dan

Australia karena itu hanya sia-sia," ujarnya kepada Cenderawasih Pos,
kemarin.

  Menurutnya, pembentukan Pansus untuk PT Freeport ini juga dilakukan oleh
DPR RI, bahkan DPD RI. Sehingga ia menyarankan

bahwa yang perlu dilakukan adalah koordinasi ke pemerintah pusat, karena
masalah PT Freeport kontrak karyanya ditangangani

atas nama negara.

  "Kasus ini memang menarik perhatian masyarakat, tidak hanya di kalangan
masyarakat Papua, namun Indonesia, bahkan dunia

Internasional karena telah menimbulkan korban di masyarakat sipil dan
aparat. Karenanya, persoalan ini harus dilihat baik dan

tidak tepat jika DPRP yang ke sana. Itu hanya terkesan jalan-jalan,"
paparnya.

  Dikatakan, jika Pansus DPRP tetap ngotot ke AS dan Australia, maka
sebelum berangkat perlu ada penjelasan kepada masyarakat

kegunaan kunjungan itu, dan sejauh mana dampaknya terhadap penyelesaian
tuntutan masyarakat, juga akan seperti apa. Sementara

anggaran yang digunakan ke AS dan Australia itu jumlahnya meliaran rupiah.

  "Saya juga tahu pasti kalau DPR RI juga membentuk Pansus tentang
persoalan yang terjadi di Freeport ini. Bahkan di DPD RI

ikut membahas hal ini. Tapi solusi yang tepat sampai saat ini juga belum
ada,' katanya.

  Pengacara ternama di Papua ini juga mengatakan bahwa studi banding yang
sering kali dilakukan legislatif termasuk DPRP,

tidak pernah ada dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Tentang
bagaimana azas mamfaatnya secara langsung, namun terkesan

kurang transparan dan tidak ditindaklanjuti setelah kembali. Belum
diketahui pasti berapa anggaran yang akan dihabiskan tim

Pansus Freeport ke USA dan Australia, namun dari bocoran yang didapat
Cenderawasih Pos anggaran yang akan digunakan Pansus

DPRP untuk Freeport ke Australia dan AS itu jumlahnya sekitar Rp 5
miliar.(ito)

---

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0609/02/nas09.html





Sinar Harapa, Sabtu, 02  September  2006


N A S I O N A L



Dewi Fortuna Anwar

Sejarah Papua Adalah Sejarah Indonesia

Pengantar

Prof Dr Dewi Fortuna Anwar, deputi bidang ilmu pengetahuan sosial dan
kemanusiaan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

(LIPI) berbicara mengenai Papua. Australia merasa tidak punya aspirasi
mendukung kemerdekaan atau pemisahan Papua dari

Indonesia. Sebaliknya orang Indonesia suka tidak percaya juga bahwa
Australia tidak mendukung karena banyak Lembaga Swadaya

Masyarakat (LSM) di sana mendukung gerakan-gerakan pemisahan Papua.

Di tengah-tengah kerancuan itu Dewi mengeluarkan satu poin yang sangat
penting, yaitu sejarah Irian Barat adalah sejarah

Republik Indonesia.



Bisakah Anda jelaskan mengenai perbedaan sikap soal Irian, Timor, dan Aceh?

Bagi rakyat Indonesia dan Negara Republik

Indonesia, dua wilayah yang sering bermasalah yaitu Aceh dan Papua dari
awal sudah merupakan bagian tidak terpisahkan dari

Republik Indonesia. Jadi sejak kita memperjuangkan kemerdekaan Republik
Indonesia dari penjajahan Belanda, wilayah RI itu

bagian paling baratnya adalah Aceh dan bagian paling timur adalah Irian
Barat. Itu memang merupakan bagian yang dianggap

warisan dari Hindia Belanda. Sedangkan sejarah Timor Timur berbeda.



Dalam keputusan Konferensi Meja Bundar, apakah ada kesangsian soal Irian
Barat?
Indonesia tidak pernah meragukan bahwa

Indonesia berhak terhadap Irian Barat karena kita berprinsip bahwa
Indonesia itu tidak lebih dan tidak kurang daripada bekas

wilayah Hindia Belanda, dan Irian Barat itu adalah bagian dari Hindia
Belanda.

Bagaimana end of free choice tersebut?
Jadi isu

Irian dibawa ke meja perundingan di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Indonesia kalah. Hal itu memicu kemarahan di Indonesia

sehingga akhirnya posisi kelompok Administrator menjadi terpinggirkan.

Apakah itu maksudnya posisi kelompok Administrator

menjadi lemah?
Iya, dan karena kekecewaan dengan upaya damai tersebut maka muncullah
gerakan nasionalisasi terhadap aset-aset

Belanda. Jadi kita anti-Belanda. Ini dampaknya tidak sedikit, tidak
sekadar nasionalisasi.

Dari sini sebenarnya mulai aktualisasi dari dwifungsi Angkatan Bersenjata
Republik Indonesia (ABRI).

Jadi ABRI untung dong

dengan kalahnya Indonesia di PBB ?
Betul. Jadi masalah masuknya tentara ke sektor bisnis mulai dari sini. Itu
juga karena

waktu itu sebagian besar perkebunan dan perusahaannya ada di luar Jawa
sehingga dikontrollah oleh tentara.
Apakah AS tulus

mendukung Indonesia dalam memperjuangkan Irian?
Di dalam hubungan internasional masalah ketulusan itu tidak ada. Itu masalah

kepentingan.

Waktu itu untuk menyelenggarakan operasi militer seperti yang dilakukan
Yos Sudarso?
Jadi dalam hal ini bisa

dikatakan sejarah Irian Barat adalah sejarah Republik Indonesia. Sejarah
politik domestik seperti bagaimana semakin

terpinggirkannya kelompok Administrator, semakin munculnya kelompok
solidarity maker, dan bagaimana isu Irian bisa dijadikan

untuk mengimbau massa oleh kelompok PKI.

Partai Komunis itu paling jago memobilisasi massa secara besar dan isu
yang demikian inilah yang mampu meningkatkan emosi

nasional massa waktu itu.
Bagaimana tafsiran Anda terhadap posisi Australia mengenai Papua?
Australia dulu berusaha membeli

papua dari Belanda karena Australia takut musuh dari Utara seperti Jepang
dan sebagainya bisa masuk dari Papua untuk akhirnya

mendarat di Australia seperti terjadi pada waktu perang dunia kedua.
Jadi ini masalah strategis juga. Tapi belakangan

posisinya berbeda. Nah dalam hal ini sekarang situasi berubah. Australia
mengatakan menghormati integritas wilayah Indonesia.

Celah itu ada atau tidak di Indonesia?


Nah, celah inilah yang selalu menjadi perhatian. Saya kira semua mengakui
dan harus jujur mengakui bahwa pembangunan selama

ini lebih terfokus di wilayah Barat karena wilayah Papua ini memang
lokasinya jauh dari Jakarta.

Dibandingkan kedua wilayah

itu, apakah Papua sekarang termasuk lebih Ok atau lebih mengkhawatirkan?
Begini, ada orang yang mengatakan bahwa Aceh ini

waktu dulu dapat ditangani, it was big, tetapi still manageable karena
tidak ada isu rasial dan tidak ada isu agama. Nah,

masalah Papua ini masih manageable juga karena manusianya lebih sedikit,
orangnya lebih terpencar-pencar, tetapi its really

unsolvedable (susah untuk diselesaikan) karena ada isu etnisitas, isu
agama. Jadi akan selalu ada perasaan diskriminasi dan

sebagainya. n




Copyright © Sinar Harapan 2003

---

(KI: Yang berikutnya adalah laporan/kumpulan berita oleh Elsham News Service)

http://www.kapanlagi.com/h/0000132540.html



Polda Papua Kirim Tim Selidiki Penembakan di Mile 69 Tembagapura



Kapanlagi.com - Kepolisian daerah Papua mengirim tim untuk menyelidiki
kasus penembakan yang terjadi Minggu dini hari sekitar pukul 01.00 WIT
di ruas jalan Mile 69, Tembagapura, oleh kelompok tak dikenal.



Waka Polda Papua, Brigjen Pol Max D Aer ketika dihubungi ANTARA, Minggu,
mengemukakan, pihaknya telah mengirim tim untuk menyelidiki kasus
penembakan yang terjadi di areal penambangan PT Freeport.



Penembakan yang terjadi Minggu dini hari itu tidak menimbulkan korban
jiwa, namun dua kendaraan milik perusahaan, salah satunya kendaraan
milik security PT Freeport, lubang akibat terkena tembakan.



Selain mengirim tim ke Timika, Satgas Amole dari Brimob yang melakukan
pengamanan di objek vital nasional itu, saat ini juga masih melakukan
penyisiran, di sekitar lokasi penembakan. Kanan-kiri ruas jalan mile 69
sendiri berupa jurang yang curam.



Menurutnya, hingga saat ini pihaknya belum mengetahui jenis senjata yang
digunakan walaupun dari TKP telah ditemukan tujuh selongsong peluru.



"Kami belum dapat memastikan jenis senjata yang digunakan penyerang,"
tegas Brigjen Pol Max D Aer.



Kwamki Lama Kondusif

Sementara itu Kapolres Mimika, AKBP Jimmy Tuilan ketika ditanya situasi
terakhir di Kwamki Lama yang sejak Jumat (01/09) terjadi perang antar
suku, mengatakan, saat ini situasinya relatife kondusif karena ke dua
kelompok yang berperang lebih memilih melakukan aktifitas keagamaan.



Walaupun demikian, kata AKBP Tuilan, "kami tetap waspada dengan
menempatkan anggota di kawasan tersebut khususnya di perbatasan antara
kedua kelompok suku yang bertikai."



Menurutnya, selain menempatkan pasukan, pihaknya juga akan melakukan
sweeping terhadap masyarakat yang membawa alat perang tradisional
seperti panah, busur, parang dan lainnya.



Namun sebelum itu dilakukan, maka melalui tokoh agama pihaknya mengimbau
agar mereka tidak membawa-bawa alat perang, harap AKBP Jimmy Tuilan.
(*/lpk)

---

http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=110506

Minggu, 03 September 2006 17:13 WIB

NUSANTARA - Maluku - Irian Jaya



Kendaraan Freeport Ditembaki

Penulis: MY Koroh



JAYAPURA--MIOL: Kendaraan berat milik PT Freeport Indonesia di Timika,
Kabupaten Mimika, Papua ditembak orang tak dikenal di sekitar Mil 69.
Tidak ada korban dalam peristiwa yang berlangsung Minggu (3/9) dinihari
tersebut.



Menurut Kepala Bidang Humas Polda Papua, Komisaris Besar, Kartono
Wangsadisastra peristiwa penembakan itu langsung dilaporkan kepada
Sekuriti Freeport.



"Namun ketika pihak Sekuriti Freeport datang ke tempat kejadian
kendaraan yang mereka gunakan juga ditembaki oleh orang yang belum
dikenal," ungkapnya.



Dia menjelaskan, dari hasil pengecekan sementara tembakan diduga berasal
dari arah jurang sebelah jalan dan pelakunya diperkirakan lebih dari
satu orang.



"Kami masih melakukan penyelidikan sehingga belum bisa diketahui siapa
pelakunya dan apa motif dibalik kejadian penembakan itu," jelasnya.



Sementara itu, menurut sebuah sumber pagi tadi sedikitnya 203 personil
Brimob dari Jayapura dan Sorong tiba di Bandara Internasional Moses
Kilangin Timika.



Menurut sumber tersebut, dua kompi pasukan Brimob ini akan ditempatkan
pada beberapa titik rawan di kawasan yang menjadi medan perang antar
warga suku, yakni di wilayah Kampung Kwamki Lama Atas, Tengah dan
Bawah.(MY/OL-06)

---

http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=110528

Minggu, 03 September 2006 20:05 WIB

NUSANTARA - Maluku - Irian Jaya



Polda Papua Periksa Empat Saksi Kasus Penembakan



JAYAPURA--MIOL: Tim penyidik Polda Papua yang dipimpin Direktur Reserse
dan Kriminal, Kombes. Paulus Waterpauw saat ini telah memeriksa dan
meminta keterangan dari empat orang saksi sehubungan kasus penembakan
yang terjadi di ruas jalan mile 69, Tembagapura, Minggu (3/9).



Wakapolda Papua, Brigjen Pol.Max D Aer mengakui saat ini pihaknya telah
memintai keterangan dari empat orang saksi, dua diantaranya sopir. Kedua
sopir yang telah dimintai keterangan itu adalah JT (sopir/operator
grader), dan KS sopir mobil security milik PT Freeport.



Menurutnya, pihaknya juga sedang mencari tahu kenapa mobil sekuriti saat
dioperasikan malam itu tanpa dikawal anggota satgas pam (Brimob).



"Itu diluar ketentuan yang selama ini berlaku di kawasan penambangan PT
Freeport, dimana seharusnya mobil sekuriti itu harus selalu di kawal,"
kata Max D Aer.



Sementara itu Paulus Waterpauw, yang mengatakan, empat orang saksi yang
sudah dimintai keterangan masing-masing JT operator grader, KS supir
mobil security, dan ES komandan regu sekuriti (penumpang) serta Y
petugas penjaga terowongan.



Dikatakan dari hasil pemeriksaan sementara belum dapat diambil
kesimpulan karena keterangan yang diberikan mereka berbeda-beda termasuk
bunyi tembakan dan waktu kejadian.



Karena itu kata Waterpauw pihaknya masih akan terus mendalami dan
mengungkap kasus tersebut. Ditambahkan, kasus penembakan yang diduga
dilakukan dua orang diperkirakan setelah menyerang kedua kendaraan yang
lewat di ruas jalan tersebut kemudian melarikan diri dengan mengikuti
jalan tradisional yang biasa digunakan masyarakat dari Mulia (Kab.
Puncak Jaya) menuju Tembagapura dan Banti, salah satu kampung yang
berada di kawasan operasi PT Freeport.



Anggota Brimob hanya menemukan jejak kaki di sekitar lokasi. Peristiwa
penembakan Minggu dini hari itu tidak menimbulkan korban jiwa.
(Ant/OL-06)

---

Harian Cenderwasih Pos, 04 September 2006



MRP Kirim Utusan ke Timika



JAYAPURA- Meletusnya kembali perang saudara di Timika yang memakan
korban jiwa lebih banyak dari perang saudara sebelumnya, ternyata
mengundang pertanyaan dari Wakil Ketua II Majelis Rakyat Papua (MRP),
Dra Hana Hikoyabi. Ia bahkan menduga merebaknya perang saudara di Timika
itu, kemungkinan disebabkan orang ketiga atau ada orang yang sengaja
memprovokasi.



"Saya prihatin, kok bisa terjadi seperti ini, padahal masa untuk orang
berperang antar suku satu dengan suku lainnya sudah lama berlalu. Kini
masanya orang hidup damai untuk berkarya dan membangun. Namun, yang
terjadi di Timika ini, saya sendiri tidak mengerti, apakah ada yang
memprovokasi?" ujar Hana dengan nada tanya saat diwawancarai
Cenderawasih Pos, di sela-sela peresmian Taman Bacaan Masyarakat, di
Kampung Waya Distrik Depapre, Sabtu ( 2/9 ) lalu.



Dikatakan Hana Hikoyabi, bahwa untuk mengetahui penyebab atau latar
belakang timbulnya perang saudara di Timika ini, MRP sudah mengirim 2
orang ke sana. Kedua utusan MRP ke Timika masing-masing Adolof Kogoya
dan Alfius W, yang diharapkan bisa melihat dari dekat, menganalisa dan
mencari solusi terbaik untuk memecahkan persoalan perang saudara itu.



"Persoalan ini, memang perlu dikaji dengan baik, kalau ini murni karena
persoalan pribadi, yang menyangkut adat isti adat masyarakat setempat
yang sudah turun temurun, dimana untuk mempertahankan sesuatu yang
menjadi miliknya dari tangan orang lain, atau menjaga harga diri mereka
dari kelompok lain, mereka harus berperang dengan menggunakan senjata
tajam, baik berupa anak panah, kampak, parang , pisau atau senjata tajam
lainnya,"katanya.



Namun kalau tidak murni lanjutnya, seperti ada orang yang memprovokasi
agar kedua suku bisa berperang, maka inilah yang dikhawatirkan dan jadi
pertanyaan.



Hana yang juga Ketua Yayasan Lembaga Pelayanan dan Pemberdayaan Anak
Papua ( YLP2AP ) ini, mengatakaan, bahwa secara umum di Papua, memang
memiliki budaya dan adat istiadat yang berbeda-beda. Ada yang
menyelesaikan suatu perkara dengan cara damai tanpa perang, namun ada
yang menyelesaikan suatu perkara dengan cara berperang, dan siapa yang
menang, dialah yang berkuasa.



Adat istiadat ini yang harus menjadi tolak ukur, bagi kita untuk melihat
bersama, apa sebenarnya yang harus di perbaiki dan diluruskan.



"Saya berharap, agar Pemerintah setempat, baik Eksekutif maupun
Legislatif dan pihak Kepolisian, untuk mengajak pihak adat, dalam hal
ini Dewan Adat setempat maupun Tokoh Agama untuk duduk bersama, dan
membicarakan apa yang seharusnya dilakukan, agar tidak lagi terjadi
hal-hal yang mengorbankan jiwa manusia," tandas Hana Hikoyabi.



Persoalan ini juga, lanjut Hana, kiranya tidak hanya menjadi tanggung
jawab aparat kepolisian, tetapi kiranya harus menjadi perhatian kita
semua di Tanah Papua ini, baik Pemerintah Provinsi Papua, DPRP dan
seluruh masyarakat, agar mendorong terciptanya situasi keamanan yang
kondusif di Timika dan sekitarnya. (yom)


---


Harian Cenderwasih Pos, 04 September 2006



Minggu, Perang Dihentikan

*Warga Pendatang di Kwamki Lama Mulai Mengungsi



TIMIKA- Situasi di Kwamki Lama hari Minggu (3/9) kemarin tenang. Warga
yang bertikai tidak melakukan perang seperti sehari sebelumnya. Penduduk
lainnya umumnya pergi beribadah ke gereja. "Sejak pagi kami tidak
melaksanakan perang. Penghentian perang karena hari Minggu adalah hari
Tuhan," kata David Wandikbo, pemimpin perang kubu tengah yang
dikonfirmasi Radar Timika (Grup Cenderawasih Pos) di Kwamki Lama, Minggu
(3/9).



Kemarin terlihat massa masing-masing kubu berkumpul. Ada yang duduk
sambil meruncingkan anak panah, ada juga yang bercerita satu sama lain.
Meski demikian tampak masih saling berjaga-jaga.



Apakah perang akan dilanjutkan? David Wandikbo mengatakan dirinya belum
tahu. Menurutnya, apabila massa kubu bawah atau kubu atas melakukan
penyerangan atau sebaliknya massa kubu tengah melakukan penyerangan,
maka pasti perang akan terjadi lagi.



Hal yang sama dikatakan salah satu pimpinan perang kubu bawah, Yakobus
Kogoya yang dikonfirmasi Radar Timika di kediamannya di Kwamki Lama.
Menurut Yakobus, sejak Sabtu (2/9) lalu massa dari kubunya sudah
menghentikan perang dengan kubu tengah. Dikatakan Yakobus, sebagian
massa kubu bawah telah bergabung ke kubu atas.



Dari pantauan kemarin, terlihat tidak ada aparat baik dari Polres maupun
Brimob yang ditempatkan di batas lokasi perang antara kubu tengah dan
atas. Aparat mengamankan areal batas kubu tengah dan kubu bawah sekitar
Lapangan Bola Kaki Kwamki Lama. Aparat Brimob Detasemen B terlihat di
Kios Panjang Kwamki Lama.



Sedangkan warga pendatang di Kwamki Lama baik yang bermukim di lokasi
sekitar kubu bawah, atas maupun tengah mulai meninggalkan wilayah itu
untuk mengungsi ada yang berjalan kaki maupun naik kendaraan. Mereka
khawatir bila terjadi perang lanjutan.



Kepala Suku Umum, Abel Degei yang ditemui di Jl Kanguru, mengatakan,
warga banyak yang takut bila perang berlanjut yang diikuti aksi
pencurian barang serta ternak milik warga oleh oknum yang tidak
bertanggungjawab.



Polres Gelar Pasukan

Sementara itu, jajaran Kepolisian Resort Mimika, dipimpin Kabagops
Polres Mimika, Kompol Alfred, SIK mengadakan gelar pasukan guna
persiapan pengamanan di Kota Timika paska terjadinya aksi pengrusakan di
Kantor DPRD Kabupaten Mimika dan Graha Eme Neme Yauware Timika Indah
serta berlanjutnya Perang antar kubu di Kwamki Lama. Gelar pasukan
tersebut dilaksanakan di depan halaman Kepolisian Sektor Mimika Baru.
Gelar pasukan tersebut dihadiri oleh semua semua jajaran Polsek dan KP3
Udara dan Laut serta dari Polairud.



Dalam gelar pasukan tersebut, Kompol Alfred, SIK selaku Kabagops Polres
Mimika menjelaskan sejumlah tugas-tugas masing-masing satuan yang ada di
Polres Mimika terkait masalah pengamanan di beberapa titik di Kota
Timika dan khususnya di Kwamki Lama yang masih konflik. Juga
dijelaskannya bagaimana tindakan yang harus dilakukan oleh para personil
di lapangan dalam rangka menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif.



Kompol Alfred yang ditemui Radar Timika (grup Cenderawasih Pos) di
Polsek Mimika Baru seusai memimpin gelar pasukan tersebut mengatakan,
digelarnya pasukan pada siang kemarin bertujuan untuk koordinasi
pengamanan di Kota Timika dan Kwamki Lama dalam rangka mengembalikan
situasi kota yang aman dan terkendali seperti sebelumnya.



Dalam pengamanan di Timika yang dimulai sejak Minggu (3/9) pasukan akan
ditempatkan di beberapa titik, terutama daerah perang di Kwamki Lama,
dan juga pembagian petugas patroli kota di Timika, pasca terjadinya aksi
pengrusakan dari warga Suku Mee Sabtu (2/9) yang telah merusak Kantor
DPRD Kabupaten Mimika dan Graha Eme Neme Yauware. Untuk pengamanan di
Kantor DPRD kata Alfred tidak ada pengamanan yang ditempatkan, namun
yang memantau situasi di kantor rakyat tersebut adalah pasukan dari
patroli kota, sebab kantor tersebut selain sudah dalam keadaan rusak
parah akibat diamuk massa, satu SSK diturunkan untuk patroli di Kota
Timika terangnya.



Dalam pengamanan di Kota Timika selain menurunkan semua pasukan yang ada
di Polres Mimika dan Brimob, juga dibantu oleh dua Satuan Setingkat
Kompi (SSK) dari unsur TNI guna membantu proses pemulihan keamanan di
Kota Timika.



,"Diturunkannya Dua SSK dari TNI adalah atas surat perintah langsung
dari Pangdam XVII/Trikora ke Timika, dan untuk resminya pengamanan
secara bersama tersebut akan dimulai Senin (4/9) hari ini," jelasnya.



Kapolres Mimika AKBP Jantje Jimmy Tuilan, SE yang dkikonfirmasi melalui
ponselnya Minggu (3/9) mengatakan bahwa semua pasukan yang sudah
disiapkan akan bekerja pada hari Senin (4/9) sejalan dengan akan
diadakannya operasi senjata tajam yang akan dilakukan aparat keamanan.



Operasi sajam akan dilaksanakan di semua wilayah Kabupaten Mimika
khususnya di Kwamki Lama dan di Timika.



,"Kami himbau supaya semua masyarakat yang ada di Kabupaten Mimika bisa
membantu razia sajam tersebut sehingga akan mempercepat proses
penyelesaian perdamaian yang sedang berlangsung dengan cara menyikapi
dengan baik dan mau bekerja sama.



Sementara itu di Kwamki Lama, Detasemen B Brimob Timika juga diturunkan
untuk meredam berlanjutnya perang saudara tersebut. Demikian disampaikan
oleh Komandan Detasemen B Brimob Timika, Kompol Abubakar Tertussy, SIK
yang dihubungi Radar Timika melalui ponselnya Minggu (3/9).



Pemda Mimika Drop 25 Ton Beras

Perang berkepanjangan di Kelurahan Kwamki Lama, Distrik Mimika Baru,
Kabupaten Mimika, Papua, membuat warga setempat tidak bisa melakukan
aktivitas sehari-hari untuk mencari uang buat membeli bahan makanan.



Dalam rangka memenuhi kebutuhan warga setempat, Minggu (3/9) kemarin,
Bupati Mimika membantu secara langsung sekitar 25 ton beras kepada warga
Kwamki Lama yang berpenduduk sekitar 26 ribu jiwa itu.



Seperti pemantauan Radar Timika (grup Cenderawasih Pos), bantuan beras
disalurkan pada 17 titik di wilayah tersebut. Beras didrop sejak sekitar
pukul 15.00 WIT menggunakan lima buah truk yang dimobilisasi pasukan TNI
untuk menyalurkannya kepada warga.



Kepala Distrik Mimika Baru, James N. Sumigar, S.Sos didampingi Staf Ahli
Bupati Mimika Bidang Sosial, Simon Noro, SE kemarin memantau langsung
penyaluran bahan makanan tersebut. Ditemui Radar Timika di Kwamki Lama
kemarin sore, James Sumigar, mengatakan, batuan yang diberikan Bupati
Mimika itu bukan untuk perang. "Jangan salah arti. Perlu diketahui
bantuan yang diberikan ini adalah bentuk dari keprihatinan Bupati
Mimika," kata James.

---

Graha Eme Neme Pecah 108 Kaca

Akibat dilempari ratusan orang yang tidak bertanggung jawab (2/9)
kemarin, hampir semua kaca yang terdapat di Graha Eme Neme Yauware pecah
berserakan, Minggu (3/9).



Pintu utama gedung terlihat paling parah, semua kaca yang ada di bagian
depan tidak ada yang utuh, baik di bagian bawah maupun atas. Serpihan
kaca yang berserakan di dalam maupun luar gedung masih jelas terlihat
lantaran belum dibersihkan.



Menurut perhitungan penjaga gedung tersebut, Michael Suripaty (44),
paling tidak terdapat 108 kaca gedung tersebut yang pecah terkena
lemparan batu. Diantaranya 20 kaca bagian depan, 16 kaca pintu belakang
dan 12 kaca pintu samping. Kerusakaan tersebut menimpa di empat sisi
gedung yang berhiaskan dinding kaca.



Lemparan batu bukan hanya dialamatkan pada sejumlah kaca di gedung, kaca
salah satu bus Pemda Mimika DS 5513 MA yang kebetulan diparkir ditempat
tersebut juga menjadi sasaran lemparan batu. Selain kaca salah satu AC
Room dengan maksimal Input 5,4 KW juga terlihat pesok, disamping
patahnya tempat gembok salah satu pintu gerbang gedung tersebut.
Untungnya tidak ada barang dalam gedun gyang dijarah.



"Bukan hanya kaca bagian luar yang rusak, kaca bagian dalam juga ada
yang pecah," kata Michael. Ia menyatakan kerusakan tersebut merupakan
kerusakan paling parah selama dua tahun ia menjadi penjaga gedung
tersebut.



Ia mengaku tidak berada di tempat kejadian karena sedang makan siang
bebarapa ratus meter dar itempat tersebut. Dirinya hanya melihat dari
jauh ketika sekelompok orang datang ketempat tersebut yang masuk ke
dalam kawasan gedung dengan memanjat pagar luar yang ia selalu tutup
sebelum pergi. Saat ditanya taksiran kerugian dari gedung tersebut,
Michael memperkirakan bisa puluhan sampai ratusan juta, sebab diantara
kaca yang pecah ada yang selebar 2x2 meter persegi,a palagi kaca yang
dipakai kaca setebal lima milimeter.



"Saya tentu takut ikut sebagai sasaran, jadi saya cuma melihat bagaimana
gedung lempari," jelasnya menerangkan.



Dirinya juga sangat menyayangkan adanya pelampiasan massa pada
benda-benda yang tidak memiliki salah seperti itu.



Graha Eme Neme Yauware yang diresmikan oleh Presiden Megawati 23 Mei
2004 lalu, selain menjadi salah satu kebanggan kota Timika, karena
merupakan gedung pertemuan terbesar di Kabupaten Mimika. Gedung tersebut
tercatat pernah dipakai sebagai tempat pameran Anggrek Nasional akhir
Juli lalu.(tim Radar Timika).

---

Harian Cenderwasih Pos, 04 September 2006



Mobil TRC Ditembaki di Mile 69

* Sudah Dilaporkan ke Kapolri dan Kapolda



TIMIKA-Satu unit mobil Toyota Land Cruiser yang dikendarai Tim Reaksi
Cepat (TRC) PT Freeport Indonesia (PTFI), dilaporkan ditembaki orang tak
dikenal di sekitar Mile 69, Tembagapura, Minggu (3/9) dinihari sekitar
Pukul 01.45 WIT. Tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.



Demikian data yang dihimpun Radar Timika (Grup Cenderawasih Pos) dari
sejumlah sumber Minggu (3/9) kemarin. Satu dari dua tembakan dilaporkan
mengenai bodi mobil TRC tembus ke Accu (aki). Sedangkan satu tembakan
lainnya mengenai bodi belakang doser greder, alat berat yang dipakai
memperbaiki jalan.



Menurut data polisi, saat itu mobil TRC ditumpangi dua personil security
PTFI, yakni Kurnadi Sukrisna dan Elifas Sapioper (sopir). Mereka sedang
berpatroli menuju Ridge Camp di Mile 72. Sedangkan doser greder
dikendarai Jeferly Turungan, karyawan PT Kuala Pelabuhan Indonesia (PT
KPI) yang sedang memperbaiki jalan.



Kapolres Mimika, AKBP Jantje Jimmy Tuilan, SE yang dikonfirmasi Radar
Timika via telepon selulernya tadi malam, membenarkan peristiwa itu.
Kapolres Jimmy mengatakan, kanan-kiri lokasi kejadian adalah jurang yang
curam. Jalan setapak yang kerap dilalui warga menuju kali kabur baru
ditemukan beberapa meter dari lokasi penembakan.



Kronologis kejadian, kata Kapolres, saat itu mobil tim TRC dari arah
Mile 68 (Kota Tembagapura) menuju Ridge Camp. Sampai di sekitar mile 69,
kedua penumpang mobil terkejut mendengar bunyi letusan senjata. Saat itu
mereka tidak berhenti. Kemudian menyusul satu tembakan lagi yang
mengenai bodi mobil bagian depan.



Kapolres juga mengatakan satu unit doser yang sedang memperbaiki jalan
juga ditembaki pada malam yang gelap gulita itu.



Kronologis kejadian ini masih simpang siur. Pasalnya, keterangan sumber
Radar Timika lainnya semalam, menyebutkan, kendaraan yang pertama
ditembaki adalah doser greder yang dikendarai Jeferly Turungan. Kata
sumber, alat berat ini ditembaki 5 kali tapi yang mengenai bodi greder
hanya sekali.



Sumber juga mengatakan, jarak tembak diperkirakan sekitar 4 meter. Pihak
polisi sendiri telah mengamankan barang bukti berupa dua selongsong
peluru tipe kaliber 6,8 mm.



Olah TKP



Peristiwa itu langsung direspon aparat keamanan di Timika. Kemarin pagi,
Direskrim Polda Papua Kombes Pol. Drs. Paulus Waterpauw, Kapolres Mimika
AKBP Jantje Jimmy Tuilan, SE, Dandim 1710 Mimika Letkol Inf. Tri
Soeseno, serta Tim Resmob, Gegana serta sejumlah penyidik Polres Mimika
langsung menuju lokasi kejadian untuk melaksanakan olah tempat kejadian
perkara (TKP).



Menurut Kapolres Jimmy Tuilan, olah TKP dipimpin langsung Kombes Paulus
Waterpauw. Pada saat itu tim Resmob dan Gegana melakukan penyisiran di
sekitar lokasi kejadian. Namun penyisiran yang dilakukan sejak pagi
hingga sore tidak menemukan tanda-tanda yang bisa menunjukkan pelaku
penembakan.



Kapolres menambahkan kasus ini telah dilaporkan kepada Kapolda Papua dan
Kapolri. Pihaknya masih akan menyelidiki serta mendalami kasus
penembakan tersebut. Dua penumpang mobil dan sopir greder pun sudah
dimintai keterangan, namun menurut Kapolres, pihaknya belum dapat
mengidentifikasi pelaku penembakan. "Karena saat kejadian tidak ada
saksi mata yang melihat," ujarnya. (vis)



Harian Cenderwasih Pos, 04 September 2006

---

Kisah Putra Papua Asal Paniai yang Berhasil Menjadi Pilot

(Bagian 1)



Mecky Frist Nawipa (27), pemuda asal Kabupaten Paniai yang berjuang
keras menjadi pilot, kini benar benar sudah tercapai. Bahkan sekarang
berhasil mengantongi CPL (Comercial Pilot Licence), bagaimana ia bisa
berhasil?

Laporan RAHMATIA, Jayapura



Pepatah bahwa di mana ada kemauan di situ ada jalan, mungkin tepat
ditujukan kepada Mecky Frist Nawipa. Bagaimana tidak, pemuda tanggung
dari keluarga miskin di pedalaman Papua itu datang ke kota hanya
bermodalkan kemauan dan tekad, berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi
pilot. Dia sendiri telah mengantongi CPL suatu licency atau semacam
sertifikat bagi pilot untuk bisa menerbangkan pesawat komersial dari
pusat pendidikan pilot di Lylidale Australia pada 17 Juli 2006.



Mecky adalah alumni SMA Genyem sekarang SMA Negeri 5 Jayapura, pada 1998
dengan modal nekad ia ke Jakarta untuk mengikuti tes masuk sekolah calon
penerbang di Deraya Flying School (Halim Perdanakusumah) tempat latihan
bagi calon penerbang. Di sana ia ingin mengadu nasib dengan 1 tujuan
bagaimana bisa menjadi pilot seperti pilot - pilot yang sering singgah
di kampungnya.



Namun rupanya untuk masuk ke sekolah pilot tak semudah perkiraannya,
karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untungnya kerabat dan
seluruh warga di kampungnya mendukung cita cita Mecky. Untuk bisa masuk
di sekolah calon penerbang itu, kerabat, tetangga hingga teman-teman
Mecky mengumpulkan uang (urunan) sehingga ia bisa masuk ke sekolah itu.
"Saya percaya orang orang di kampung saya semua mendukung saya, akhirnya
dengan uang itu, saya bisa masuk sekolah calon penerbang," kisahnya
ketika ditemui Cenderawsih Pos belum lama ini.



Dua tahun Mecky mengikuti pendidikan di Jakarta, bukan berarti Mecky
sudah bisa menjadi pilot. Hal ini karena ia belum memiliki sejumlah
syarat penerbangan lainnya yang menjadi syarat mutlak setiap penerbang.
Tamat di Deraya Flying School pada 2001 ia kembali ke Jayapura dan
bergabung dengan MAF (mission aviation fellowship). Di sana ia bekerja
sebagai louder, mencuci pesawat bahkan ikut menjadi mekanik.



"Waktu itu saya hanya ingin bekerja dengan baik hingga suatu saat saya
bisa menjadi pilot," kenangnya. Mecky terus bekerja dengan tekun dan
sabar, tidak hanya menjadi louder dan mencuci pesawat dikerjakannya
tetapi juga mencabut rumput serta pekerjaan kasar lainnya.



Kesabaran dan ketekunan Mickey berbuah manis, di tahun 2002 ia diberi
kesempatan mengikuti evaluasi terbang di pusat latihan terbang MAF di MT
Haggen PNG selama 3 minggu. Di sana ia menguji kemampuan menerbangkan
pesawat dan ternyata dinilai cukup baik. Kendati belum diizinkan memakai
nama pilot, namun Mecky tidak kecil hati, ia terus memacu dirinya dan
terus mencari jalan.



Alhasil, di tahun 2004 cita-cita Mickey menjadi pilot terwujud. Ia
dikirim ke Australia untuk mengikuti Private Pilot Licence (PPL) di
Melbourne Australia selama 6 bulan. "Saya mengikuti setiap pelajaran
yang diajarkan kepada saya dengan sungguh-sungguh dan tekun, karena saya
tidak ingin mengecewakan siapapun," kenangnya. Lagi-lagi, meskipun sudah
mengantongi PPL, namun Mecky belum dapat menjadi pilot pesawat komersial
karena ia belum memiliki CPL.



Mecky bisa sekolah di Australia mengikuti PPL tak lain karena Pemda
Paniai yang memahami keinginannya serta tetangga dan kerabatnya. "Saya
bisa mengikuti pendidikan di Australia itu karena bantuan dari
pemerintah serta kerabat dan tetangga," tuturnya. Nasibnya memang bagus,
selanjutnya di awal 2005, kesempatan emas kembali menghampiri Mickey ia
mendapat biaya dari Pemprov Papua (BPMD) dan Pemda Kabupaten Paniai
untuk mengikuti latihan penerbangan bagi pilot komersial di Australia
untuk meraih CPL. Bagaimana kisahnya ketika berjuang meraih CPL itu,
ikuti kisah berikutnya.(bersambung)


---

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0609/05/nus01.html

SH050906





Wagub Papua: Hentikan Saling Bunuh


Oleh Odeodata H Julia


Jayapura &#150;
Wakil Gubernur Papua Alex Hesegem meminta pihak yang
bertikai dan terlibat perang saudara di Mimika agar berhenti berperang
dan

segera berdamai. "Hentikan baku bunuh, hentikan perang, karena itu
akan merugikan kita semua," katanya di hadapan pers, Senin

(4/9).


Namun, ia mengakui memang kurang paham dengan akar persoalan perang suku
yang telah memakan sejumlah korban jiwa

tersebut. Sebaiknya persoalan
ini segera diakhiri dan diselesaikan secara baik-baik antara keluarga
atau suku yang bertikai

dengan cara persaudaraan. Sebab kalau persoalan
itu terus berlanjut, bukan mustahil akan dimanfaatkan oleh orang-orang
tertentu

yang tidak bertanggung jawab sehingga masalahnya bisa semakin
besar dan meluas, bahkan berlarut-larut.


Ia meminta aparat

keamanan atau kepolisian bersikap tegas dan menangkap
mereka yang telah melakukan kekerasan ataupun pembunuhan dan diproses
sesuai hukum yang berlaku.




Di tempat terpisah anggota DPRP, John Manangsang, menawarkan satu solusi
untuk mengatasi perang saudara di Timika. Untuk

menjamin tidak ada lagi
perang saudara, relokasi salah satu dari dua kelompok suku yang bertikai
harus dilakukan.


"Saat ini

bagaimana pemerintah daerah harus berpikir untuk
merelokasi satu dari dua kelompok (kelompok atas dan kelompok bawah)
yang

bertikai di Kwamki Lama," katanya. Perlunya relokasi ini,
lanjutnya, mengingat dua kelompok yang selama ini terlibat dalam
pertingkaian perang saudara itu, hidup dalam satu komunitas lingkungan
tempat tinggal (Kwamki Lama).


Setelah berhasil

merelokasi satu dari dua kelompok yang bertikai ini,
pemerintah melakukan rekonsiliasi yang bersifat hakiki mempertemukan
tokoh-tokoh agama, adat maupun kepala suku dari kedua kelompok yang
bertikai untuk melahirkan satu perjanjian perdamaian yang

tidak bersifat
sementara. Jangan seperti saat ini, ada perjanjian perdamaian, tetapi
perang tetap ada.


Perang saudara di Kwamki

Lama Timika ini bisa saja merupakan sebuah
akumulasi berbagai masalah yang telah berlangsung lama. Untuk itu
langkah awal

sebelum dilakukannya tindakan relokasi hendaknya mencari
tahu apa penyebabnya.


Sekadar diketahui, upaya dialog intern yang

dimotori Pemda Mimika, gagal
dilaksanakan.

Senin (4/9) sore situasi kembali memanas dan mencekam di
Kelurahan Harapan Kwamki Lama, Distrik Mimika Baru, Papua, menyusul
tewasnya warga kubu atas bernama Rek Murib (39). Korban yang adalah
karyawan Freeport ini, meninggal sekitar pukul 15.00 WIT

di Jalur IV,
Kwamki Lama.


Serahkan Busur

Muspida Mimika, Senin pagi pukul 10.00 WIT, padahal menerima secara
simbolis penyerahan

busur dan panah dari Panglima Perang Kubu Tengah
Elminus Mom didampingi David Wandikbo, disaksikan warga kubu tengah yang
datang dengan membawa panah dan busur masing-masing di markas Kubu
Tengah di Jalur III Kwamki Lama. Sedangkan kubu atas

melakukan ritual
lempar panah ke udara.


Wakapolda Papua Brigjen Pol Max D Aer, yang sudah berada di Timika,
sempat melakukan

dialog dengan massa yang bertikai. Hasil dialog ini
akhirnya jenazah korban berhasil dievakuasi dengan kendaraan perintis
polisi ke RS Mitra Masyarakat (RSMM) untuk diotopsi.

---

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0609/05/nus03.html


Selasa, 05  September  2006




Sengketa Wilayah Halangi Pembangunan di Asmat




Jakarta -
Pembangunan Kabupaten Asmat terkendala sengketa wilayah
Suru-suru, Kecamatan Sawa Erma, antara Kabupaten Asmat dengan

Kabupaten
 Yahukimo yang berlangsung sejak 2003.




Menurut Bupati Asmat, Yuvensius Alfonsius Biakai kepada wartawan di
Jakarta, Senin (4/9), beberapa program yang belum berjalan

antara lain
pembangunan pelabuhan, bandara internasional, dan pembentukan distrik
Kota Baru di Suru-suru.


Dia mengatakan,

sebelum terjadi pemekaran wilayah pada tahun 2002,
Suru-Suru masuk dalam wilayah Kabupaten Merauke. "Setelah pemekaran
wilayah,

Suru-suru masuk dalam wilayah kami," ujar Bupati yang
didampingi Pemerhati Asmat yang juga Budayawan, Prof Sardono W Kusumah.


Masalah itu telah disampaikan ke Pemerintah Provinsi Papua pada November
2005, namun belum ada titik temu.

Tentang kemungkinan sengketa meluas
menjadi pertikaian antarwilayah, dia menegaskan hal itu tidak akan
terjadi karena pihaknya

akan menempuh jalan damai untuk proses
penyelesaian.


"Wilayah itu secara hukum masuk dalam Kabupaten Asmat, jadi tidak
perlu ada

pertikaian atau perang antarwilayah. Kami tetap menempuh jalan
damai," tambahnya.


Menurut Bupati, luas wilayah Suru-suru

mencapai 200.000 meter persegi
dan menyimpan potensi kekayaan alam yang besar, di antaranya hamparan
hutan, pasir, dan tambang

batu bara.


Dia mengatakan, secara hukum, wilayah Suru-suru masuk dalam Kabupaten
Asmat demikian pula secara kultural. Jadi,

bagaimana Bupati Yahukimo
bisa mengklaim Suru-suru masuk wilayahnya.


Budayawan Profesor Sardono W Kusumah mengatakan banyak

potensi alam
maupun budaya di Kabupaten Asmat yang perlu dikembangkan.

"Jangan
sampai sengketa wilayah menyebabkan perpecahan sebab hal itu akan
merusak nilai-nilai tradisi dan budaya Asmat,"

ujarnya lagi.


Terkait langkah penyelesaian sengketa wilayah tersebut, Yuvensius
mengaku akan mengajak semua pihak duduk bersama

membicarakan masalah
tersebut. "Pemerintah dan DPRD di kedua kabupaten, serta pemerintah
provinsi harus bertemu untuk membahas

masalah ini dengan melibatkan
masyarakat Suru-suru karena sebenarnya keputusan ada di tangan mereka
untuk memilih di antara

kedua kabupaten tersebut," tuturnya. (eddy
lahengko)


---

http://www.suarapembaruan.com/News/2006/09/05/Nasional/nas04.htm


SUARA PEMBARUAN DAILY


Pemerintah Pusat Tak Bisa Penuhi Permintaan Otsus



[JAKARTA]

 Pemerintah pusat tidak bisa memenuhi permintaan daerah untuk
menjadi daerah otonomi khusus (otsus), kalau tidak diperintahkan

oleh
Ketetapan MPR seperti untuk Aceh dan Papua. Meski demikian, pembangunan
daerah pedalaman dan perbatasan harus ditingkatkan

dengan
memformulasikan kembali perimbangan keuangan daerah.



"Kita memberi otsus ada dasarnya yaitu rekomendasi dari MPR,

khususnya
untuk Papua dan Aceh. Selain itu, tidak ada rekomendasi MPR.

Itu
kebijakan politik nasional yang ditetapkan MPR. Kita tahu di sana (Aceh
dan Papua) waktu itu ada konflik dan perlu dicari

penyelesaian secara
politik. Di provinsi lain kan tidak ada konflik dan berjalan normal,"
kata Sekretaris Jenderal Departemen

Dalam Negeri, Progo Nurdjaman di
Jakarta, Senin (4/9).



Sebelumnya, Ketua Dewan Adat Dayak Kalimantan Michael Andjioe di depan
Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dan Menteri Dalam Negeri Mohammad
Ma'ruf di Pontianak meminta supaya Provinsi Kalimantan

Barat ditetapkan
sebagai daerah otsus. Tujuannya, meningkatkan pelayanan ke masyarakat,
terutama di perbatasan.



Permintaan itu,

kata Progo, sebenarnya bisa diselesaikan dengan UU No
32/2004 tentang Pemerintahan Daerah (Pemda).

Dengan UU itu, semua
kewenangan sudah diserahkan ke daerah, meski masih ditunggu peraturan
pemerintah (PP) tentang pembagian

urusan antara pemerintah pusat,
provinsi, dan kabupaten/kota. Dalam UU itu, desentralisasi sudah cukup
luas, tinggal bagaimana

memberdayakan sumber daya dan potensi yang ada.



Untuk membangun ketertinggalan dan meningkatkan pelayanan di pedalaman
dan

daerah perbatasan, kinerja pemerintah daerah harus ditingkatkan.



Pemerintah daerah harus mempunyai komitmen politik memajukan

daerah
pedalaman dan berupaya jangan sampai ada kesenjangan antara daerah yang
satu dengan yang lain. Salah satu cara untuk itu

adalah mengatur kembali
dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK) seperti yang
diusulkan tujuh provinsi kepulauan,

katanya.



"

Saya kira, salah satu caranya adalah dengan dana perimbangan keuangan.
Meski demikian, desakan masyarakat daerah seperti itu

wajar-wajar saja,
terutama dari daerah perbatasan, tertinggal, pedalaman, dan yang tinggal
di pulau-pulau terluar. Itu cukup

disikapi dengan sistem perimbangan
keuangan dengan DAK dan DAU, yang harus disempurnakan formulanya untuk
bisa mengejar

ketertinggalan. Misalnya, kita harus sisihkan dana khusus
untuk daerah-daerah itu," lanjutnya.



Terkait dengan itu, dia berjanji

setiap tahun menjelang penyusunan RAPBN
akan ada evaluasi terhadap DAU dan DAK supaya usulan pembangunan dari
daerah itu bisa

terakomodasi. [A-21]

Last modified: 5/9/06


---

http://www.suarapembaruan.com/News/2006/09/05/Kesra/kes08.htm


SUARA PEMBARUAN DAILY



Makin Mengkhawatirkan, HIV/AIDS di Papua 2.703 Kasus



[JAYAPURA]

Epidemi HIV/ AIDS di Papua sudah pada taraf makin
mengkhawatirkan. Saat ini Provinsi Papua memiliki prevalensi kasus
HIV/AIDS

hingga Juni 2006 sudah mencapai 2.703 kasus atau tertinggi di
Indonesia.



Gubernur Provinsi Papua, Barnabas Suebu, dalam

sambutan tertulisnya yang
dibacakan Wakil Gubernur Alex Hesegem, pada ''Konsultasi Legal
Drafting'' Perda Penanggulangan HIV/

AIDS di Provinsi Papua" yang
berlangsung selama dua hari di Jayapura, Selasa (5/9) menyebutkan, kasus
HIV positif di daerah itu

sudah mencapai 1.951, sedangkan yang positif
AIDS telah mencapai 1.052 kasus.



"Satu hal yang mengkhawatirkan adalah kasus

HIV/AIDS di Papua sudah
menyebar dalam populasi umum (generalized epidemic).

Estimasi Dinas
Kesehatan Provinsi Papua 2005, diperkirakan sekitar 11.000 hingga 12.000
orang di Papua terinfeksi HIV.



Tiga

tahun terakhir, penularan HIV pada ibu rumah tangga meningkat
signifikan. Penularan dikalangan pelajar umur 15-19 tahun

sebanyak 224
atau sekitar 8,3 persen. Ini ke depan akan sangat mempengaruhi sumber
daya manusia dan masa depan Papua," ujarnya.



Dalam, menyikapi perkembangan HIV/AIDS yang terus meningkat terlihat
dari angka kasusnya, salah satu solusi untuk menekan

makin meluasnya
epidemi ini adalah menggugah kesadaran, menciptakan kepedulian dan
meningkatkan semua komponen masyarakat HIV/

AIDS bukan hanya persoalan
pemerintah, LSM atau segelintir
 orang di Papua.





"Mari kitorang bertanggung jawab. Saya mengajak semua pihak untuk
bersama-sama menanggulangi HIV/AIDS di Papua secara bersama

-sama," ujar
Barnabas.



Dikatakan, lebih dari 90 persen penalaran HIV/AIDS di Papua adalah
melalui hubungan seks yang tidak aman.

"Hubungan seks berganti-ganti
pasangan tanpa menggunakan pelindung. Atas dasar inilah KPA Provinsi
Papua gencar

mensosialisasikan kondom sebagai cara untuk melindungi diri
dari terinfeksi HIV," tandasnya.



Sosialisasi kondom, kata dia, yang

gencar dilakukan bukan berarti
menghalalkan seks bebas. "Penyebaran HIV berhubungan dengan perilaku.
HIV menular hanya kepada

mereka yang mau tertular. Kalau tidak ingin
tertular, jangan memiliki perilaku beresiko," ujarnya.





Malang

Sedangkan dari Malang dilaporkan, sebanyak 160 warga Kecamatan
Gondanglegi, Malang, menderita virus HIV/AIDS dan 131 di

antaranya telah
meninggal dunia. Malang menempati posisi teratas dalam jumlah kasus
HIV/AIDS di Provinsi Jawa Timur.



Warga yang

terkena virus mematikan itu sebagian besar menggunakan jarum
suntik narkoba secara bergantian dan berasal dari kalangan remaja
keluarga kurang mampu.



"Itu hasil penelitian dari LSM Sadar Hati di Gondanglegi yang dipercaya
Health Family International

(HFI) dari Swedia, lembaga khusus yang
bergerak di bidang penanggulangan HIV/AIDS," ujar Kepala Dinas Kesehatan
(Kadinkes)

Kabupaten Malang, dr M Fauzi, belum lama ini.



Dinkes bekerja sama dengan Badan Antinarkoba setempat, LSM Sadar Hati,
dan LSM

Paramita yang khusus menangani masalah pekerja seks komersial
(PSK), terus menggalakkan kampanye dan penyuluhan tentang bahaya
HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkoba atau obat-obatan terlarang lainnya.





Sementara itu, seorang ibu yang menjalani persalinan di RSUD dr
Koesnadi, Kabupaten Bondowoso, Jatim dipastikan terjangkit

virus
HIV/AIDS. Bayi yang dilahirkan melalui operasi caesar dipastikan
mengidap virus yang sama.



"Guna mencegah hal-hal yang

tidak diinginkan, nama ibu dan anak serta
alamatnya hingga kini masih dirahasiakan. Ibu dan bayinya itu positif
kena virus

HIV/AIDS sebelum menjalani pemeriksaan medis menjelang
operasi caesar," ujar dr Ng Hartadji, Direktur RSUD dr Koesnadi.



Terkait

hal itu, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Bondowoso,
dr Agus Suwardjito Mkes menyatakan ibu dan anak itu baru

diketahui
terjangkit HIV/AIDS setelah petugas medis mengambil sampel darah saat
transfusi darah.

"Sangat mungkin ibu dan anak itu mengidap HIV/AIDS
karena tertular suami atau ayah balita itu sendiri," ujarnya.



Tempat Kerja

Sebelumnya, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional,
Nafsiah Mboi mengatakan upaya pencegahan AIDS di tempat

kerja memegang
peranan yang sangat penting dalam respons nasional terhadap
penanggulangan HIV/AIDS.



Pencegahan AIDS di tempat

kerja sangat penting karena terkait dengan
produktivitas. Karena itu, penjangkauan kelompok berisiko di tempat
kerja merupakan

prioritas penanggulangan AIDS yang dilakukan KPA
Nasional.

Hal itu juga termasuk dalam rencana aksi nasional (RAN)
penanggulangan AIDS 2007-2010.



Sedangkan menurut M Nasser dari

Sekretariat KPA Nasional, kebijakan
penanggulangan AIDS di tempat kerja sangat penting, karena tempat kerja
sangat strategis

untuk penyebaran informasi penanggulangan AIDS. "Sampai
saat ini, masih banyak kendala yang harus dipecahkan untuk

meningkatkan
perluasan penanggulangan AIDS di tempat kerja," ujarnya. [ROB/070/A-22]

Last modified: 5/9/06

---

http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=110701



Selasa, 05 September 2006 14:21 WIB

HUKUM-KRIMINAL - Lain-lain




Mabes Polri Kirim Tim Puslabfor Selidiki Kasus Mile 69



 JAYAPURA--MIOL:

Markas Besar Kepolisian RI (Mabes Polri) telah mengirim
tim untuk melakukan penelitian dan forensik kasus menembakan di Mile

69,
Tembagapura, Papua, yang terjadi Minggu dini hari (3/9) sekitar pukul
01.00 WIT.



Direktur Reserse dan Kriminal Polda Papua,

Kombes Paulus Waterpauw
ketika dihubungi dari Jayapura, Selasa, mengakui, tim yang berjumlah
tiga orang itu dipimpin AKBP Amri

itu baru mulai bekerja.





Tim tersebut akan menyelidiki arah sudut tembakan serta posisi kendaraan
saat terjadi penembakan yang tidak menimbulkan korban

jiwa.



Namun akibat cuaca buruk, jelas Kombes Waterpauw, dan situasi disekitar
Mile 69 berkabut maka kegiatan tersebut akan

dilanjutkan Rabu (6/9).



Menurut Paulus, selain itu pada Rabu juga dijadwalkan akan dilakukan
penelurusan daerah di sekitar

tebing yang terletak di sebelah kanan.



Mile 69 sendiri merupakan jalan utama dari Tembagapura menuju ke kawasan
lokasi

penambangan PT Freeport.

Kasus penembakan yang terjadi Minggu dini hari itu hanya mengenai badan
kedua mobil milik PT Freeport

yang sedang melintasi ruas jalan tersebut,
jelas Kombes Paulus Waterpauw. (Ant/OL-03)


---

http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=110700


Selasa, 05 September 2006 14:12
WIB

POLKAM - Hankam



Polri dan TNI Turunkan Empat SSK Antisipasi Penembakan Gelap di Freeport


Penulis: shanty




JAKARTA--MIOL: Polri meminta bantuan TNI guna pengamanan di Freeport,
setelah adanya penembakan gelap terhadap karyawan

Freeport, Sabtu (3/9)
lalu.



Ada empat SSK diturunkan guna mengantisipasi terjadinya penembakan
kembali Mimika, tepatnya di

Freeport. Hal itu dikatakan Wakil Kepala
Divisi Humas Polri Brigjen Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Selasa.
"Polri meminta

bantuan TNI, yakni dari Batalion 754, diturunkan 2 SSK,"
ujar Anton.



Selain TNI, Polri menurunkan 2 SSK Brimob ke sekitar

Freeport. "Agar
tidak lagi terjadi penembakan gelap," kata mantan Kapolda Kepri ini.





Menurut Anton, dari hasil pemeriksaan dan penyidikan di Freeport, ada
bekas sepatu yang jumlahnya cukup banyak, saat terjadi

penembakan gelap
itu.



Sebelumnya, penembakan terhadap karyawan Freeport terjadi, Sabtu (3/9)
pukul 01.45. Beruntung, tembakan

bertubi-tubi dari penembak gelap itu
tidak melukai karyawan PT Freeport.



Ia mengatakan penembakan gelap itu terjadi di-mile 69

Mimika. Dua mobil
rusak yang dikendarai empat karyawan Freeport, di antaranya dua
sekuriti, ditembaki sekitar tujuh kali.

"Beruntung, semua penumpang
selamat. Barang bukti berupa 7 selongsong peluru kaliber 7,62 mm
berhasil disita polisi," katanya.



Sedangkan mobil yang ditembaki penembak gelap itu, masing-masing mobil
Grader g-16 Carterpilar dan kendaraan sekuriti karyawan

PT Freeport.



"Sekarang Polres Mimika sedang menyidik siapa pelaku penembakan itu dan
motif penembakan itu," imbuhnya.

(San/Sur/OL-03)

---

http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=110644


Senin, 04 September 2006 22:40 WIB

NUSANTARA - Maluku - Irian Jaya




Satu Warga Kwamki Lama Tewas Tertembak


Penulis: MY Koroh



JAYAPURA--MIOL:
Situasi akibat perang antar warga Kampung Kwamki Lama,
Distrik Mimika Baru, Timika, Kabupaten Mimika, Papua, saat ini semakin
mencekam.



Kondisi itu terjadi menyusul tewasnya seorang warga Kampung Kwamki Lama
Atas, Erek Murib, 30, akibat terkena tembakan

senjata api pada bagian
kepala.



Ketika dikonfirmasi Media Indonesia, Senin, Direktur Reskrim Polda Papua
Kombes Paulus Waterpauw

yang sedang bertugas di Timika membenarkan hal
itu.



"Benar telah terjadi peristiwa itu, saat pihak kepolisian melakukan
sweeping

senjata tajam (sajam) sekitar pukul 15.30 WIT tadi.

Tapi kita
belum bisa memastikan siapa pelakunya, sebab jenasahnya yang diserahkan
oleh pihak keluarga baru saja selesai

diotopsi," ungkap Waterpauw.



Menurut Waterpauw, pihaknya tetap akan melakukan penyelidikan untuk
mengetahui siapa pelaku

penembakan yang menewaskan Erek Murib itu.



Dia juga mengatakan sesuai rencana, korban tewas yang kini masih
disembayamkan di

kamar jenazah Rumah Sakit Karitas di Timika itu akan
dimakamkan pada Selasa (5/9) oleh keluarganya di Timika.



Sementara itu,

Juru Bicara Pengurus Besar Front Persatuan Perjuangan
Rakyat Papua Barat (PB Front Pepera), Arkilaus Baho, yang kini berada di
kawasan Kwamki Lama, mengungkapkan warga setempat terutama pihak
keluarga korban akan tetap menuntut aparat untuk mengusut

tuntas siapa
pelaku penembakan yang telah menewaskan Erek Murib itu.





"Apalagi peristiwa penembakan terhadap Erek Murib itu terjadi di saat
Kampung Kwamki Lama itu dalam blokade pihak kepolisian.

Karenanya polisi
harus bisa mengungkap siapa pelakunya," kata Arkilaus Baho.

"Suatu hal penting yang menjadi persoalan, bahwa

kendati Erek Murib
tewas dalam masa perang, namun jenazahnya tak dapat dimakamkam secara
adat, sebab Erek Murib tewas terkena

peluru dari senjata modern, dan
buka karena terkena senjata tajam tradisional," tambahnya. (MY/OL-03)






---

http://www.suarapembaruan.com/News/2006/09/04/Editor/edit01.htm


SUARA PEMBARUAN DAILY


Kapan Papua Membangun?


Yorrys Th Raweyai





Rakyat Aceh patut berbahagia dengan apa yang terjadi dalam setahun
terakhir ini, utamanya menyangkut resolusi damai dan

politik
ketatanegaraan terkait kasus Aceh. Khususnya dalam hubungan propinsi
tersebut dengan Jakarta.



Tepat satu tahun yang

lalu, satu terobosan bernama Memorandum of
Understanding (MoU) antara Pemerintah RI dan GAM ditandatangani di
Helsinki setelah

sebelumnya dilakukan 5 kali perundingan informal. Bagai
lokomotif kereta api, MoU mampu menarik rangkaian gerbong perubahan

yang
manfaatnya segera dapat dirasakan oleh warga Aceh, yakni penghentian
kekerasan, penyerahan senjata GAM dan penarikan

pasukan TNI/Polri
non-organik dari Aceh, amnesti dan kompensasi untuk mantan anggota GAM,
dan terakhir pengesahan Undang-undang

Pemerintahan Aceh (UU PA) yang
akan menjadi pengawal proses lebih lanjut.





Ratusan ribu warga yang memadati halaman Masjid Baiturrahman Banda Aceh
memperingati setahun MoU beberapa waktu lalu

mengekspresikan kebahagiaan
yang juga ikut kita rasakan.



Meskipun masih terdapat kekurangan di sana-sini, namun situasi Aceh
berangsur membaik tahap demi tahap. Akhir tahun ini provinsi ini akan
menggelar pilkada-hampir bersamaan untuk propinsi dan
kabupaten-kabupaten-yang
 akan menjadi momentum politik terpenting bagi
Aceh di masa depan. Eksponen GAM kemungkinan akan mengikuti momentum
tersebut,

dan hal ini akan menjadi batu ujian bagi resolusi damai di
Aceh.

Dengan semua prestasi membanggakan ini, tidak salah sebutan beberapa
kalangan setahun lalu bahwa MoU Helsinki telah menjadi

kado bagi untuk
ulang tahun Indonesia yang ke-60 (tahun 2005). Dan jika kita mengikuti
perkembangan Aceh selama setahun ini,

tidak salah pula menyebut bahwa
hingga peringatan proklamasi kemerdekaan RI yang ke-61 di tahun 2006
ini, kado masih berasal

dari Aceh.



Ingatan kita melayang ke belahan NKRI yang paling timur, wilayah
penerima otonomi khusus yang lain, yakni Papua.

Sama dengan Aceh,
wilayah inipun memiliki masa lalu yang kelam.





Namun berbeda dari Aceh yang telah menunjukkan perubahan yang
signifikan, proses penataan Papua nampaknya lebih banyak jalan

di
tempat. Hubungan Jakarta dan Papua masih didominasi oleh
mis-interpretasi dan distrust yang sangat mengganggu pemulihan dan
pembangunan Papua.



Saat disahkannya UU No 21/2001 tentang Otonomi Khusus bagi Propinsi
Papua pada tanggal 21 November 2001,

masyarakat Papua menyambut masa
depannya dengan suka cita. Namun dalam perjalanannya, bayangan indah itu
seolah sirna secara

perlahan. Otonomi khusus dijalankan setengah hati
sehingga menafikan kaidah lex-specialis yang mendasarinya.



Hal ini masih

diperparah oleh minimnya dialog antara Jakarta dan Papua.


Masing-masing berdiri pada posisinya sendiri dengan persepsinya
sendiri-sendiri. Jakarta dan Papua ibarat dua kelompok manusia

yang
sibuk bermonolog dan saling mencurigai niat satu sama lain.



Moratorium Politik Papua

Kentalnya nuansa politik adalah salah

satu penghalang utama dari
pelaksanaan Otsus dan pembangunan kembali Papua. Nuansa politik ini
berkembang di kedua pihak,

Jakarta dan Papua, bahkan menjangkiti seluruh
stake holder.

Pemerintah pusat misalnya masih menyimpan ketakutan tentang bahaya
separatisme Papua dan sangat sering terjebak dalam ketakutannya sendiri.



Di sisi lain berbagai kalangan pemimpin Papua,

termasuk DPRP dan MRP,
terlalu sering menggunakan kaca mata politik mencurigai setiap langkah
pemerintah pusat. Kondisi ini-

lah sesungguhnya yang membuat kemacetan
pelaksanaan Otsus selama ini.



Nuansa politik yang terlalu kental juga menyebabkan

minimnya produk
Perdasi/Perdasus. Padahal Perdasi/ Perdasus adalah instrumen yang
seharusnya menjabarkan implementasi UU Otsus.



Akibatnya pemerintah daerah tidak memiliki aturan yang memadai dalam
melaksanakan pembangunan dalam kerangka UU Otonomi

khusus. Pemerintah
daerah merasa tidak memiliki panduan yang cukup sekaligus standar
evaluasi pelaksanaan pembangunan. Tidak

mengherankan apabila kebocoran
dana Otsus diperkirakan sangat besar. Faktanya, sejak pelaksanaan UU
Otsus kesejahteraan

masyarakat Papua tidak mengalami peningkatan
berarti.





Dari sinilah pentingnya semua pihak menurunkan tensi politik dalam
setiap langkahnya. Moratorium politik dibutuhkan agar

setiap pihak dapat
mengurus tugasnya masing-masing secara benar dan bertanggungjawab.



Depdagri dapat mengelola urusan

nasionalnya, Pemda Papua dapat
berkonsentrasi mengelola pembangunan yang bisa menyentuh rakyat, DPRP
dapat memfokuskan diri

pada pembuatan rancangan Perdasi dan Perdasus,
sekaligus mengawasi kinerja Pemda, MRP segera meningkatkan kinerjanya
dalam

meng- kaji dan menyetujui Perdasi dan Perdasus.



Adalah sangat ironis kita menyaksikan move politik demikian gencar
dilakukan,

sementara sektor-sektor pembangunan terbengkalai. Dana Otsus
senilai 12 triliun rupiah yang dibagi-bagi kepada pemerintahan

provinsi
dan kabupaten tanpa mempertimbangkan urgensi pembangunan, dan lebih
didominasi oleh biaya birokrasi dan aparatur

pemerintah.



Di masa depan seluruh stakeholder Papua harus dapat memastikan bahwa
sebagian besar dana Otsus dapat menyentuh

langsung kepentingan rakyat
Papua.



Pandangan

Terhadap hal ini, penting dikutip di sini pandangan Gubernur Papua
Barnabas Suebu

yang kurang lebih terdiri dari dua hal.

Pertama, yang
lebih dibutuhkan di Papua saat ini adalah sebuah audit atau evaluasi
menyeluruh atas penyelengggaraan Otonomi

Khusus di Papua selama ini.



Audit ini tentunya bukan hanya ditujukan kepada pejabat dan birokrat di
Papua, tetapi juga di

Jakarta (Departemen Dalam Negeri).

Melalui audit
inilah kita bisa mengetahui sejauhmana capaian Otsus selama ini dan
dimana letak penyimpangannya.



Kedua, seluruh

stake holder menyangkut masalah Papua harus bersedia
duduk bersama baik dalam kerangka evaluasi Otsus maupun revisi Otsus
(seandainya diperlukan). Stake holder ini adalah: pemerintah pusat
(Depdagri), DPR, DPD, Pemda Papua, Pemda Irjabar, DPRP,

DPRD Irjabar,
MRP, DAP, representasi pemimpin agama, LSM, dan unsur perguruan tinggi
di Papua. Kesediaan untuk duduk bersama

akan menguji sejauhmana seluruh
stake holder dapat membangun trust dan kebersamaan.



Pandangan Barnabas untuk melibatkan banyak

pihak dalam membicarakan
masalah Papua sudah selayaknya diperhatikan karena ketidakpercayaan
sudah mulai menyebar, bukan saja

antara masyarakat Papua dengan
pemerintah Pusat, tetapi juga antara masyarakat Papua sendiri.



Dengan melibatkan seluruh stake

holder Papua, rasa keprihatinan atas
kondisi masyarakat Papua dapat dibangkitkan. Pada saat itu pembangunan
yang sesungguhnya

dimulai.




Penulis adalah Anggota DPR Daerah Pemilihan Papua



Last modified: 3/9/06

---

Cenderawasih Pos, 05 September 2006


Sidang Bentrok Abe, Ditunda Lagi

*Hakim Nilai Jaksa Tidak Serius



JAYAPURA-Untuk ketiga kalinya, sidang Kasus Bentrok Abepura ditunda.
Alasan penundaan itu tetap sama, yakni para terdakwa

tidak mau menghadiri persidangan.



Ketujuh terdakwa yang sementara ditahan di LP Abepura, hingga kini masih
tetap pada pendiriannya yakni tidak akan hadir dalam

persidangan, hingga ada permintaan maaf secara tertulis dari pihak Polda
Papua dan pihak kejaksaan.



Akibat ketidakhadiran para terdakwa ini, sidang lanjutan yang seharusnya
berlangsung Senin (4/9), akhirnya ditunda lagi.

Walaupun para terdakwa serta penasehat hukumnya (PH) tidak menghadiri
sidang, namun majelis hakim tetap saja membuka

persidangan dengan dihadiri, hanya jaksa penuntut umum (JPU), dengan
maksud menentukan agenda persidangan selanjutnya.



Salah satu anggota tim penasehat hukum (PH) para terdakwa Ecolin
Sitimorang, SH saat dihubungi Cenderawasih Pos mengatakan,

sebenarnya pihaknya selaku PH, serta kliennya (para terdakwa), bisa
menghadiri sidang, hanya saja pihaknya belum mendapatkan

surat pemanggilan untuk menghadiri persidangan dari Pengadilan Negeri (PN)
Jayapura. " Saya dengar surat penggilan tersebut,

sudah keluar dari PN Jayapura, hanya saja kita belum terima,"tukasnya.



Dikatakan, selaku tim penasihat hukum (PH), tidak pernah memprovokasi para
terdakwa untuk melakukan aksi mogok dalam

persidangan. Dikatakan, hal yang dilakukan klienya adalah murni dari para
terdakwa sendiri, berkaitan dengan tindakan-

tindakan yang selama ini mereka terima saat menjalani proses hukum.



"Namun pada sidang berikut Rabu (6/9), kami akan hadir bersama klien kami
untuk menjalani pemeriksaan di

pengadilan,"tukasnya.



Sementara itu Morris Ginting, selaku Ketua Majelis Hakim mengatakan,
berkaitan dengan tidak hadirnya para terdakwa sehingga

sidang sempat tertunda sebanyak tiga kali, maka dirinya menilai pihak
jaksa penutut umum tidak serius dalam menangani kasus

tersebut.



"Untuk itu, saya perlu ingatkan buat JPU agar untuk terakhir kali bisa
menghadirkan para terdakwa pada persidangn Rabu

(6/9),"tegasnya.



Dirinya juga mengingatkan JPU, agar jangan dipengaruhi pihak-pihak
tertentu yang sengaja mempengaruhi jalannya persidangan

ini. Untuk itu selaku majelis Hakim mengharapkan, agar pada persidangan,
Rabu (6/9), semua pihak yang terkait dalam proses

persidangan agar bisa bersama-sama menjaga agar proses peridangan berjalan
dengan lancar.



"Sidang saya tunda hingga, Rabu (6/9) dengan agenda pemeriksaan saksi
meringankan (adecat) untuk kesempatan yang terakhir

kali," tukasnya.



Sementara itu Kepala Kejaksaan Negeri Jayapura (Kejari), DJ Haromunthe, SH
kepada wartawan di PN Jayapura mengatakan,

pihaknya akan berusaha menghadirkan para terdakwa dalam persidangan,Rabu
(6/9). Menurutnya hal tersebut juga sudah

dibicarakan dengan pihak penasehat hukum para terdakwa Jumat (1/9) lalu.



"Kami sudah bertemu para terdakwa dan mereka bersedia akan hadir dalam
persidangan, Rabu (6/9), hanya saja mereka minta

persidangan tidak boleh dijaga aparat keamanan,"tukasnya.



Menangapi permintaan para terdakwa tersebut, pihaknya akan memaklumi dan
tidak akan menghadirkan aparat keamanan yang banyak

seperti saat persidangan sebelumnya.



Dirinya juga menegaskan, bahwa dalam penjemputan Rabu (6/9) di LP Abepura,
dirinya selaku kepala Kejaksaan Negeri Jayapura

(Kajari) akan turun langsung bersama jajarannya sendiri untuk menjemput
para terdakwa.



"Namun tidak disertai aparat keamanan yang begitu banyak, sama seperti
persidangan sebelumnya mungkin satu atau dua orang

saja,"ujarnya.



Ia mengatakan, bahwa terlibatnya aparat keamanan dalam menjaga keamanan di
persidangan pada sidang sebelumnya, dengan maksud

agar sidang berjalan lancar. Namun bila para terdakwa berjanji akan
bersama-sama menjaga keamanan, maka pihaknya akan

mengabulkan.



Ditanya apakah, ada rencana pemindahan para terdakwa ke Rutan Polda Papua,
Kajari mengatakan, tidak akan ada pemindahan ke

rutan Polda Papua, bila para terdakwa tetap saja menghadiri persidangan,
serta dapat memperlancar jalannya proses pemeriksaan

di persidangan.(cak)

---

Cenderawasih Pos, 05 September 2006



Razia Sajam, Satu Tewas Tertembak

*Kwamki Lama Kembali Mencekam



Sementara itu dari Timika dilaporkan, situasi memanas dan mencekam kembali
menyelimuti Kelurahan Harapan Kwamki Lama, Distrik

Mimika Baru, Provinsi Papua setelah seorang warga kubu atas bernama Rek
Murib (39), tewas. Korban tewas sekitar pukul 15.00

WIT di Jalur IV, Kwamki Lama.



Rek Murib tewas diduga akibat terkena tembakan pada dahi bagian kanan tapi
tidak menembus belakang kepala korban. Namun

identifikasi dari mana asal tembakan, jenis peluru, serta jenis senjata,
belum diketahui.



Setelah melalui dialog dengan Wakapolda Papua Brigjen Donald Aer, jenazah
korban kemarin sore dievakuasi dengan kendaraan

perintis polisi ke Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) untuk diperiksa
guna memastikan penyebab kematian.



Informasi kematian Rek Murib awalnya disampaikan masyarakat kubu atas
kepada Danrem 171/PVT, Kolonel Suyatno yang melewati

Jalan Kanguru, Kwamki Lama. Informasi itu diteruskan Danrem kepada
Kapolres Mimika, AKBP Jantje Jimmy Tuilan. Kapolres

kemudian meminta seorang tokoh masyarakat kubu atas, Marius Kogoya
(mediator) untuk mengecek kebenaran tewasnya Rek Murib

yang diduga tertembak.



Data kepolisian serta data lapangan yang dihimpun Radar Timika (grup
Cenderawasih Pos), Senin (4/9) menyebutkan, peristiwa

naas yang menimpa Rek Murib terjadi di saat aparat gabungan Polres, Brimob
serta TNI merazia senjata tajam milik warga kubu

tengah pimpinan Elminus Mom.



Namun razia sajam tersebut hanya berlangsung setengah jam (15.00-15.30
WIT) karena ditolak banyak warga, termasuk para wanita

kubu tengah. Massa yang menolak razia senjata tajam lalu memalang jalan
dengan kayu dan pohon yang ditebang di wilayah kubu

tengah.



Penolakan itu membuat aparat gabungan di Jalur IV lokasi mengeluarkan
tembakan peringatan ke udara. Namun razia kemudian

dihentikan setelah terdengar kabar jatuh korban jiwa.



Akibat Rek Murib tewas, massa kubu atas dipimpin panglima perang Negro
Wanimbo berkumpul di lokasi sosial, Jalan Kanguru.

Mereka mengitari jazad korban yang diletakkan di jalan ditutupi daun pisang.



Massa menuntut agar jazad Rek Murib diperiksa secara medis agar diketahui
dengan jelas penyebab kematiannya. Bahkan sempat

ada yang meminta otopsi dilakukan di lokasi itu agar disaksikan mereka.



Direskrim Polda Papua Kombes Pol. Drs Paulus Waterpauw bersama Kapolres
Jimmy Tuilan disusul Wakapolda Papua Brigjen Pol.

Donald Aer kemudian datang memeriksa kondisi mayat Rek Murib.



Kemudian Wakapolda melakukan dialog dengan warga kubu atas. Saat itu,
Jekman Waker, Eska Kogoya dan beberapa warga kubu atas

mengatakan bahwa Rek Murib bukan tewas akibat dibunuh kelompok kubu
tengah. Mereka mengatakan Rek Murib tewas tertembak

aparat. Mereka juga menilai barikade aparat membuat seolah-olah aparat
memihak kubu tengah.



Mereka meninta jazad Rek Murib menjadi tanggungjawab Polda, Polres serta
Bupati Mimika. "Kematian korban merupakan hal nyata

dan kenapa korban ditembak seperti ini," kata Eska Kogoya. Hal senada
dikatakan Oktovianus M, yang mengaku melihat korban

terkena tembakan. "Saya minta tanggung jawab, karena kami masyarakat
bingung dengan kejadian ini," kata Oktovianus.



Demi Murib, keluarga korban juga meminta tanggungjawab pemerintah dan
aparat terhadap kematian Rek Murib.



Menanggapi hal itu, Wakapolda Papua Brigjen Pol. Donald Aer mengatakan,
atas nama kesatuan dan pribadi merasa prihatin

terhadap musibah tersebut. Menurutnya penyebab kematian korban harus
dipastikan dulu. "Kita harus pastikan dulu penyebabnya,

siapa yang tembak, jenis peluru dan senjata yang digunakan, dan siapa yang
akan bertanggungjawab," kata Wakapolda yang

prihatin dengan perang yang berlarut-larut itu. "Akan kami proses sesuai
ketentuan hukum. Jika anggota kami yang lakukan

karena kelalaian atau faktor kesengajaan (penembakan itu) maka kami akan
proses dan tindak tegas oknum tersebut," kata

Wakapolda sembari menambahkan akan meminta keterangan dari warga yang
mengaku melihat korban tertembak.



Ditemui Radar Timika usai pertemuan dengan pihak korban, Wakapolda
mengatakan, "Kita akan tetap menangani aksi perang ini

sampai situasinya memungkinkan hingga adanya proses perdamaian murni."



Sementara itu, Kombes Pol Paulus Waterpauw mengatakan kasus tertembaknya
Rek Murib akan ditanganinya langsung mulai dari olah

TKP hingga mengungkap bukti-bukti. "Yang pertama kita akan lakukan proses
medis yakni otopsi atau visum, apakah terkena

tembakan peluru atau tidak. Ini akan dibuktikan secara forensic," kata
mantan Kapolres Mimika itu. Iapun meminta kerjasama

seluruh masyarakat khususnya kubu atas.



Kombes Paulus Waterpauw yang baru-baru ini menjadi Komandan Upacara HUT RI
di Istana Negara ini juga meminta masyarakat

menyudahi perang."Masyarakat yang mendengar bisikan atau dorongan yang
sifatnya negative, segera laporkan kepada aparat

sehingga tidak terjadi tindakan-tindakan anarkis," kata mantan Kapolresta
Jayapura itu.



Sedangkan Kapolres AKBP Jantje Jimmy Tuilan menegaskan dirinya siap
bertanggungjawab jika penembakan yang menyebabkan Rek

Murib tewas dilakukan anggotanya. "Saya sangat prihatin dan atas nama
kesatuan dan pribadi saya siap bertanggungjawab," kata

Kapolres Jimmy Tuilan.



Kubu Tengah Serahkan Panah, Kubu Atas Lempar Panah

Sebelumnya, pagi kemarin sekitar pukul 10.00 WIT Dandim 1710 Mimika Letkol
Inf. Tri Suseno didampingi Kapolres Mimika AKBP

Jantje Jimmy Tuilan, SE dan Kadistrik Mimika Baru, James Noldy Sumigar
menerima secara simbolis penyerahan busur dan panah

dari Panglima Perang Kubu Tengah Elminus Mom didampingi David Wandikbo dan
disaksikan oleh para warga kubu tengah yang datang

dengan membawa panah dan busur masing-masing di markas Kubu Tengah di
Jalur III Kwamki Lama.



Sesuai dengan agenda pada kemarin pagi, semua panah dan busur yag dimiliki
oleh para warga akan dikumpulkan oleh pihak aparat

dari TNI dan Polri yang sejak pagi hari sudah tiba di Kwamki Lama. Di
pintu masuk ke Kwamki Lama yakni di bundaran check

point Mile-28, pihak kepolisian sudah melakukan razia senjata tajam dari
setiap warga baik yang masuk maupun keluar. Semua

mobil baik kenderaan umum maupun kenderaan pribadi dan ojek tidak
terkecuali turut disweeping. Dua buah panser tampak berjaga

di kiri dan kanan jalan masuk dengan laras mengahadap ke arahTimika dari
satuan Kavaleri.



Dalam razia sajam kemarin, beberapa warga didapati membawa pisau dan badik
terutama warga yang hendak menuju ke Kwamki Lama.

Semua warga yang memiliki senjata tajam tersebut dicatat namanya dan
diminta untuk ikut ke pos pemeriksaaan di sebelah kiri

pintu masuk ke Kwamki Lama. Sweeping ini berlangsung hingga sore hari
sebagai antisipasi terhadap warga yang membawa senjata

tajam ke Kwamki Lama untuk persiapan perdamaian.



Dalam kesempatan itu sebelum menyerahkan secara simbolis panah, kepada
Dandim dari Elminus Mom, setelah diawali dengan doa

oleh salah satu pendeta. Dalam kesempatan tersebut, Elminus Mom selaku
Penglima Perang didampingi David Wandikbo mengatakan

bahwa sejak ditandatanganinya perjanjian damai bersama, sebenarnya
pihaknya ingin mematuhinya dengan tidak melanjutkan

perang, namun ketika ada penyerangan dari pihak atas, sehingga kami juga
harus membela diri sehingga semua warga kubu tengah

bersiaga kembali.



Semua tahapan penyelesaian secara adat sudah kami ikuti dan sudah memasuki
tahap yang ketujuh, dan kami ingin supaya ada

kedamaian di Kwamki Lama dengan demikian pembangunan akan terus berlanjut.
Pihaknya juga menyesalkan kematian kedua pendeta

tersebut. Dalam isitilah kami anda jual kami beli sebab sebenarnya kami
sangat ingin hidup aman dan kembali berdamai satu

dengan yang lain katanya.



Pihak kubu tengah juga yang sudah tanda tangan perjanjian damai dan kami
ingin menuruti perjanjian damai itu sehingga kami

ingin menyerahkan panah dan busur ini sebagai tanda kami ingin berdamai
katanya.



Kapolres AKBP Jantje Jimmy Tuilan, SE mengatakan bahwa proses perdamaian
yang ada selama ini terganggu diakibatkan oleh

masuknya iblis di hati masing-masing warga sehingga terjadilah peperangan
dan pembunuhan. Mari kita berdamai jangan mau

diperbudak oleh kejahatan, memang saat ini kita belum merasa berdosa namun
nanti dikehidupan mendatang kita juga akan diminta

pertangungjawaban oleh Tuhan ungkapnya.



Kalaupun ada perlawanan dari kubu atas yang akan menghadapi adalah dari
aparat yang sudah siap di lokasi sehingga warga

tengah sebaiknya berjaga-jaga saja di rumah masing-masing dan jangan mau
terpancing sebab puluhan Brimob sudah datang dengan

tameng dan pentungan untuk mengawal di tengah kedua kubu.



,"Kalau begini terus kapan mau hidup tenang dan mau maju, dan masih terus
berperang yang menjadi korban adalah warga sendiri

dan pembangunan tidak bisa berjalan dan yang lebih hancur lagi masa depan
anak-anak menjadi terganggu," ujarnya.



Dandim 1710 Mimika Letkol Inf. Tri Suseno menerima penyerahan panah
tersebut. Namun saat Dandim meminta agar semua panah

diserahkan sebahagian warga mulai pergi meninggalkan lokasi pertemuan.
Kepergian itu dipicu oleh ditemukannya panah dari

pihak atas yang masuk ke dalam wilayah tengah sehingga penyerahan panah
dan busur menjadi gagal kembali dan hanya dua busur

dan panah yang sempat dikumpulkan sebab kubu atas sudah datang menyerang
dan sudah melewati semak-semak di Jalur IV sambhil

berteriak. Dandim mencoba menenangkan warga dan menghimbau agar warga
berkumpul di dekat rumah dan akan menghalau para

penyerang.



Dua mobil perintis segera maju ke perbatasan kedua kubu. Kapolres AKBP
Jantje Jimmy Tuilan, SE dengan menaiki mobil perintis

dengan menggunakan pengeras suara meminta kepada para warga yang sudah
dekat satu dengan yang lain segera mundur. Berkali-

kali himbauan itu dikumandangkan, namun warga dari atas sepertinya tidak
mau menurutinya bahkan terus maju sambil berteriak

dengan yel-yel perang.



Puluhan personil dari TNI dari Yonif 754 ENK kembali ditambah untuk
memisahkan kedua kubu. Sekitar pukul 11.00 kedua kubu

sudah agak tenang, dan kedua kubu hanya tampak berjaga-jaga. Sementara
dari pantauan Radar Timika, beberapa rumah yang

ditinggalkan warga tampak berasap di Jalur IV. Petugas kepolisian beruaha
memadamkan api yang sudah meresap ke dalam kayu

tiang penyanggah rumah. Rumah tampak berantakan, piring-piring berserakan
dan kandang-kandang babi tampak kosong. Kebun-kebun

yang ada dipinggir jalan juga tampak tidak dikerjakan lagi. Sementara itu
sore hari sekitar pukul 14.30 WIT kedua kubu

kembali terlibat perang. (Radar Timika)

---

Cenderawasih Pos, 05 September 2006



Stop Baku Bunuh!

*Wagub Soal Perang Suku di Timika



JAYAPURA- Perang saudara di Kwamki Lama, Timika yang hingga kini masih
terjadi, sangat disayangkan Wakil Gubernur Papua, Alex

Hesegem SE.



Untuk itu, ia meminta agar semua pihak yang bertikai dan terlibat perang
saudara di Mimika diminta agar berhenti berperang

dan segera berdamai.



"Saya himbau seluruh rakyat Timika hentikan baku bunuh, hentikan perang,
karena itu akan merugikan kita semua," himbaunya

kepada wartawan kemarin.



Ia mengatakan, dirinya memang kurang paham dengan akar persoalan perang
suku yang telah memakan sejumlah korban jiwa

tersebut, namun ia meminta agar persoalan tersebut segera diakhiri dan
diselesaikan secara baik-baik antara keluarga atau

suku yang bertikai dengan cara persaudaraan. Sebab kalau persoalan itu
terus berlanjut, bukan mustahil akan dimanfaatkan oleh

orang-orang tertentu yang tidak bertanggung jawab sehingga masalahnya bisa
semakin besar dan meluas bahkan akan berlarut -

larut.



"Jadi itu harus segera dihentikan, siapapun di dunia ini apalagi di Papua
tidak ada rekomendasi kuasa Tuhan Allah untuk baku

bunuh apalagi bunuh sesama manusia itu tidak ada," katanya serius.



Kata Hesegem, saat ini adalah zaman modern sangat jauh berbeda dengan
zaman sebelumnya, yakni zaman perang dahulu kala.

Sekarang ini ada hukum untuk menyelesaikan persoalan juga ada agama untuk
mengembalikan segala persoalan hidup.



Kalau tidak bisa diselesaikan antara keluarga bisa dibawa ke polisi atau
melalui jalur hukum dan semua akan bisa diselesaikan

dengan bijaksana dan adil, tinggal rakyat saja memanfaatkannya.



"Kita sekarang sudah modern sudah beragam, kita bukan hidup di zaman
perang seperti dulu, ajaran agama musti menjadi sesuatu

yang bisa diikuti tidak boleh dengan emosi karena semua persoalan bisa
diselesaikan dengan baik," tuturnya.



Kepada pihak kepolisian/keamanan ia meminta agar bersikap lebih tegas dan
menangkap mereka yang telah melakukan kekerasan

ataupun pembunuhan dan diproses sesuai aturan yang hukum berlaku.



"Saya juga himbau pihak keamanan, tangkap mereka yang melakukan
pembunuhan, perang dengan siapapun yang namanya pembunuh itu

harus ditangkap dan dihukum. Lainnya harus berhenti stop sampai disini dan
tidak usah berkelahi lagi apalagi perang,"

tegasnya.



Segera Relokasi Solusinya

Sementara itu, salah seorang anggota DPRP, dr John Manangsang mencoba
menawarkan suatu solusi untuk mengatasi perang saudara

di Timika. Menurutnya, untuk menjamin tidak ada lagi perang saudara di
sana (Timika), maka relokasi salah satu dari dua

kelompok suku yang bertikai harus dilakukan. "Saya pikir solusi yang harus
dilakukan saat ini adalah bagaimana pemerintah

daerah berpikir untuk merelokasi satu dari dua kelompok (Kelompok atas dan
kelompok bawah) yang bertikai di Kwamki

Lama,"tegas Anggota Komisi E DPRP ini kepada wartawan di ruang kerjanya
kemarin.



Perlunya relokasi ini katanya, mengingat dua kelompok yang selama ini
terlibat dalam pertingkaian perang saudara di sana itu,

hidup dalam satu komunitas lingkungan tempat tinggal (Kwamki Lama).



Dikatakan, setelah berhasil dilakukannya relokasi satu dari dua kelompok
yang bertikai ini, maka pemerintah melakukan

rekonsoliasi yang bersifat hakiki dengan mempertemukan tokoh-tokoh agama,
adat maupun kepala suku dari kedua kelompok yang

bertikai untuk melahirkan satu perjanjian perdamain yang tidak bersifat
sementara, seperti saat ini ada perjanjian

perdamainan tetapi perang tetap ada. "Kita perlu suatu perjanjian
perdamaian yang bersifat kekal,"katanya.



Pecahnya perang saudara di Kwamki Lama Timika ini bisa saja merupakan
sebuah akumulasi berbagai permasalahan yang telah

berlangsung lama. Untuk itu langkah awal sebelum dilakukannya tindakan
relokasi guna menciptakan situasi yang aman dan damai

dengan tidak ada lagi perang di sana, maka pemerintah daerah hendaknya
mencari tahu apa penyebab terjadinya perang saudara di

sana. "Satu hal yang penting untuk lebih dahuku dilakukan adalah mencari
tahu penyebab terjadinya perang saudara disana,

mengingat sudah barang tentu hal ini disebabkan oleh rumit bagaikan benang
kusut yang jika dirunut satu persatu bakal memakan

waktu yang cukup panjang, tetapi hal itu perlu dilakukan,"tegasnya.



Belum lagi ditambah dengan kelompok yang bertikai itu terdiri dari suku,
marga, keluarga bahkan pribadi-pribadi dengan kadar

permasalahan dan kepentingan yang berbeda-beda, sehingga membuat potensi
terjadinya kerusahan di sana semakin besar.(ta/and)

---

Cenderawasih Pos, 05 September 2006



Hampir Setengah Penduduk Papua, Dikategorikan Miskin



JAYAPURA-Hingga saat ini, angka kemiskinan di Papua rupanya masih relatif
tinggi. Berdasarkan data hasil pencacahan dalam

rangka SLT (subsidi langsung tunai) Maret lalu, tercatat hampir setengah
atau sekitar 47,99 persen keluarga di Papua masih

dikategorikan miskin. Hal tersebut seperti diungkapkan Kepala BPS (biro
pusat statistik) Provinsi Papua JA Djarot Soetanto

ketika ditemui Cenderawsih Pos kemarin.



"Jadi jumlah keluarga miskin di Papua kalau berdasarkan data hasil
pencacahan keluarga miskin berdasarkan SLT, sesungguhnya

masih relatif tinggi," ungkapnya. Disebutkan, dalam pendataan yang
dilakukan terkait dengan SLT itu, BPS membuat tiga

kategori yakni keluarga mendekati miskin, keluarga miskin dan keluarga
sangat miskin tentunya dengan berbagai kriteria yang

ada.



Namun, berdasarkan kategori miskin hingga Maret 2006 lalu, tercatat bahwa
ada 47,99 persen keluarga miskin di Provinsi Papua.

Sedangkan Irian Jaya Barat sekitar 36,85 persen. Sehingga untuk Papua dan
IJB total keluarga miskinnya mencapai 45,43 persen.

"Jadi kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Provinsi Papua yang hanya
berkisar 1,8 Juta jiwa, maka bisa dikatakan bahwa

hampir setengah dari penduduk Provinsi Papua masih dalam kategori miskin,"
jelasnya. Sayangnya, Djarot enggan menyebutkan

angka kemiskinan berdasarkan hasil Sensus Ekonomi Nasional (Susenas) 2006.
"Kami belum bisa memberikan data itu karena kami

belum menerima hasil Susenas 2006, jadi belum bisa," ujarnya.



Meski begitu Djarot menyebutkan angka kemiskinan di Provinsi Papua
berdasarkan hasil survei ekonomi nasional menyebutkan

bahwa pada tahun 2002 angka jumlah rakyat miskin mencapai 984.700 jiwa
atau 41,80 persen. Tahun 2003 sekitar 917.000 atau

39,63 persen lalu tahun 2004 turun menjadi 966.800 jiwa atau 38,69 persen.
"Kalau dilihat dari tahun ke tahun memang ada

penurunan meksi hanya sedikit," katanya.



Namun, kata Djarot angka tersebut diperkirakan melonjak lagi lebih besar
menyusul naiknya harga BBM (bahan bakar minyak).

"Kenaikan harga BBM sangat kuat mempengaruhi jumlah angka kemiskinan,"
tukasnya serius.



Sebab kata dia, naiknya BBM sangat luas implikasinya antara lain adalah
naik harga barang serta bahan-bahan pokok. Semakin

tinggi harga bahan pokok dna barang, maka daya beli masyarakat juga akan
semakin melemah sehingga akibatnya banyak rakyat

yang tidak mampu lagi membeli kebutuhannya. Tidak hanya itu naiknya harga
BBM ini implikasinya akan lebih jauh lagi yakni

menyebabkan inflansi. "Jadi pengaruh kenaikan BBM terhadap angka
kemiskinan memang sangat besar," jelasnya.



Lebih jauh Djarot, adanya SLT yang dibagikan pada warga miskin sejak 2005
lalu cukup signifikan menahan kemiskinan meski

tidak besar. "Yang pasti dengan adanya SLT secara tidak langsung turut
menahan kemiskinan, kalau misalnya tidak ada SLT angka

kemiskinan akan lebih besar lagi," katanya. Hanya saja, kata Djarot tidak
semua penerima SLT memanfaatkan dana SLT tersebut

secara baik. Sebab ada juga yang hanya membelikan minuman keras dan hal
lainnya yang tidak berguna, sementara tujuan SLT

tersebut adalah untuk membiayai kebutuhan makan dan keperluan sekolah
warga miskin. "Ini adalah salah stau kendala kami,"

imbuhnya.



Ditambahkan Djarot, dengan adanya SLT, disejumlah daerah ternyata
berdampak negatif sebab di beberapa kampung ada yang

warganya enggan bercocok tanam, namun hanya berharap pada SLT. "Pikiran
mereka bahwa mereka pasti akan dikasi dan tidak perlu

bekerja," katanya. Karena itu, Djarot juga menilai hal ini mengajarkan
masyarakat kurang produktif. "Tapi yang saya dengar

sekarang sudah diganti dengan model lain, kita tunggu saja," tandasnya.(ta)

---

Cenderawasih Pos, 05 September 2006



Polda Selidiki Kasus Penembakan di Mile 69

Kartono: Di TKP Ditemukan 7 Slonsongan Peluru Kaliber



JAYAPURA-Peristiwa penembakan dua mobil Drender (jenis kendaraan berat)
dan mobil scurity PT Freeport Indonesia di Mile - 69

Minggu (3/9), diselidiki Polda Papua. Terkait adanya tragedi penembakan
oleh kelompok yang belum diketahui itu, Polda Papua

langsung menurunkan tim untuk mengusut tuntas kasus penembakan ini.



Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Polda Papua, Kombes Pol.
Drs. Kartono Wangsadisastra saat ditemui Cenderawasih

Pos di ruang kerjanya membenarkn adanya pengiriman tim untuk mengungkap
kasus tersebut. "Untuk mengusut apakah kasus ini

kriminal murni atau ada kepentingn lain dan dilakukan oleh kelompok mana,
kita telah kirimkan tim untuk menyelidikinya,"

papar Kartono.



Dikatakan, dari hasil olah TKP awal yang dilakukan Kapolsek dan Danki
Brimob, di sekitar tempat kejadian penembakan itu,

ditemukan 7 selonsong peluru kaliber 7,6 AD dan kaliber 7,9 PIN. Dimana
selonsong peluru tersebut diduga keluar dari senjata

laras panjang. "Yang jelas kita masih akan melakukan penyisiran lgi, sebb
disamping telah ditemukan 7 selonsong peluru itu,

di sekitar TKP juga ditemukan bekas-bekas telapak kaki yang diduga pelaku
penembakan tidak hanya satu orang. Ini yang sedang

kita selidiki terus,' ujarnya.



Menurutnya, akibat kasus ini sempat muncul isu bahwa tiga anggota Brimob
tewas. Namun isu ini adalah tidak benar. "Dalam

kasus penembakan ini tidak sampai mengakibatkan korban jiwa. Kasus ini
hanya mengakibatkan dua mobil milik PT Freeport

Indonesia rusak akibat terkena tembakan," terangnya.



Terkait kronologi kasus ini dijelaskan, pada pukul 01.45 WIT, pegawai PT
Freeport yang bernama Jefri T mengemudikan kendaraan

berat dari Mile 8 menuju ke mile 70 untuk perbaikan jalan di dalam
terowongan Zaggam. Saat melintas di Mile 69, tiba-tiba

dari pinggir jalan ditembak oleh orang tak dikenal sebanyak 5 kali
tembakan. 3 tembakan mengenai bagian depan dan 2 tembakan

di bagian belakang. Meski ditembak, yang bersangkutan terus melanjutkan
perjalanannya menuju terowongan.



Kemudian sekitar pukul 02.00 WIT, scurity PTFI bernama Kuniadi dan Elifas
Bilda sedang patroli. Kemudian ketika melewati mile

68 mendengar bunyi letusan tembakan dari arah mile 69. Setelah melintas di
mile 69 sekitar pukul 02.15 WIT, mobil patroli

tersebut juga ditembak oleh orang yang tidak dikenal sebanyak 9 tembakan,
yang antara lain mengenai mobil hingga tembus ke

accu dan cap atas, serta kaca bagian kiri belakang.



Setelah kejadian ini, mobil patroli yang ditembak itu menuju ke pos
scrurity di mile 68 dan selanjutnya melapor ke Polsek

Tembagapura. (fud)


---


Cenderawasih Pos, 05 September 2006



Dana Bantuan Rp 68 M Untuk Yahukimo Diminta Diaudit

Abok Busup: Pemkab Tidak Pernah Dilibatkan Dalam Pemanfaatan Dana Itu



JAYAPURA - Meski upaya penanggulangan bencana kekeringan di Kabupaten
Yahukimo oleh pemerintah pusat yang penangganannya

langsung dibawah Interdep (Lintas Departemen) dengan dana bantuan sebesar
Rp 68 miliar, namun DPRD Yahukimo tetap meminta

agar dana itu diaudit penggunaannya.



Wakil Ketua DPRD Kabupaten Yahukimo Abok Busup,S.Th,M.Si menilai, Interdep
telah gagal melaksanakan upaya penanggulangan

bencana kekeringan di Yahukimo, mengingat selain program pengadaan
sembilan bahan makanan (bama) pokok bagi 17 titik wilayah

rawan bencana kekeringan tidak terelisasi dengan baik, Bama yang
seharusnya diberikan dengan gratis malah disalahgunakan

dengan diperjualbelikan. "Selain itu, program pengembangan varietes umbi
bagi masyarakat tidak tersosialisasi dengan baik,

bahkan saat ini dari 17 titik yang dijadikan lahan untuk pengembangan
varietas tersebut tidak berjalan lagi," tegas Abok

Busup kepada wartawan,kemarin.



Dikatakan, gagalnya program penanggulangan bencana kekeringan yang
berlangsung kurang lebih sembilan bulan dan baru berakhir

pada akhir Agustus lalu itu dinilai karena tidak dilibatkannya pemerintah
daerah dalam melaksanakan program-program

penanggulangan bencana kekeringan. " Kami di daerah sama sekali tidak
dilibatkan dalam pelaksanaan program-program

penanggulangan bencana ini, semua dihandel langsung oleh tim yang disebut
Interdep yang langsung datang dari pusat, baik itu

tenaga dokter dan lainnya sebagainya. Sehingga kalau program ini gagal
maka yang bertanggungjawab terhadap penggunaan dana

bantuan sebesar Rp 68 miliar itu adalah Tim Interdep,"tegas Busup



Dijelaskannya, kegagalan pelaksanaan program penanggulangan bencana
kekeringan di Kabupaten Yahukimo dapat dilihat dari

program pengembangan varietes umbi jalar yang seharusnya dilaksanakan di
17 titik wilayah rawan kekeringan tetapi yang

berhasil dilaksankan hanya di ibukota Yahukimo, yakni Dekai saja,
semenatara di 16 titik lainnya tidak ada hasilnya.



Untuk itu sebagai wakil rakyat, dirinya meminta agar penggunaan dana
bantuan kekeringan diKabupaten Yahukimo di Audit

mengingat terindikasi terjadi penyimpangan penggunaan anggaran. (and)

---

http://www.cenderawasihpos.com/Sentani/Sentani.3.html

Selasa, 05  September 2006



Keterlambatan Dana Otsus Mulai Dikeluhkan



SENTANI - Kepala Dinas Prasarana Daerah Kabupaten Jayapura Jansen Monim,
ST, MM mengungkapkan bahwa akibat keterlambatan

pencairan dana Otsus, sejumlah proyek infrastruktur di Kabupaten Jayapura
terhambat. Sejumlah pengusaha dan masyarakat juga

mengeluhkan keterlambatan pencairan dana Otsus, yang berdampak pada
terhambatnya pembangunan prasarana daerah, terutama jalan

dan jembatan.



Menurut Jansen, untuk pembangunan sarana infrastruktur berupa jalan dan
jembatan ini, Kabupaten Jayapura mendapatkan alokasi

dana sebesar Rp 12 miliar. Sebagian besar proyek jalan dan jembatan
tersebut, saat ini sudah mencapai lebih dari 50 % bahkan

ada yang sudah hampir rampung dengan mendekati 90 %. Ironisnya,
masing-masing pengusaha terpaksa harus bekerja dengan

modalnya sendiri, maupun pinjam di bank yang akan berdampak pada bunga
bila mengalami keterlambatan pembayaran..



"Karena sampai saat ini, belum sepeser pun dana Otsus yang kita terima
untuk membayar pekerjaan itu,"ujar Jansen saat ditemui

di ruang kerjanya, Senin (4/9) kemarin.



"Sebentar lagi musim hujan akan meningkat, hal ini juga menjadi kendala
untuk pembangunan sarana jembatan bila terjadi

banjir, sehingga akan bisa terjadi peningkatan biaya pekerjaan,"paparnya.



Beberapa pekerjaan sarana infrastruktur yang dibiayai dari dana otsus ini,
seperti jembatan di Kaureh, Depapre dan beberapa

lokasi lainnya. Diakui bahwa masalah pencairan dana otsus yang terlambat
tersebut memang sudah menjadi masalah klasik setiap

tahunnya, yang sering menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
(tri)

---

Selasa, 05  September 2006



Kisah Putra Papua Asal Paniai yang Berhasil Menjadi Pilot

(Bagian-2/Habis)



Selama menuntut ilmu di Lylidale Australia untuk meraih CPL, Mecky Frist
Nawipa selalu merasa kurang pandai dibanding peserta

lainnya, tapi ternyata ia mampu mengikuti setiap mata kuliah yang
diajarkan bahkan ia lulus memuaskan. Laporan RAHMATIA,

Jayapura



Sebagai anak kampung yang selalu hidup terbatas dalam keluarga, mungkin
wajar jika Mecky selalu merasa kurang percaya diri,

meski sebenarnya ia tergolong pemuda yang cukup cerdas. Selama menuntut
ilmu di Lylidale Ausie 2,6 tahun, Mecky awalnya

memang merasa cemas bila tidak berhasil, namun pelan tetapi pasti, rasa
cemas itu hilang ketika ia dinyatakan lulus dengan

nilai 82 persen.



"Saya tidak percaya ketika komputer memberikan saya nilai 82 persen,"
katanya geli mengenang saat-saat ujian akhir di

Lylidale. Setiap kali ujian di sekolah tersebut, ujiannya melalui
komputer, diperiksa oleh komputer dan yang menentukan lulus

atau tidak juga komputer. "Semua yang tentukan adalah komputer," imbuhnya.



Dituturkan, dari 7 mata kuliah, yang paling sulit dan menakutkan adalah
ketika mengikuti ujian akhir mata kuliah performance

aero plane yakni penampilan pesawat yang bagus ketika terbang dalam
kondisi medan bagaimanapun, di mana posisi pesawat harus

tetap stabil termasuk kapan pilot membutuhkan landasan yang panjang dan
kapan membutuhkan landasan yang pendek.



"Saya buka komputer dan mengerjakan semua soal yang ada di komputer lalu
komputer periksa, saya tunggu sebentar tidak lama

nilainya keluar. Saya kaget tidak percaya karena komputer kasih saya nilai
82 persen," tuturnya. Ketika dinyatakan lulus

dengan nilai 82 persen, ia hanya bisa menangis bersyukur karena hasil
kerja kerasnya berbuah manis. Ketika itu, ia tidak

menghubungi siapapun, ia hanya menangis bersyukur karena cita-citanya
sudah tercapai. Lulusnya Mecky ini merupakan satu-

satunya orang Papua yang menjadi pilot lulusan Lylidale.



Ditanya apa rencana selanjutnya, Mecky mengaku masih ingin latihan terbang
malam selama 6 minggu. "Itu yang saya inginkan

sementara ini," imbuhnya. Untuk itu, saat ini ia sedang mencari ongkos
untuk biaya latihan terbang malam dengan bekerja di

MAF. "Saya hanya bantu-bantu di MAF, saya mau kerja apa saja untuk cari
ongkos tambahan," katanya saja.(*)

---

Selasa, 04  September 2006



Perluas Wawasan, Generasi Muda Harus Banyak Membaca



SENTANI- Dengan banyak menyempatkan waktu untuk belajar dan membaca buku
secara baik dan kontinyu, apalagi buku yang

mengandung Ilmu Pengetahuan, teknologi dan keterampilan, diyakini akan
membawa perubahan besar dalam kehidupan bermasyarakat,

karena dengan membaca, orang yang tidak tahu bisa menjadi tahu, dan orang
yang bodoh akan menjadi pintar .



Demikian dikatakan Kepala Pemerintahan Distrik Depapre, Jac B Suwae,S.IP,
saat membuka selubung papan nama dan pintu taman

baca Edoubisye Atedlanalre ( Saya Tidak Mau Bodoh Lagi ), yang diprakarsai
oleh Yayasan Lembaga Pelayanan dan Pemberdayaan

Anak Papua ( YLP2AP ) di bawah pimpinan Dra Hana Hikoyabi, di Kampung
Waya, Distrik Depapre, Sabtu ( 2/9 ) lalu.



Sementara itu Ketua Yayasan Lembaga Pelayanan dan Pemberdayaan Anak Papua
( YLP2AP ), Dra Hana Hikoyabi, dalam kesempatan

itu, mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Yayasan yang dipimpinnya,
merupakan suatu bentuk kepedulian terhadap generasi

muda Papua yang masih terpuruk. Dengan terobosan ini, diharapkan akan
berpengaruh menghasilkan generasai muda papua dimasa

mendatang yang handal dan tangguh untuk menghadapi era globalisasi. Hana
Hikoyabi, adalah salah satu Tokoh Perempuan Papua

yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua II MRP.



Sekadar diketahui, setelah memprakarsai terbentuknya Tamaan Bacaan
Masyarakat ( TBM ) di Kampung Holtekamp Kota Jayapura dan

Kampung Ayapo Distrik Sentani Timur, kembali Yayasan Lembaga Pelayanan dan
Pemberdayaan Anak Papua ( YLP2AP ) melakukan hal

serupa di Kampung Waya Distrik Depapre Kabupaten Jayapura. ( yom )

---

Selasa, 04  September 2006



Masih di Bawah Standar

Angka Rata-rata Harapan Hidup Masyarakat di Biak



BIAK- Angka rata-rata harapan hidup masyarakat di Kabupaten Biak Numfor
saat ini masih dibawah standar nasional. Kepala Dinas

Kesehatan Kabupaten Biak Numfor Drs.Sefnath Korwa, MS mengungkapkan angka
rata-rata harapan hidup masyarakat di Biak saat ini

61,3 tahun masih di bawah standar nasional yaitu 66 tahun.



Dikatakan, masih rendahnya angka rata-rata harapan hidup masyarakat di
Biak menurut Sefnath Korwa disebabkan beberapa faktor

salah satu diantaranya masih rendahnya pemenuhan gizi masyarakat.



Rendahnya pemenuhan gizi bagi rata-rata masyarakat di Biak mengakibatkan
terjadinya penurunan daya tahan tubuh. "Untuk

masalah gizi ini ada masyarakat kita yang sama sekali tidak tahu tetapi
adapula yang tahu tapi masa bodoh. Selain itu faktor

ekonomi juga menjadi salah satu penghalang bagi beberapa keluarga untuk
memenuhi kebutuhan gizi mereka,"ungkapnya.



Selain faktor gizi, menurut Sefnath Korwa, masih rendahnya kesadaran
masyarakat untuk berprilaku hidup sehat. Dengan

menurunnya daya tahan tubuh maka penyakit akan sangat mudah menyerang.



Untuk Kabupaten Biak Numfor, penyakit TBC dan malaria merupakan dua
penyakit yang mengakibatkan kematian terbesar di daerah

ini."Kalau dari laporan rumah sakit penyebab kematian terbesar adalah
malaria dan TBC.sedangkan di Puskesmas menurut laporan

adalah malaria," tandasnya.



Untuk penyakit TBC sendiri yang masuk dalam kategori 10 penyakit besar,
Sefnath Korwa mengakui, cukup banyak di derita

masyarakat. Tingginya angka kematian akibat TBC di Biak menurut dia
disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat untuk berobat.

"Pada umumnya penderita TBC datang berobat ke rumah sakit saat kondisi
mereka sudah parah," tambahnya.



Disinggung mengenai upaya peningkatan angka harapan hidup, menurut
Sefnath, yang menjadi prioritas Dinas Kesehatan Biak saat

ini Yaitu peningkatan kesehatan keluarga. Untuk menciptakan keluarga yang
sehat, mulai tahun 2006 ini Dinkes akan

menghidupkan kembali program kunjungan ke rumah-rumah."Konsekuensi dengan
kunjungan ke rumah-rumah tersebut adalah

peningkatan dana operasional Pustu dan Posyandu. Namun manfaat yang kita
dapat jauh lebih besar ," tambahnya.(nat)

-----

Kunjungi juga: www.elshamnewsservice.tk

*** ELSHAM NEWS SERVICE adalah suatu bagian pelayanan informasi reguler
tentang situasi sosial politik dan implikasinya

terhadap HAM dan demokrasi di Papua. ELSHAM NEWS SERVICE menyebarkan
secara rutin laporan-laporan investigative aktual yang

diperoleh secara langsung dari jaringan ELSHAM yang tersebar di seluruh
pelosok Papua, nasional dan internasional. ELSHAM

adalah lembaga HAM yang berdiri 5 Mei 1998 bekerja untuk mengakhiri
militerisme, kekerasan dan impunitas serta melakukan

pendidikan HAM dan demokrasi bagi masyarakat Papua. Bagi anda yang ingin
berlangganan silahkan kirimkan permohonan dengan

menyertakan identitas yang jelas.

**************************************************************************




============================================================================
KABAR IRIAN ("Irian News since 1994") www.kabar-irian.com
NOTE: "All items are posted for their news/information content. They are
not necessarily the views of IRJA.org or subscribers. "