[Kabar-Irian] Berita: Bulan Maret sampai dengan 27 (Bahasa)


From "Admin-Editors Kabar-Irian" <editors@kabar-irian.com>
Date Tue, 27 Mar 2007 08:04:52 +0900 (EIT)
Importance Normal
List-archive <http://www.kabar-irian.com/pipermail/kabar-irian>
List-help <mailto:kabar-irian-request@kabar-irian.com?subject=help>
List-id News on Irian Jaya/West Papua/IRJA-BAR <kabar-irian.kabar-irian.com>
List-post <mailto:kabar-irian@kabar-irian.com>
List-subscribe <http://www.kabar-irian.com/mailman/listinfo/kabar-irian>, <mailto:kabar-irian-request@kabar-irian.com?subject=subscribe>
List-unsubscribe <http://www.kabar-irian.com/mailman/listinfo/kabar-irian>, <mailto:kabar-irian-request@kabar-irian.com?subject=unsubscribe>
User-agent SquirrelMail/1.4.6

========================KABAR IRIAN=========================================
News on Irian Jaya/West Papua/IRJA-BAR

Unsubscribe/Change Options: 
http://www.kabar-irian.com/mailman/listinfo/kabar-irian
Archives: http://www.kabar-irian.com/pipermail/kabar-irian

Email Commands- Subscribe/unsubscribe/options/help
List-Post: kabar-irian@kabar-irian.com
List-Help: kabar-irian-request@kabar-irian.com?subject=help
List-unsubscribe: kabar-irian-request@kabar-irian.com?subject=unsubscribe
List-subscribe: kabar-irian-request@kabar-irian.com?subject=subscribe
Contacts: admin@irja.org, news@kabar-irian.com, editors@kabar-irian.com
 

Too much mail? Switch to the digest version. As a matter of policy we DO NOT 
handle requests except in emergencies.

Kabar Irian (Papua)

Sampai Maret 27 2007

Topik2

* Perang Suku di Papua, 9 Orang Tewas
* 9 Tewas, Ratusan Warga Paniai Luka-luka
* Hari ini, 700-an Turis Asing Tiba di Jayapura
* TNI-AU akan Tempatkan Radar di Timika
* Soal Tambang Emas Harus Dibicarakan
* Hak Warga di LNG Tangguh Harus Dituntaskan
* Presiden Segera Tandatangani Perpu Provinsi Papua Barat
* Terapung di Laut
* 200 Warga Papua Akan Dipulangkan dari PNG
* Dubes Belanda Pertemuan Tertutup Dengan Gubernur
* 741 Guru di Papua Tinggalkan Tugas
* "Kami Tak Dukung Separatis Papua"
* Dikeroyok Massa, 1 Orang Tewas
* Pemerintah Bangun 11 Ruas Jalan di Papua
* TONGGOI PAPUA PT FREEPORT MENUNTUT HAK
* MAHASISWA PAPUA KORBAN BANJIR JAKARTA DAPAT BANTUAN
* LAGI, MASSA MENDATANGI KANTOR DPRD TIMIKA
* Massa yang masih menduduki Kantor DPRD Mimika.
* PEMERINTAH TETAP MENJALANKAN PROGRAM KESEHATAN RAKYAT MISKIN
* KENDARAAN DI KOTA TIMIKA ANTRE PREMIUM DI SPBU
* PEMILIHAN KETUA DPRD MIMIKA DIWARNAI LEMPAR BATU
* PEMILIHAN KETUA DPRD DI MIMIKA BERLANGSUNG RICUH
* PETUGAS KEAMANAN FREEPORT MENGGAGALKAN PENYELUNDUPAN KUPU-KUPU
* PERSEDIAAN PINANG DI TIMIKA MENIPIS
* TENAGA MEDIS MOGOK KERJA, PUSKESMAS TERABAIKAN
* PEMERINTAH BERUPAYA MENINGKATKAN HARGA JUAL LNG TANGGUH
* Pusat Didesak Revisi Kontrak Kerja Freeport
* Dana PAUD Papua, Naik
* Pemprov Papua Serius Tangani Pembangunan Jalan Nabire-Enarotali
* Pemerintah Percepat Proses Pergantian Nama Irjabar Jadi Papua Barat
* Panwas Beberkan Laporan Kecurangan Pilkada
* Warga Papua Unjuk Rasa Tolak Pemekaran
* Pembagian Dana Otsus dengan Irjabar Perlu Payung Hukum
*

---


http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/03/09/brk,20070309-95188,id.html

Perang Suku di Papua, 9 Orang Tewas
Jum'at, 09 Maret 2007 | 23:26 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Perang antara suku Dani dan Kobagau di Papua
kembali terjadi. Sebanyak

sembilan orang tewas dalam perang antarsuku itu. Salah satu korban,
Herman, anak berusia sebelas

tahun. "Perang antarsuku ini adalah perang lanjutan dari yang sudah
terjadi beberapa waktu lalu," kata

Kepala Bidang Penerangan Umum Markas Besar Kepolisian RI Komisaris Besar
Bambang Kuncoko di

kantornya, Jumat (9/3).

Menurut Bambang, korban tewas terdiri dari lima orang dari suku Kobagau
dan empat lainnya dari suku

Dani. Empat korban tewas dari suku Dani adalah Hendrikus (30 tahun), Yoan
(35), Rafaelus (35), dan

Nicodemus (58). Sedangkan dari Kobagau, selain Herman, adalah Alfons (36
tahun), Enos (28), Poka

(38), dan Daniel (40).

Bambang mengatakan, saat ini Kepolisian Resort Paniai, Papua, berusaha
mencegah perang agar tak

berlanjut. Bentrokan yang terjadi sejak Rabu (7/3) lalu itu kini sedang
diupayakan diselesaikan dengan

melibatkan kepala suku (ondoasih) dan kampung (korani) dari kedua belah
pihak. "Pendekatan persuasif

secara intensif sedang dilakukan," kata Bambang. Sebab, kata dia, jika tak
ada penyelesaian, perang

akan terus berlanjut terus karena ada dendam.

Yophiandi

---

KOMPAS
Sabtu, 10 Maret 2007


9 Tewas, Ratusan Warga Paniai Luka-luka

Jayapura, Kompas - Pertikaian antarwarga Papua kembali terjadi di
Kabupaten Paniai, Papua. Hingga

Jumat (9/3), perang tradisional itu sedikitnya menewaskan sembilan orang
dan melukai ratusan warga

lainnya. Berkait dengan itu, Kepolisian Resor Paniai telah menurunkan tim
untuk mendamaikan kelompok

yang bertikai.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah Papua Brigjen (Pol) Max Donald Aer di
Jayapura menjelaskan,

pertikaian di Kampung Yoparu, Distrik Sugapa, Kabupaten Paniai, itu telah
berlangsung sejak 26

Februari. "Awalnya ditangani oleh Kepolisian Sektor Sugapa, tetapi
pertikaian terus berkembang," kata

Aer.

Aer mengatakan, jarak Kampung Yoparu dengan Markas Polsek Sugapa sangat
jauh dan hanya bisa

ditempuh dengan berjalan kaki. Karena sulitnya komunikasi, sampai Jumat
malam Aer belum mendapat

laporan tentang situasi terakhir di lokasi Yoparu.

Data yang dihimpun Polda Papua menyebutkan, pertikaian di Kampung Yoparu
itu juga melibatkan anak

-anak. Setidaknya, salah seorang korban tewas adalah anak-anak, Herman
Kobogau (11). Korban tewas

yang lain dalam pertikaian itu adalah Hendrikus Sani (26), Yan Sani (35),
Rafael Sani (35), Niko Sani

(50), Alfons Kobogau (36), Enos Jegeseni (28), Baka Kobogau (38), dan
Daniel Kobogau (40).

Dalam pertikaian yang telah berlangsung satu pekan itu, 32 orang terluka
parah dan 122 orang luka

ringan. Seorang anggota Kepolisian Sektor Sugapa, Bripda Yafet Turembi,
juga terkena panah di bahu

kiri. Turembi berhasil diselamatkan dan kemudian dibawa ke Rumah Sakit
Umum Daerah Nabire dengan

pesawat terbang.

Pertikaian bermula dari meninggalnya Hendrikus Sani. Pihak keluarga
menduga Hendrikus diracun

Stevanus Kobogau. Karena itu, mereka meminta denda kepada Urubeka Kogoya,
istri Stevanus.

Pihak Kogoya tak terima sehingga terjadi perang. "Pertikaian itu berhasil
didamaikan, tetapi kembali

terulang pada 26 Februari." kata Aer. (row)

---

CENDRAWASIH POS
Sabtu, 10  Maret 2007

Hari ini, 700-an Turis Asing Tiba di Jayapura

JAYAPURA- Sepertinya Kota Jayapura mulai dilirik turis mancanegara.
Buktinya hampir setiap tahun ada

saja wisatawan mancanegara yang datang ke Kota Portnumbay ini, baik yang
datang sendiri-sendiri

maupun berbarengan dengan menumpang kapal pesiar. Seperti yang terjadi
Sabtu (10/3) pagi hari ini.

Dipastikan sekitar pukul 06.00 WIT akan tiba satu kapal pesiar asal
Bahamas USA yang bernama Maxim

Gorkiy dengan mengangkut 700-an bule.

Kepala Kantor Imigrasi Klas I Jayapura Giri Haryanto, SH mengungkapkan hal
itu kepada Cenderawasih

Pos kemarin. "Besok, satu kapal pesiar akan masuk ke Kota Jayapura dan
membawa ratusan turis

asing," ungkapnya. Kapal pesiar tersebut akan membawa sekitar 768
wisatawan yang datang dari

berbagai negara di dunia, sehingga dipastikan hari ini Kota Jayapura bakal
kebanjiran turis asing.

Dikatakan, sejauh ini pihaknya sudah menerima laporan dan manifest (daftar
penumpang kapal) itu dan

sejauh ini tidak ada masalah, karena secara administrasi dirasa cukup
memenuhi syarat.

"Tapi kita tidak tahu besok nanti kita lihat saja, kami sudah mengirim
staf ke Wiwak dan akan menyertai

kapal itu sampai ke Jayapura hari ini," katanya. Dan hari ini tentunya
pihaknya akan kembali melakukan

pemeriksaan dokumen terhadap para wisatawan manca negara itu.

Kata Giri, kemarin kapal pesiar tersebut sedang berlabuh di Wiwak Papua
New Guinea (PNG) setelah

sebelumnya berangkat dari Sidney Australia dan sore kemarin berangkat
menuju Kota Jayapura.

"Jadi kapal itu sekarang sedang singgah dan berlabuh di Wiwak, besok pagi
tiba di pelabuhan Jayapura,"

jelasnya.

Di Jayapura, kapal tersebut akan berlabuh hingga bebarapa jam sementara
para turis akan mengunjungi

sejumlah objek wisata dan situs sejarah. Hanya saja, ia tidak menyebutkan
secara rinci ke objek wisata

mana saja para turis itu akan berkunjung, namun dipastikan hanya objek
wisata yang ada di sekitar

Jayapura saja yang akan dikunjungi.

Adapun asal negara para wisatawan tersebut antara lain, dari Jerman,
Austria, Swiss, Rusia, Denmark,

Belanda, Italia, Luxemburg dan Thailand. "Tapi berdasarkan manifest yang
dikirim kepada kami, yang

paling banyak datang dari Jerman," katanya. Sorenya, kapal tersebut akan
kembali berlayar menuju

Belawan dan selanjutnya ke Sabang.

Ditambahkan Giri, hal positif yang diambil dari kunjungan kapal pesiar ini
adalah menjadi indikator bahwa

potensi wisata Kota Jayapura saat ini sudah mulai terkenal di mancanegara,
sehingga mengundang para

wisatawan untuk datang singgah ke kota ini. "Jadi ini adalah sesuatu yang
baik, karena dengan begitu

kota Jayapura akan menjadi semakin terkenal," tandasnya.(ta)

Sabtu, 10  Maret 2007

---

http://www.antara.co.id/arc/2007/3/14/tni-au-akan-tempatkan-radar-di-timika-papua/


TNI-AU akan Tempatkan Radar di Timika, Papua


Timika, Papua (ANTARA News) -
Markas Besar (Mabes) TNI-AU berencana menempatkan sebuah radar pertahanan
udara di Timika,

Kabupaten Mimika, Papua untuk memantau dan mengantisipasi kemungkinan
terjadinya pelanggaran

lintas batas udara oleh pesawat asing.

"Sesuai program dari Mabes TNI-AU, tahun 2007 kita akan

tempatkan radar di Merauke menyusul Timika dan Kaimana di Provinsi Papua
Barat/Irian Jaya Barat.

Dengan demikian pertahanan udara di kawasan selatan Papua menjadi rapat
sehingga tidak ada celah

bagi kemungkinan terjadi gangguan keamanan dari udara," kata Komandan
Pangkalan Udara (Danlanud)

Moses Kilangin, Timika, Letkol. Teck.

 Bambang Triono di Timika, Rabu.

Menurut Triono, saat ini di seluruh wilayah Papua baru terdapat satu

radar pertahanan udara yaitu di Biak. Dengan kondisi tersebut, katanya,
TNI-AU tidak mampu memantau

seluruh wilayah Papua dari kemungkinan pelanggaran lintas batas udara dari
pesawat asing bahkan tidak

dapat pula memantau kasus-kasus pencurian dan penyelundupan sumber daya
alam yang terjadi di

seluruh wilayah Papua.

"Kalau tidak ada hambatan tahun depan dimulai pembangunan berbagai prasarana

pendukung seperti menara untuk penempatan radar itu dan diperkirakan tahun
2010 sudah bisa

dioperasikan. Daya jangkaunya 250 notikal mile. Soal anggarannya saya
tidak tahu persis tapi yang pasti

untuk sebuah teknologi tinggi, biayanya tidak murah," papar Triono.

Terkait rencana dimaksud, katanya,

Lanud Timika akan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah (Pemkab) Mimika.

Menyinggung tentang

pengawasan udara yang dilakukan jajaran TNI-AU di Papua, Triono
menjelaskan sejauh ini tetap dilakukan

sesuai kemampuan sarana dan prasarana yang dimiliki.

"Patroli udara dilakukan secara rutin sepanjang

tahun dengan menggunakan pesawat boeing 737 seri 200 yang berhomebase di
Makassar, Sulawesi

Selatan," jelasnya.

Triono juga menyinggung tentang kegiatan lapis ulang (over lay) Bandara Moses

Kilangin Timika yang dilakukan oleh pihak PT AVCO, mitra PT Freeport
Indonesia akan dikerjakan mulai

April mendatang.



Bandara Moses Kilangin, katanya, merupakan bandara dengan standar
internasional. Panjang landasan

pacu 2.395 meter. Letak Bandara Moses Kilangin Timika sangat strategis
dalam rangka menunjang

operasi TNI-AU khususnya dalam hal pengangkutan logistik sembilan bahan
pokok (sembako) ke daerah

-daerah pegunungan tengah dan selatan Papua.(*)




Copyright © 2007 ANTARA


---

KOMPAS
Jumat, 16 Maret 2007


Soal Tambang Emas Harus Dibicarakan


Jayapura, Kompas - Border Liasons Officer Meeting antara Pemerintah RI dan
Pemerintah Papua Niugini

pada April mendatang diharapkan mengagendakan pembahasan dampak negatif
pertambangan Ok Tedi

Mining Limited di Papua Niugini terhadap wilayah Papua.

Saat ini tiga kabupaten di Papua tercemar. Sementara Ok Tedi Mining
Limited (OTML) akan mengakhiri

operasinya pada tahun 2010.

Kepala Badan Perbatasan dan Kerja Sama Daerah Provinsi Papua Berti
Fernandez menjelaskan akan

mengusulkan kepada pemerintah pusat agar dampak negatif pertambangan OTML
diagendakan dalam

pertemuan Border Liasons Officer Meeting di Kiungga, Papua Niugini (PNG),
April.

"Kalau sudah menyangkut masalah pencemaran lingkungan, tentu harus
dibahas. Tentunya kita juga perlu

mendengar pandangan Pemerintah Papua Niugini. Kita perlu meletakkan
pilihan permasalahan (yang

diagendakan) dari sudut kepentingan kita," kata Berti.

Perusahaan OTML dimiliki perusahaan pertambangan Australia, BHP Billiton,
yang memproduksi emas

sejak 1984. Perusahaan itu setiap hari membuang 80.000 ton tailing (limbah
padat) dan 12.000 ton batuan

sampah ke Sungai Ok Tedi di PNG yang mengalir ke Sungai Fly, yang melewati
Kabupaten Boven Digul

dan Kabupaten Merauke. Namun, masyarakat sekitar tak pernah diberi
kompensasi.

Bupati Boven Digul Yusak Yaluwo mengatakan, dampak pencemaran dirasakan di
tiga distrik, yaitu

Waropko, Mindiptana, dan Jair. Pepohonan dan ikan di bantaran Sungai Fly
juga mati.

Soal pencemaran pernah dibicarakan pada pertemuan pemerintah kedua negara
di Kalimantan 2006,

tetapi belum ada tindak lanjutnya. Dia berharap hal itu bisa ke dunia
internasional.

Tanah ulayat

Selain mencemari sungai di Boven Digul dan Merauke, lokasi tambang yang
berada 18 kilometer di

sebelah timur perbatasan RI-PNG itu adalah tanah hak ulayat Suku Ngalum.

"Suku Ngalum tak pernah menerima kompensasi dari kegiatan OTML. Padahal,
mereka di Kabupaten

Pegunungan Bintang menerima dampak sosial dari kegiatan pertambangan itu,"
ujar Wakil Bupati

Pegunungan Bintang Theodorus Sitokdana saat dihubungi di Jakarta, Kamis
(15/3).

Pertambangan Ok Tedi yang diekstrasi OTML itu terletak di Pegunungan
Bintang (Star Mountain), di sudut

utara ke arah barat Western Province, PNG.

Pada tahun 1994 masyarakat adat di PNG melakukan gugatan class action
terhadap BHP, pemegang

saham terbesar OTML. Gugatan itu dilakukan di Pengadilan Melbourne,
Australia. Akhirnya, pada tahun

1996 dicapai kesepakatan bahwa OTML membayar sejumlah kompensasi kepada
masyarakat setempat.

Pada tahun 2001, OTML kembali digugat di pengadilan dengan tuduhan tidak
mematuhi kesepakatan

tahun 1996.

Masalah itu diselesaikan melalui pendirian Papua New Guinea Sustainable
Development Limited selaku

pelaksana program pembangunan masyarakat PNG. Setiap tahun BHP Biliton
membayar program

pembangunan masyarakat senilai lebih dari 80 juta dollar AS. (row)

---

RADAR SORONG

Jumat, 16 Maret 2007



Hak Warga di LNG Tangguh Harus Dituntaskan


MANOKWARI - Tuntutan masyarakat asli di daerah proyek pertambangan gas
cair alam, LNG (Liquid

Natural Gas) Tangguh yang merupakan bagian hak mereka harus dibicarakan
secara tuntas sebelum

perusahaan raksasa itu berproduksi. "Permintaan masyarakat agar adanya
persentasi hasil produksi

perusahaan BP pada masa produksi nantinya, menurut saya, harus dibicarakan
sekarang," ujar Prof.

Frans Wanggai, Rektor Universitas Negeri Papua, Rabu (14/3).
Menurut Frans Wanggai, upaya tersebut mesti dilakukan segera oleh
masyarakat -yang terkena dampak

atau daerahnya yang di-tambang- dengan pemerintah daerah, pemerintah
pusat, dan pihak perusahaan.

''Soal persentasi, 1 % atau 10 % itu tidak masalah, sepanjang adanya
kesepahaman bersama oleh semua

pihak yang berkepentingan," ungkapnya. Yang pasti, mesti ada sesuatu
bagian hasil produksi

perusahaan gas alam cair terbesar di Asia Tenggara itu bagi masyarakat
setempat.
Sementara itu, terkait permintaan masyarakat dalam keikutsertaan
kepemilikan saham pada perusahaan

LNG Tangguh BP Tangguh, menurut Frans Wanggai, tidak masalah, asalkan
memiliki modal yang cukup

guna membeli sebagian saham perusahaan itu, dalam bentuk penyertaan modal
usaha. "Kan dalam satu

usaha itu, kepemilikan saham berarti saya punya uang yang diinvertasikan
pada perusahaan tersebut.

Tapi ingat ketika perusahaan bangkrut, anda juga ikut bangkrut. Jadi
sebaiknya, masyarakat jangan dulu

berpikir soal saham untuk saat ini,"pesannya.
Dia berharap perjuangan bersama, warga Teluk Bintuni, agar memiliki
sesuatu bagian pada hasil produksi

perusahaan LNG Tangguh, seperti permintaan prosentase hasil produksi
dapat dilakukan dengan pendekatan yang baik dan bijaksana. (cr-17)

---

RADAR SORONG
Jumat, 16 Maret 2007



Presiden Segera Tandatangani Perpu Provinsi Papua Barat


MANOKWARI-Pergantian nama Provinsi Irian Jaya Barat menjadi Provinsi Papua
Barat secara resmi

tinggal menghitung hari. Sejumlah pejabat Provinsi Papua Barat dan pejabat
Depdagri terus melakukan

pembicaraan. Kamis (15/3) kemarin dilakukan pembicaraan tahap IV yang
terakhir untuk

mengharmonisasikan pandangan dengan Mensesneg. ''Hari Kamis, rapat tahap
IV untuk harmonisasi.

Pokoknya sudah disetujuilah tinggal diresmikan,'' ujar Plt Sekda Provinsi
Papua Barat, Ir ML Rumadas MSi kepada Manokwari Pos, kemarin.
  Lebih jauh, Plt Sekda menyatakan, pergantian nama ini perlu ditetapkan
dalam suatu peraturan

pemerintah pusat karena provinsi ini lahir dengan nama Provinsi Irian Jaya
Barat berdasarkan UU No 45

Tahun 1999 yang telah dinyatakan gugur oleh majelis hakim Mahkamah Konstitusi
pada tahun 2004 lalu. Dan perubahan nama ini akan dituangkan dalam
Peraturan Pemerintah (PP).
  Bila sinkronisasi dengan Mensegneg berjalan baik, maka selanjutnya
rancangannya akan diserahkan ke

Presiden untuk kemudian PP ditandatangani.''Kalau sudah sinkron tinggal
ditandatangani Presiden untuk ditetapkan sebagai Peraturan Pemerintah.Ya,
kita harapkan tidak terlalu

lama lagi,'' ujarnya.
  Dikatakan Rumadas lagi, perubahan nama ini akan menjadi hadiah istimewa
dari Presiden Susilo

Bambang Yudhoyono untuk masyarakat Papua Barat. Direncanakan Presiden akan
menyerahkan langsung PP ini di Manokwari. Sebab, dijadwalkan presiden akan
berkunjung ke Prov

Papua Barat pada 23 Maret mendatang.''Akan menjadi hadiah istimewa untuk
masyarakat Papua Barat,''

paparnya lagi.
Ia belum mau menjelaskan poin-poin penting dalam perubahan nama tersebut,
namun yang jelas, dengan

pergantian resminya perubahan nama menjadi Provinsi Papua Barat, maka
langkah untuk mensinkronkan dengan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otsus
makin terbuka. Ini juga

akan mendukung hasil kesepakatan antara Gubernur Papua Barat dengan Gubernur
Papua di Mansinam 20 Februari mengenai pembagian dana Otsus untuk kedua
provinsi di tanah Papua.
Ditanya mengenai rencana pertemuan menindaklanjuti kesepakatan Mansinam 20
Februari lalu, Plt Sekda

menyatakan, jadwal belum mengalamai perubahan, yakni pada minggu kedua
April nanti. Dalam

pertemuan yang melibatkan kedua gubernur, para bupati se-tanah Papua ini
diharapkan akan ada

penyerahan aset P3D dari Provinsi Papua ke Provinsi Papua Barat serta
kejelasan mengenai pembagian

dana otonomi khusus. (lm)

---

KOMPAS - Selasa, 20 Maret 2007


Terapung di Laut
Mereka Diselamatkan Kebesaran Tuhan


Agung Setyahadi

Selama 15 hari terombang-ambing di lautan lepas, rombongan Kepala Dinas
Kesehatan Maluku Tenggara

Barat dr Juliana LL Carolus (49) mengalami berbagai kejadian luar biasa
yang jauh di luar logika. Mereka

sempat digoda oleh harapan-harapan semu yang hampir menjebak dalam
keputusasaan.

Selama berada di tengah lautan, Juliana Carolus beserta lima stafnya, Nel
Tulalean, Maikel Jilfufin, Dani

Ariesan, Adebu Rahanluan, dan Sami Jabar, tak putus-putusnya berdoa.
Namun, Tuhan menguji mereka

terlebih dahulu.

Ujian pertama datang pada 1 Maret pukul 15.00 WIT saat mereka berada di
Tanjung Neraka, perairan

yang terkenal ganas karena berbatasan dengan laut lepas. Cuaca cerah
tiba-tiba berubah gelap, angin

bertiup kencang, dan air laut pun bergolak. Kapal diombang-ambingkan
gelombang besar.

Mereka berteriak-teriak ketakutan sambil terus berdoa memohon diselamatkan
Tuhan. Mereka kemudian

"dikeluarkan" dari badai dan cuaca pun kembali cerah.

Ujian pertama itu menyisakan trauma sekaligus menguatkan mereka saat
menghadapi cobaan berikut.

Malam harinya mereka dihantam gelombang besar lagi. Doa terus dipanjatkan.
Selama dua hari terapung

itu, mereka dihantam tiga kali badai. Cuaca tenang selama dua hari, tetapi
mereka dihantam badai lagi

hingga sekitar 10 kali.

"Setelah penyelamatan yang pertama, kami dikuatkan. Mukjizat Tuhan, setiap
ada gelombang besar,

ombak pecah di depan kami dan jadi ombak kecil-kecil," kata Juliana Carolus.

Dalam perjalanan itu, mereka makan makanan pendamping (MP) ASI yang akan
diberikan kepada anak-

anak penderita busung lapar di Kecamatan Kormomolin, Kabupaten Maluku
Tenggara Barat, Maluku.

Mereka memperoleh air tawar dari hujan yang turun bersama badai. Air
ditampung di atap kapal cepat

(speedboat) dan dimasukkan ke dalam plastik-plastik pembungkus MP ASI.

Keenam orang itu tidur berdesakan di dalam dek speedboat yang sempit.
Buang air pun terpaksa mereka

lakukan di dalam speedboat. Kapal kecil itu menjadi rumah mereka di tengah
Laut Arafuru. Kalau hujan,

mereka tetap basah. Bila cuaca cerah, mereka menjemur salah satu di antara
dua baju yang dibawa di

atap speedboat.

Di tengah pengharapan dan ketidakpastian itu, mereka merasa terhibur oleh
dua ikan yang menyertai

mereka selama terapung di laut. Setiap kali laut tenang, dua ikan itu
selalu tampak di sisi speedboat.

Dokter Juliana Carolus sendiri tak tahu jenis ikan yang terus mengikuti ke
mana pun speedboat bergerak.

Rombongan yang dipermainkan ombak itu berbagi makanan dengan sepasang ikan
itu. Remah-remah MP

ASI ditaburkan ke laut untuk dua teman setia mereka itu.

Setelah berhasil melalui ujian-ujian alam, mereka diuji dengan
harapan-harapan. Di kejauhan mereka

melihat kapal nelayan. Harapan selamat bangkit kembali dan mereka
berteriak-teriak meminta tolong.

Namun, harapan berubah menjadi kehampaan saat kapal itu tidak jadi mendekat.

Cobaan itu datang hingga enam kali, bahkan speedboat mereka berada sangat
dekat dengan kapal

kontainer. Namun, tak ada yang mendengar teriakan mereka.

"Sering anak-anak ini mengeluh karena tiba-tiba kapal nelayan tak jadi
menolong. Saya bilang enggak

boleh begitu, Tuhan tidak akan menolong. Itu adalah cobaan," ujar Juliana
Carolus.

Dalam kungkungan ketidakpastian itu, mereka mengucapkan nazar. Bila
selamat, ada yang ingin

mengabdikan diri untuk melayani masyarakat di Maluku Tenggara Barat, ada
pula yang hendak

membantu gereja.

"Kalau Tuhan memakai kami untuk melayani di sana, tolong selamatkan. Apa
pun yang terjadi, kami akan

kembali untuk melayani masyarakat Maluku Tenggara Barat," ujar dr Juliana
Carolus yang bertugas di

daerah itu sejak tahun 2005.

Doa mereka baru terjawab setelah 15 hari di lautan. Pertolongan datang
dari kapal nelayan Putra Tunggal

yang dinakhodai Samsudin. Pertolongan datang di ujung waktu karena jika
terlambat sehari lagi, mereka

akan melewati perbatasan Papua Niugini, dan kemungkinan selamat sangatlah
tipis.

"Saat itu kami sudah tidak punya air. Kalau tidak ada yang menolong, kami
pasti mati satu per satu. Saat

katong susah, Tuhan kasih bantuan kepada katong untuk pulang," kata Dani
Ariesan di Bandara

Pattimura, Ambon, Sabtu (17/3).

Keselamatan enam orang yang selama 15 hari hilang di laut lepas itu
disyukuri oleh mereka dan

keluarganya. Mereka tetap akan menjalankan tugas di Dinas Kesehatan Maluku
Tenggara Barat. Nel

Tulalean dengan mantap menyatakan akan tetap menjalankan tugasnya mengabdi
bagi masyarakat.

"Saya akan tetap melayani sampai profesi selesai," katanya.

Juliana Carolus pun mensyukuri keselamatannya dengan kembali menjalankan
tugasnya di daerah itu. Ia

akan melayani masyarakat Maluku Tenggara Barat yang masih dilanda busung
lapar dan minim layanan

kesehatan. Tuhan menyelamatkan mereka untuk menerangi rakyat yang jauh di
tenggara Kepulauan

Maluku itu....

---

CENDRAWASIH POST
Kamis, 22 Maret 2007

200 Warga Papua Akan Dipulangkan dari PNG

*Agustadi: Masih Ada 25.000 Warga RI (Papua) di Sana

JAYAPURA- Meski sampai saat ini pertemuan antara Presiden (RI) H. Susilo
Bambang Yudhoyono

(SBY) dengan Perdana Menteri PNG (Papua New Guinea) Michael Somare, belum
bisa dipastikan

tanggal pelaksanaannya, bahkan terus diundur, namun hal itu tidak
mengurangi hubungan persaudaraan

antara dua negara tetangga itu. Bahkan saat ini hubungan keduanya sangat
baik dan harmonis.

Salah satu indikasi tetap harmonisnya hubungan kedua negara itu, dalam
waktu dekat ada 200 warga

Papua (RI) yang selama ini berada di PNG segera dipulangkan ke Indonesia
(Papua).

Hal itu seperti dikemukakan Sekretaris Menteri Koordinator Politik Hukum
dan Keamanan (Sesmenko

Polhukam) Agustadi.S.P ketika menjawab Cenderawasih Pos di Skouw kemarin.

"Sepengatahuan saya hubungan diplomatik antara pemerintah Republik
Indonesia dengan Pemerintah

PNG tidak ada masalah, bahkan sangat harmonis, kita seperti saudara tuh,"
katanya enteng.

Soal rencana pertemuan dua kepala negara yang sudah direncanakan sejak
tahun 2006 lalu itu yang

terus molor hingga kini sesungguhnya dikarenakan padatnya jadwal dan
tugas- tugas Presiden SBY dan

Somare sendiri, sehingga belum bisa berkunjung ke perbatasan RI - PNG.

"Rencana ini molor mungkin dikarenakan kesibukan lain dari Presiden SBY
yang lebih penting di Jakarta

sehingga belum sempat ke sini (perbatasan), nanti pada waktunya pasti akan
kesini," tuturnya.

Jenderal bintang tiga yang pernah tugas di Papua ini juga menampik adanya
isu bahwa sesungguhnya

pemerintah PNG kurang siap mengikuti pertemuan itu. "Oh tidak memang
jadwalnya lagi padat, ada

kunjungan macam - macam dari luar sehingga bapak presiden mengundurkan
rencana itu," potongnya.

Ditanya soal adanya sinyalemen dimana pemerintah Australia yang sengaja
mengintervensi pemerintah

PNG sehingga rencana pertemuan dua kepala negara itu terus diundur,
Agustadi lagi - lagi membantah

hal itu.

"Tidak, alasannya hanya karena bapak presiden sedang ada kesibukan lain
dan tidak bisa ditinggalkan,"

ujarnya serius.

Ia hanya mengatakan bahwa tujuan dirinya bersama beberapa anggota
rombongannya ke perbatasan RI

- PNG itu tak lain hanyalah menjalankan tugas - tugas Menteri Polhukam
yang saat ini sedang sibuk

sehingga tidak sempat datang. Selain itu, juga untuk meninjau dan melihat
kondisi keamanan di

perbatasan RI - PNG itu.

"Kebetulan ini berkaitan dengan tugas Menkopolhukam, kami juga melihat
perbatasan bagaimana

keadaanya kemudian melihat anggota kita yang ada disini dan keamanan
disini. Itu tugas kami," katanya.

Agustadi menambahkan bahwa dalam waktu dekat ini akan dilakukan repatriasi
(pemulangan) 200 orang

warga RI (Papua) dari PNG yang akan dilakukan oleh pihak Departemen Dalam
Negeri bersama - sama

dengan Pemerintah Daerah Papua. Kata dia rencana tersebut sudah lama
disampaikan, namun waktunya

masih harus menunggu kesiapan pemerintah PNG untuk melepas orang - orang
tersebut.

"Waktunya mungkin menunggu kesiapan dari PNG untuk melepas orang - orang
sebanyak 200 orang,"

ujarnya seraya menambahkan bahwa 200 orang warga itu

semuanya akan pulang dengan sukarela alias tanpa paksaan.

Ke-200 warga RI yang akan dipulangkan itu kata Agustadi umumnya
berdomisili di Mile 8. Meski begitu, ia

tidak menampik bahwa saat ini masih ada 25.000 warga RI yang tinggal di
sejumlah tempat di PNG.

Kepada 25.000 warga Papua (RI) yang masih ada di PNG itu, Agustadi sangat
berharap agar kembali ke

kampung halamannya di Papua (RI) dengan ikhlas dan sukarela atas kemauan
sendiri tanpa paksaan.

"Kita harapkan 25.000 orang kita di sana bisa pulang ke Papua dengan
ikhlas dan sukarela tanpa

paksaan, terhadap mereka, kita siap menerima mereka," ujarnya. Soal
bagaimana hidup warga Papua

(RI) di PNG, Agustadi enggan mengomentari. "Itu saya tidak tahu," tandasnya.

Dalam rombongan Sesmenko Polhukam itu, terlihat diantaranya Deputi I
Politik Dalam Negeri, Setia

Purwaka, SI.P, MM, Deputi IV Pertahanan Negara Romulo Robert Simbolon,
S.Sos, MM, mantan Kapolda

Papua Budi Utomo yang kini menjabat sebagai Deputi V Keamanan Nasional dan
sejumlah staf

kementerian Polhukam.

Di batas negara itu, Sesmenko yang didampingi Sekda Drs H. Andi Baso
Basaleng meninjau tapal batas

dan meninjau kantor pos perbatasan. Hadir juga diantaranya Kasdam
XVII/Trikora Brigjend TNI Geerhan

L, Danrem 172/ PWY Kol Kav Burhanudin Siagian, serta sejumlah pejabat di
daerah ini. Pada

kesempatan itu juga dilakukan dialog dengan pemerintah daerah dan
mendengarkan paparan Kepala

Badan Perbatasan dan Kerjasama Daerah Provinsi Papua Berty Fernandez
menyangkut denah jalur

pelayanan pos pemeriksaan lintas batas (PPLB).(ta)

---

CENDRAWASIH POST

Kamis, 22 Maret 2007

Dubes Belanda Pertemuan Tertutup Dengan Gubernur

*Disebut-sebut Bahas Rencana Kerja Sama

JAYAPURA- Seperti yang sudah dijadwalkan, semalam Duta Besar Belanda Dr
Nikolaos Van Dam untuk

Indonesia bertemu dengan Gubernur Papua Barnabas Suebu, SH di ruang VIP
Gedung Negara.

Pertemuan yang diawali dengan makan malam bersama tersebut ikut dihadiri
oleh sejumlah unsur

Muspida Papua. Hanya saja apa saja yang dibicarakan tak banyak diketahui
pers. Pasalnya pertemuan

itu berlangsung secara tertutup.

Terlihat diantaranya Kapolda Papua Irjend Pol Tomy T Yacobus, Ketua
Pengadilan Tinggi Papua I Gusti

Ngurah Suparka, SH, Ketua Kejaksaan Tinggi Lorens Serworwora, SH, Wakil
Ketua II MRP, Dra Hanna

Hokoyabi, Asisten Terotorial Kasdam XVII/Trikora dan sejumlah pejabat
eselon II di jajaran Pemprov

Papua antara lain Ketua BAPPEDA DR Abraham Werimon, M.Ed dan Wakil Kepala
Dinas Kesehatan

Provinsi Papua, dr Bagus Sukaswara.

Pertemuan yang berlangsung santai dan diselingi jalan - jalan ke taman itu
disebut-sebut membahas

bantuan pemerintah Belanda untuk Papua yang diberikan melalui UNDP (united
nation development

program).

Hanya sayangnya, Gubernur Suebu terlihat enggan mengomentari hal itu
karena memang tidak ada

ruang untuk itu mengingat padatnya acara Gubernur tadi malam. Menurut
sejumlah staf-nya pertemuan

tersebut memang hanya bertajuk undangan makan malam biasa. "Biasa, bapak
Gubernur hanya menjamu

tamu Dubes saja tidak ada hal - hal prinsip lain," ujar Ronald Tapilatu
salah seorang Sekpri Gubernur

yang ikut dalam pertemuan itu.

Namun begitu, ketika dikonfirmasi pada sejumlah pejabat eselon II yang
mengikuti pertemuan itu, antara

lain Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua Drs James
Modouw, mengatakan bahwa

pertemuan itu sempat menyinggung kerja sama di bidang pendidikan, namun ia
juga enggan

mengomentari lebih rinci isi dari pertemuan itu. "Yang pasti banyak
program untuk pendidikan," ujarnya.

Hanya riilnya seperti apa pihaknya juga belum tahu pasti.

Hal yang sama juga dikemukakan Kepala BAPPEDA Bram Werimon bahwasanya
memang tidak ada hal

mendasar yang dibicarakan dalam pertemuan itu, namun sempat menyinggung
upaya peningkatan kerja

sama oleh pemerintah Belanda terhadap Papua melalui UNDP. "Yang saya tahu
seperti itu, ada

peningkatan kerjasama melalui berbagai program yang dilaksanakan bersama
UNDP," katanya. Hanya

saja seperti apa bentuk program tersebut Werimon tidak bisa menjelaskan
secara rinci.

Pada pertemuan itu kata Werimon, Gubernur Suebu sempat memaparkan visi dan
misi-nya yang

diakomodir melalui berbagai program di berbagai satuan kerja. Ia juga
memaparkan bagaimana

pemerintah Papua saat ini memberikan perhatian penuh pada pembangunan
masyarakat di tingkat bawah

(distrik dan kampung). "Jadi gambaran secara umum dari pembicaraan tadi
seperti itu," ujarnya.

Gubernur juga lebih banyak berterima kasih pada Dubes Van Dam yang
didampingi oleh Sekretaris II Mr

Said Fazili atas berbagai bantuan pemerintah Belanda melalui UNDP untuk
Papua. Usai pertemuan itu,

dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata antara Gubernur Suebu dengan
Dubes Van Dam.(ta)

---

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0703/22/nus01.html

Di Banten Guru Bantu Belum Terima Honor
741 Guru di Papua Tinggalkan Tugas

Oleh
Odeodata H Julia/ Iman Nur Rosyadi



Jayapura - Setidaknya 741 guru yang selama ini bertugas di Papua
meninggalkan tempat tugasnya

karena berbagai alasan. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan
Pengajaran Papua, James

Modouw, di ruang kerjanya kepada SH, Rabu (21/3) siang.


Berbagai alasan kenapa para guru itu meninggalkan tugas mulianya, di
antaranya masalah gaji yang

sangat kecil bagi guru yang mengajar di pedalaman Papua. "Mereka hanya
menerima gaji pokok saja,"

ujarnya.
Namun, ada beberapa kabupaten yang oleh bupatinya diberikan kebijakan
yaitu diberikan tunjangan

insentif buat mereka yang bertugas di Papua, seperti Kabupaten Yahukimo,
Timika, Nabire, dan Merauke.


Alasan lain yakni para guru yang meninggalkan tempat tugasnya itu terjadi
sejak tahun 1999 sampai 2000

di kala gejolak politik melanda Papua dengan tuntutan merdeka. "Alasannya
sama di saat terjadi konflik

horizontal di Papua dan isu merdeka. Mereka jadi takut dan pergi
meninggalkan tempat tugas,"

tambahnya.
Dia mengatakan, yang menjadi masalah saat ini para guru tersebut saat
meninggalkan tempat tugasnya

juga membawa serta seluruh keluarga, termasuk pula harta benda mereka dan
sampai saat ini belum

kembali.


Saat ini Dinas P dan P Papua sudah membuat program di mana guru asli di
satu daerah tertentu

dikembalikan lagi untuk berkarya di tempat asalnya. Tetapi yang jadi
masalah para guru ini lebih memilih

berbisnis di tanah milik mereka seperti membuka tambak udang yang lebih
besar pendapatannya.


Melihat luas Papua saat ini, guru yang dibutuhkan idealnya 15.000 orang
untuk sekolah dasar, 9.000 guru

untuk sekolah tingkat menengah dan tingkat SMU/SMK dibutuhkan sekitar
6.000 guru. Dengan total

sekitar 30.000 guru. Ironisnya, kini baru ada 25.000 yang tersebar di
seluruh Papua.


Sementara itu, sebanyak 16.000 guru bantu di Provinsi Banten belum juga
menerima honor untuk bulan

Februari dan Maret 2007. Para guru bantu juga semakin resah, karena status
kepegawaian mereka yang

semakin tidak jelas. "Terakhir saya menerima gaji, tanggal 15 Januari
2007. Selanjutnya sampai

sekarang, sama sekali belum menerima," ujar Halimah, guru bantu di SDN
Kemang, Serang.


Seharusnya, guru Bahasa Inggris yang diangkat menjadi guru bantu pada
tahun 2003 itu menerima honor

Rp 710.000 per bulan. Honor tersebut diberikan langsung oleh pemerintah
pusat, karena telah

dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, setiap tahunnya.

Makin Resah
Ketua Forum Komunikasi Guru Bantu (FKGB) Provinsi Banten Ujang Jaelani,
membenarkan jika seluruh

guru bantu di Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak, serta Kota Cilegon
belum menerima honor untuk

bulan Februari dan Maret. Bahkan, para guru bantu di Tangerang sudah tidak
menerima gaji selama tiga

bulan, dari Januari hingga Maret ini.


Selain ketidakjelasan pencairan honor, para guru bantu di Banten juga
mengeluhkan ketidakjelasan status

mereka. Saat ini, para guru bantu semakin resah karena tidak kunjung
diangkat menjadi pegawai negeri

sipil.


Kondisi tersebut diperparah dengan ditemukannya enam nama guru bantu yang
tiba-tiba masuk daftar

Badan Kepegawaian Daerah. "Jadi, ada enam nama guru bantu siluman. Mereka
menggantikan posisi

enam guru bantu, yang sudah diangkat sebagai PNS tahun 2005 lalu, tanpa
melalui prosedur yang

ditentukan," tutur Ujang.

Para guru bantu di Banten juga mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah
daerah, baik pemerintah

kabupaten/kota maupun Pemerintah Provinsi Banten. Mereka menilai,
pemerintah daerah sama sekali

tidak turut memperjuangkan nasib para guru bantu, yang sebagian telah
mengabdi di atas 10 tahun.


Sementara untuk diketahui, jumlah guru bantu di Banten mencapai 14.480
orang. Mereka meminta

pemerintah segera meningkatkan kesejahteraan para guru bantu, minimal
dengan cara menambah

pendapatan melalui alokasi anggaran APBD, atau segera mengangkat menjadi
PNS. n

---

CENDRAWASIH POS
Jumat, 23 Maret 2007
"Kami Tak Dukung Separatis Papua"

*Wawancara Dengan Menlu Australia, Alexander Downer

CANBERRA- Wartawan Jawa Pos (Grup Cendederawasih Pos), bersama tiga
wartawan Indonesia,

mendapat kesempatan untuk makan siang dan dialog bersama denganMenteri
Luar Negeri Australia

Alexander Downer di Parliament House, Canberra, kemarin. Selama hampir
satu jam, Downer

memaparkan kebijakan di Iraq hinggakasus Papua.

Bagaimana kerjasama Australia-Indonesia dalam perang melawan terorisme?

Indonesia baru saja menangkap empat teroris, bahkan ada satu yang tewas.
Indonesia telah bekerja

dengan baik dalam hal ini. Begitu juga yang telah ditunjukkan Malaysia dan
Singapura. Situasi yang sulit

ada di

Filipina dan kami juga sangat memperhatikan situasi di Thailand selatan.
Tidak banyak yang mengerti

situasi di Thailand, ada 2 ribu warga sipil tewas selama tiga tahun terakhir.

Apakah ancaman terorisme sudah aman?

Memang akan lebih baik kalau Noordin M. Top tertangkap. Tetapi dia selalu
berhasil melarikan diri.

Apalagi jika kita juga berhasil tokoh Al Qaidah Usamah bin Laden.

Benarkah Jamaah Islamiyah sebuah organisasi yang nyata?

Jamaah Islamiyah adalah organisasi dengan jaringan dan struktur yang tidak
kelihatan. Mereka dan

kelompok radikal ingin menciptakan pertentangan antara Barat dengan Islam.
Dan mereka ingin

membawa Indonesia maupun Australia kembali ke abad 14, 15, atau 16.

Tetapi masyarakat Barat sering rancu dalam membedakan antara Islam dengan
teroris. Padahal Islam

jelas bukan teroris?

Memang penting untuk menyampaikan pesan bagaimana sebenarnya Islam. Tetapi
kami mengakui

banyak warga Barat yang tidak paham terminologi di dalam Islam.

Kata jihad misalnya, diidentikkan dengan menyerang orang lain, padahal
tidak demikian.

Sejumlah isu masih mengganjal hubungan bilateral Indonesia-Australia.
Salah satunya kasus Papua.

Bagaimana menurut Anda?

Kita tidak pernah mendukung gerakan separatis di Indonesia, termasuk di
Papua. Kita mendukung

kedaulatan negara Anda. Saya pikir, pemberian otonomi khusus ke Papua
seperti disampaikan Presiden

Susilo Bambang Yudhoyono lima hari lalu kepada saya, akan menjadi solusi
terbaik di wilayah tersebut.

Tetapi Anda memberikan visa bagi pencari suaka asal Papua?

Kebijakan memberikan visa bagi para pencari suaka bukan di tangan saya.
Itu adalah keputusan pejabat

di Departemem Imigrasi berdasar UU Tahun 1951 tentang suaka. Jadi, sulit
juga bagi Departemen

Imigrasi untuk menolak hal itu.

Menurut Anda kasus Papua mengganggu hubungan bilateral kedua negara?

Tidak. Tetapi rakyat Indonesia harus ingat bahwa Australia termasuk negara
yang mendukung

kemerdekaan Indonesia dari penjajah Belanda. Mereka juga harus

tahu bahwa kita tidak suka selama Indonesia di zaman Soeharto, pemerintah
Indonesia di bawah militer,

di mana terjadi banyak pelanggaran HAM seperti di Papua.

Terkait situasi di Timor Leste yang belum aman saat ini. Anda melihat ada
keterlibatan Indonesia di sana?

Tidak. Tidak ada kaitannya sama sekali dengan Indonesia.

PM John Howard menegaskan tidak akan menarik tentara di Iraq. Atau justru
Anda akan menambah?

Tidak. Tidak ada rencana itu. Dari hasil pertemuan di Jakarta lima hari
lalu, memang pemerintah Iraq

harus mengizinkan masuknya tentara Islam ke sana.



Bagaimana situasi terakhir di Iraq?

Makin kompleks memang. Banyaknya masalah muncul karena peran kelompok
asing, seperti Al Qaidah.

Kasus bom bunuh diri yang terjadi mengindikasikan bahwa itu pola Al Qaidah.

Tidak ada perlawanan dari tentara sekutu?

Kita berhasil memberikan perlawanan melawan Al Qaidah di provinsi Al
Anbar. Amerika juga akan

menambah pasukan untuk mengurangi kekerasan, hasilnya akan bisa dilihat
pada September atau

Oktober tahun ini.

Peran kelompok yang pro Saddam Hussein?

Banyak mantan orang Saddam di Partai Baath yang membuat masalah. Mereka
ingin mengambil alih

kekuasaan di Iraq. Tetapi pemerintah Iraq juga telah sukses merekrut orang
lokal sebagai tentara dan

polisi, ada 350 ribu orang.(fan)

---

RADAR SORONG

Jumat  23  Maret 2007

Dikeroyok Massa, 1 Orang Tewas

*1 Luka-Luka, Pelaku Masih Dalam Penyelidikan Polisi

SORONG- Sungguh sial nasib seorang bapak Lodewyk Tupan yang tinggal di
Rufei, Ia tewas

mengenaskan akibat dikeroyok sekelompok massa Kamis (22/03) subuh sekitar
jam 05.00 WIT. Dari

keterangan yang dihimpun Radar Sorong di TKP (Tempat Kejadian Perkara)
menyebutkan, beberapa jam

sebelum pemungutan suara dimulai,korban bersama salah seorang rekannya
Tony Ratusehaka berjalan

bersama menggunakan mobil Mitsubishi Kuda nomor polisi DS 1821 H menuju
kawasan kantor Walikota

Sorong. Tidak jelas tujuannya apa.

Namun di dalam mobil tersebut ditemui sejumlah bahan masakan serta ayam
putih dan kain merah.

Sebelum korban melakukan tujuannya, ada warga setempat yang melihat
mencoba menyapa dengan

maksud mau menanyakan tujuannya.

Namun entah mengapa, korban dan Tony berlari menyelamatkan diri. Tindakan
ini membuat warga

berteriak maling, tidak lama kemudian sekelompok massa datang ke tempat
kejadian mengejar korban.

Anggota polisi yang bertugas di Kantor Walikota memanggil, malah korban
terus berlari. Berhasil

mendapati korban, sekelompok massa langsung mengeroyok korban. Anggota
polisi yang bertugas

mencoba melerai tapi tidak seimbang dengan jumlah massa yang begitu banyak.

Ini membuat korban pun nyonyor dimana Ia menjadi sasaran empuk kemarahan
massa. Massa berhenti

mengeroyok saat korban tidak berdaya lagi.

Sementara korban Tony yang karyawan RRI sekaligus reporter Media Demokrasi
Papua menderita luka-

luka di bagian kepala akibat dikeroyok massa. Usai kejadian, anggota
polisi membawa korban ke

Mapolresta untuk selanjutnya dibawa ke RSUD.

Nyawa korban Lodewyk tidak tertolong saat tiba di RSUD. Lodewyk
menghembuskan nafas terakhir saat

tiba di RSUD. Nyawa korban Lodewyk selanjutnya dibawa ke kamar mayat.
Sedangkan korban Tony yang

bersama-sama dengan korban Lodewyk usai diobati tim medis langsung dibawa
kembali ke Mapolresta

untuk diamankan. Mengingat Tony merupakan saksi kunci kasus pengeroyokan.
Mobil dan peralatan yang

ada di dalamnya diamankan di Mapolresta.



Dari kejadian ini, polisi yang bertugas di Kantor Walikota pun membawa
korban ke Mapolresta untuk

selanjutnya dibawa ke RSUD. Namun sayangnya nyawa korban tidak tertolong
saat tiba di RSUD.

Tony yang bersama-sama dengan korban kini diamankan polisi. Mobil dan
peralatan yang ada di

dalamnya juga iku diamankan di Mapolresta.

Dari pantauan Koran ini di Mapolresta Kamis (22/03) kemarin di dalam mobil
Mitsubishi tersebut

ditemukan peralatan antara lain pisau, piring, kertas, garam, sopi, nasi
sate, kaleng, minyak tanah, arang,

handuk, jahe, sikat gigi, sabun, ayam putih dibungkus dengan kain merah.
Selain itu juga ada parang.

Belum jelas peralatan tersebut akan digunakan untuk apa. Polisi belum bisa
menyimpulkan, termasuk

apakah kasus ini terkait dengan Pilkada Kota Sorong.

Anggota Buser langsung menarik mobil yang diparkir di depan SMS Seluler
menuju Mapolresta.

Sementara itu pantauan Radar Sorong di kamar mayat RSUD Sorong istri dan
anak korban serta kerabat

keluarga melihat jenasah.

Istri dan anak korban menangis tiada henti karena orang yang menjadi
tumpuan ataupun sandaran hidup

kini telah tiada. Tampak di kamar jenasah juga tokoh masyarakat Key yakni
Korenlis Rawulun dan John

Russel. Keluarga korban meminta jenasah korban diotopsi.

Pelaksanaan otopsi sedikit terlambat karena menunggu dokter yang akan
melakukan otopsi. Setelah

otopsi, jenasah korban dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan dan
selanjutnya dimakamkan.

Wakapolresta Sorong Kompol Joseph Sainyakit turun langsung ke kamar mayat
melihat kondisi jenasah

korban. Korban menderita luka berat di belakang kepala serta paha.
Wakapolresta melakukan kordinasi

dengan tokoh masyarakat Key untuk tetap menjaga agar situasi kondusif.

Kabag Ops Polresta Sorong AKP Gatot Suprasetyo, S.IK ketika ditanya Radar
Sorong Kamis kemarin

menegaskan, bahwa kasus tersebut masih dalam penyelidikan polisi. Anggota
Buser juga sedang mencari

tahu pelaku pengeroyokan. Pasalnya saat anggota polisi ke TKP, pelaku
pengeroyokan sudah tidak ada.

Sementara Tony diamankan di Mapolresta guna pemeriksaan secara intensif
terhadap. Pasalnya Tony

merupakan saksi kunci yang tahu persis kejadian tersebut. (jus)

---

http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0703/21/nas21.htm

Pemerintah Bangun 11 Ruas Jalan di Papua
Jakarta, CyberNews. Untuk mendukung percepatan pembangunan, pemerintah
berencana membangun

11 ruas jalan strategis di Papua dan Irian Jaya Barat. Pembangunan ruas
jalan sepanjang 3.098 km

tersebut akan dimulai tahun ini.

"Anggaran yang harus dikeluarkan untuk membangun sebelas ruas itu
diperkirakan mencapai Rp8 triliun,"

kata Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto di Jakarta, Rabu (21/3).

Disebutkan, 11 ruas jalan yang akan dibangun itu yakni Sorong-Makbon-Mega
(88 Km), Sorong-

Klamono-Ayamaru-Kebar- Manokwari (536 Km), Manokwari-Bintuni (253 Km),
Fakfak- Hurimber-

Bomberay (161 Km), Nabire-Wagete-Enarotali (262 Km), dan
Timika-Mapurujaya-Pomako (42 Km).

Kemudian ada ruas Serui- Menawi-Saubeba (49 Km), Jayapura-Wamena-Mulia
(733 Km), Jayapura-

Sarmi (364 Km), Jayapura-Hamadi- Holtekamp-Batas Papua Nugini (53 Km), dan
Merauke-Woropko

(557 Km).

Ia mengakui, kondisi geografis yang bergunung-gunung dan hutan menjadi
tantangan dalam penyediaan

infrastruktur di Papua dan Irian Jaya Barat. Misalnya, jalan yang
menghubungkan Jayapura–Merauke

tidak bisa melewati lereng gunung yang terjal. "Sehingga harus dibuat
terowongan menembus gunung,"

ujar Djoko.

Karena itu, untuk memudahkan pembangunan tersebut Departemen Pekerjaan
Umum sudah melakukan

koordinasi dengan Bappenas dan Departemen Perhubungan. Sebab pembangunan
akses jalan dalam

percepatan pembangunan di dua provinsi ini menjadi prioritas sebagai urat
nadi kelancaran distribusi

barang dan jasa.

“Harga semen di sana mahal sekali karena sarana transportasinya tidak ada.
Karena itu kita singkronkan

antara program Departemen PU dengan program Dephub. Misalnya pelabuhan
yang dibangun Dephub

juga harus dibangunkan akses jalannya," jelasnya.( miol/Cn08 )

---
Sumbernya?

TONGGOI PAPUA PT FREEPORT MENUNTUT HAK KHUSUS DARI OTONOMI LEWAT TEMU
NASIONAL

BURUH SE TANAH PAPUA

Tonggoi Papua adalah wadah advokasi internal terhadap karyawan Papua dan
mitra kerja dengan pihak

menejemen PT Freeport. Anggota Tonggoi adalah semua karyawan orang asli
Papua yang bekerja di PT

Freeport, kotraktor, privatisasi dan mitranya. Tonggoi Papua lahir melalui
musyawara besar yang

diadakan bulan november 2006. Musyawara ini antara Ring Papua yang mana
kebanyakan anggotanya

adalah karyawan Papua di Freeport yang berasal dari pesisir pantai dan
Tonggoi Of Papua yang mana

anggotanya adalah karyawan PT. Freeport yang berasal dari wilayah
pegunungan Papua. Kini kedua

wadah ini telah bersatu dan bernama Tonggoi Papua. Jumlah anggota Tonggoi
Papua sekitar 6.000

orang. Asli Papua.

Merasa Sudah lima tahun berlalu sejak undang-undang No 21 tentang
pemberlakuan otonomi khusus bagi

Propinsi Papua diberlakukan. Namun belum dirasakan adanya dampak positif
otonomi khusus  bagi

masyarakat terutama kaum buruh yang bekerja di perusahaan-perusahaan di
seantero bumi kasuari ini.

Padahal pemberlakuan otonomi khusus bagi Papua diperuntukan untuk semua
orang Papua tanpa

terkecuali. Jumlah penduduk di Papua sebagian besar adalah kaum buruh dan
hanya sedikit orang yang

merupakan pegawai negeri sipil. Papua memiliki potensi alam yang sangat
kaya, tetapi kebanyakan

rakyat Papua masih miskin. Sejak tahun 2006 para investor mulai melirik
dan tertarik melakukan

investasinya ke Papua. Barnabas Suebu setelah terpilih menjadi Gubernur
Papua telah melakukan lobi

investasi kebeberapa Negara diasia. Diantaranya Cina, Korea
Selatan,Singapura dan Malaisya.

Menurut gagasan Gubernur Bas Suebu, investor yang masuk tidak membeli
tanah atau tidak ada

masyarakat jual tanah tapi disewakan atau dijadikan sebagai penyertaan
modal ke perusahaan. Nanti

setiap tahun masyarakat pemilik tanah hanya menikmati hasil keuntungan
sewaan tanah.

Apakah dengan masuknya investor ke Papua akan mengangkat harkat dan
martabat kaum buruh di

Papua? Memang sulit untuk diurai.  Menyikapi hal ini maka Tonggoi Papua
PTFI sedang menggagas

untuk memfasilitasi suatu kegiatan yang dikemas dalam suatu kegiatan temu
nasional kaum buruh di tanah

Papua, untuk merumuskan hak-hak dasar yang perlu diperoleh oleh orang
Papua di lingkungan

perusahaan. Tonggoi Papua adalah wadah advokasi internal terhadap karyawan
Papua dan mitra kerja

dengan pihak menejemen PT Freeport. Anggota Tonggoi adalah semua karyawan
orang asli Papua yang

bekerja di PT Freeport, kotraktor, privatisasi dan mitranya. Tonggoi Papua
lahir melalui musyawara besar

yang diadakan bulan november 2006. Musyawara ini antara Ring Papua yang
mana kebanyakan

anggotanya adalah karyawan Papua di Freeport yang berasal dari pesisir
pantai dan Tonggoi Of Papua

yang mana anggotanya adalah karyawan PT. Freeport yang berasal dari
wilayah pegunungan Papua.

Kini kedua wadah ini telah bersatu dan bernama Tonggoi Papua. Jumlah
anggota Tonggoi Papua sekitar

6.000 orang.Kegiatan ini kami lakukan sesuai dengan fungsi utama kami.
Fungsi utama Tonggoi Papua

adalah sebagai organisasi yang melakukan pelayanan advokasi bagi dan
kepada karyawan Papua yang

ada di PT Freeport Indonesia, perusahaan Privatisasi dan kontraktor.
Fungsi ini merupakan amanat yang

diberikan oleh Eksekutif Chairmen Of the Board yakni Mr. James R. Moffet.
Dan landasan hukum bagi

kegiatan ini adalah undang-undang otonomi khusus bagi Papua.

Kepada suara perempuan Papua, Frans Pigome selaku ketua umum Tonggoi Papua
PTFI  Rabu 14

Februari 2007 mengatakan’ kami melihat upaya yang dilakukan Gubernur Papua
Barnabas Suebu untuk

melobi para investor asing itu adalah upaya pemberantasan kemiskinan dan
mengejar ketertinggalan

pembangunan yang cukup jauh disbanding daerah lainnya.  Semakin banyak
investor yang masuk di

tanah Papua tentunya memerlukan tenaga kerja atau kaum buruh yang cukup
banyak pula’ tegas Pigome.

Lebih jauh masih ,menurutnya,’ satu hal pokok yang sangat penting adalah
perlindungan bagi kaum buruh

asli Papua karena selama ini nasib kaum buruh orang Papua di perusahaan
belum semaksimalnya.

diperhatiakan. Baik dari pemerintah maupun dari pihak perusahaan.
Contohnya pada PTFI, telah ada

komitmen dan kebijakan yang sangat baik namun implementasinya tidak
dilaksanakan secara maksimal

dan keberpihakannya tidak nampak kepada karyawan Papua. Dalam semua aspek
mulai dari perekrutan

karyawan, pemberdayaan dan kompenasi untuk hari tua bagi karyawan Papua.
Program Gubernur

Barnabas Suebu akan berjalan sesuai dengan semangat otonomi khusus apabila
nasib karyawan orang

asli Papua di perusahaan diperhatikan dan dirumuskan didalam perdasus dan
perdasi. Tegas Pigome

yang sudah makan garam dilingkungan perusahaan ini. Untuk memperhatikan
hak-hak dasar karyawan

dan buruh orang Papua asli, sesuai dengan amanat otonomi khusus dan
melihat banyaknya investor yang

masuk di tanah Papua juga mengingat banyak  orang Papua yang akan
direkkrut menjadi buruh di

perusahaan, maka  Tonggoi Papua akan memfasilitasi untuk menyelenggarakan
temu nasional yang

dikemas dalam Konggres kaum buruh se Papua' tegasnya.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk merumuskan hak-hak dasar bagi kaum
buruh Papua di seluruh

Papua. Kegiatan ini akan dihadiri oleh seluruh kaum buruh orang Papua yang
bekerja diperusahaan di

seluruh tanah Papua. Selain itu kami juga akan mengundang MRP, DPRP, pihak
Pemerintah Daerah,

Pemerintah Propinsi dan pihak perusahaan yang beroperasi di tanah Papua
ini, LSM, dan kaum

intelektual' tegas Pigome. Latar belakang lahirnya kegiatan ini adalah
sudah lima tahun otonomi khusus

telah diberlakukan bagi orang Papua namun kami kaum buruh yang bekerja
diperusahaan tidak merasa

adanya asas otonomi khusus berlaku bagi kami. Selama ini dalam perekrutan
karyawan saja lebih banyak

didatangkan dari luar Papua selain itu promosi jabatan dan pemberdayaan
kaum buruh Papua tidak kami

rasakan. Padahal sudah saatnya semua perusahaan yang beroperasi di di
tanah Papua menggunakan

undang-undang otonomi khusus dilingkungan kerjanya. Otonomi bukan hanya
diberlakukan di

Pemerintahan saja tetapi mestinya berlaku juga bagi kaum buruh
diperusahaan-perusahaan yang ada dan

yang akan menanamkan investasinya di tanah Papua ini' tegas ketua umum
Tonggoi. Walaupun begitu

menurut data yang dihimpun tabloit ini PT. Freeport Indonesia punya
komitmen untuk pemberdayaan

karyawan asli Papua, hanya saja jika dibandingkan dengan karyawan non
Papua sudah berapa orang

Papua yang telah menjadi menejer diperusahaan itu?  ‘ Di PTFI kebijakannya
sudah memperhatikan

kepentingan orang Papua, bahkan sebelum otonomi Khusus diperlakukan di
Papua, jauh sebelum itu PTFI

sudah berbuat banyak kebijakan yang memihak kepada kaum buruh asli Papua,
namun pihak yang

menjalankan amanat tersebut yang tidak melakukan secara maksimal sehingga
terkesan jauh dari amanat

otonomi khusus’ ungkap Pigome. Ketika ditanya soal kapan waktu pelaksanaan
kegiatan ini ketua Tonggoi

Papua PT Freeport mengatakan masih dalam tahap persiapan. 'Kami harus
mempersiapkan semua hal

karena ini masalah urgen yang menyangkut harkat dan martabat terkait
kehidupan seluruh buruh orang

Papua di tanah Papua.Ini adalah hak kami' tegasnya. Lebih jauh ,kegiatan
ini adalah solusi yang kami

tawarkan kepada pihak perusahaan di tanah Papua. 'kami akan berusaha agar
DPRP dan MRP dan

Pemerintah Propinsi untuk membuat Perdasi dan Perdasus menyangkut hak-hak
dasar kaum buruh orang

Papua diera otonomi khusus ini. Hampir 80 persen orang Papua adalah buruh
sehingga hal ini menjadi

urgen dan sangat krusial untuk disikapi serius oleh ketiga lembaga
tertinggi di Papua. Sudah saatnya

perusahaan yang beroperasi diPapua berlandaskan undang – undang otonomi
khusus' tegasnya.

Tonggoi Papua PTFI merasa terpanggil untuk memfasilitasi kegiatan temu
nasional bagi seluruh kaum

buruh asli Papua di tanah Papua karena kapasitas dan ruang kerja dari PTFI
yang berskala lebih besar

dari semua perusahaan yang ada di Papua dan Tonggoi Papua akan
memfasilitasi terbentuknya satu

organisasi kaum buruh Papua diluar SPSI dan SBSI karena Tonggoi papua PTFI
memiliki segudang

persoalan yang lebih kompleks sehingga kami akan merangkul semua karyawan
untuk merumuskan

rancangan untuk dijadikan perdasidan perdasus agar kaum buruh Papua yang
sudah bekerja dan yang

akan bekerja di perusahaan-perusahaan merasa ada perlindungan hukum. ‘Kami
selaku fasilitator

memohon kepada Gubernur Propinsi Papua maupun Gubernur Propinsi Papua
Barat untuk mendukung

dan ikut memfasilitasi kegiatan ini agar para kaum buruh asli Papua merasa
memiliki terhadap setiap

perusahaan yang sudah beroperasi maupun yang akan datang ke tanah Papua
untuk berinvestasi.

Sedangkan agenda yang akan dibahas didalam konggres buruh sepapua ini
adalah penyatuan persepsi

bersama, melihat kembali komitmen pihak perusahaan dalam pengembangan
karyawan asli Papua,

pembentukan wadah bagi kaum buruh perusahaan di seluruh Papua,
identifikasi kasus-kasus industrial

yang dihadapi karyawan asli Papua dan penyelesaiannya termasuk didalamnya
perumusan untuk

diajukan menjadi perdasi dan perdasus. Ketika ditanya menyangkut kemampuan
Tonggoi untuk

melakukan kegiatan se papua tersebut dengan enteng Pigome menjawab' tidak
ada pekerjaan yang muda

dikerjakan namun juga tidak ada pekerjaan yang mustahil dilakukan.
Awalnya, rencana ini cukup berat

untuk dilaksanakan tapi dengan kesabaran dan keyakinan akan persatuan dan
kesatuan dan melihat

masalah ini menyangkut hak hidup banyak orang, khususnya kaum buruh Papua
maka Tuhan akan

membantu dan membuka jalan' ungkapnya. Hal ini menyangkut hak hidup banyak
orang Papua sehingga

ketua Tonggoi Papua PT FI mengharapkan dukungan dari Pemerintah Propinsi,
MRP dan DPRP juga

semua pihak yang memiliki niat untuk pemberdayaan kaum buruh yang bekerja
di perusahaan terutama

menyangkut hak-hak dasar bagi orang Papua yang termaktub dalam
undang-undang otonomi khusus.

Semoga

---
http://www.metrotvnews.com/

Nusantara / Metro Pagi
Kamis, 22 Maret 2007 05:30 WIB
MAHASISWA PAPUA KORBAN BANJIR JAKARTA DAPAT BANTUAN
Pemerintah Provinsi Papua menggulirkan bantuan senilai Rp 1 miliar,
bantuan tersebut akan dibagikan

kepada 427 mahasiswa asal Papua.

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah Provinsi Papua menggulirkan bantuan
senilai Rp 1 miliar. Bantuan

tersebut akan dibagikan kepada 427 mahasiswa asal Papua, yang menjadi
korban banjir di Jakarta dan

sekitarnya, Februari silam. Pembagian bantuan berlangsung di Jalan Sam
Ratulangi, Jakarta, Rabu

(21/2). Setiap mahasiswa mendapat bantuan Rp 2 juta. Bantuan dari Gubernur
Papua, Barnabas Suebu

itu diserahkan langsung Ketua Tim Pendataan Mahasiswa Korban Banjir Papua,
Izak Karubaba.

Menurut Izak, bantuan ini merupakan wujud perhatian khusus Pemerintah
Provinsi Papua kepada

mahasiswa asal Papua, yang terkena musibah. Bantuan serupa juga pernah
diberikan kepada mahasiswa

Papua yang ada di Yogyakarta ketika terjadi gempa. Jumlah bantuan yang
diserahkan pada saat itu

sebesar Rp 2,5 miliar.(****/BEY)

---

http://www.metrotvnews.com/

Nusantara / Headline News
Rabu, 14 Maret 2007 15:12 WIB
LAGI, MASSA MENDATANGI KANTOR DPRD TIMIKA
Aksi massa menuntut pemilihan ulang Ketua DPRD Timika.

Metrotvnews.com, Timika: Kantor DPRD Timika, Papua, Rabu (14/3), kembali
didatangi massa pendukung

salah satu calon ketua DPRD yang kalah dalam pemilihan kemarin. Massa yang
dipimpin Yasm Waker ini

mengajukan beberapa tuntutan, di antaranya meminta ketua DPRD sementara
Mimika meninjau ulang

hasil pemilihan ketua DPRD Mimika.

Kelompok massa tadi berangkat dari rumah Pilipus Wakerwa, calon ketua DPRD
dari Partai Amanat

Nasional yang kalah. Menurut massa Wakerwa, pemilihan ketua DPRD Timika
kemarin tidak sah. Sebab,

salah seorang anggota DPRD yang ikut memilih belum mendapat surat
keputusan pengangkatan sebagai

anggota DPRD.

Sekadar diketahui, pemilihan ketua DPRD Mimika kemarin diwarnai kericuhan.
Untungnya, kericuhan

tidak sempat meluas karena polisi berhasil menghalau massa.(*****/DEN)


---

Polkam / Headline News
Selasa, 13 Maret 2007 22:04 WIB
MASSA YANG TIDAK PUAS MASIH MENDUDUKI KANTOR DPRD MIMIKA
Massa yang masih menduduki Kantor DPRD Mimika.

Metrotvnews.com, Mimika: Hingga Selasa (13/3) malam ini, massa yang tidak
puas dengan hasil

pemilihan Ketua DPRD Kabupaten Mimika, Papua, masih menduduki Kantor DPRD
setempat. Mereka

bertahan di halaman kantor wakil rakyat. Massa menuntut agar terpilihnya
Yopi Kilangin sebagai Ketua

DPRD Mimika ditinjau-ulang. Bila tuntutan tidak dipenuhi, mereka mengancam
akan terus menduduki

Kantor DPRD Mimika.

Massa yang berkumpul di sudut kompleks DPRD tersebut berasal dari
pendukung Pilipus Wakerwa.

Wakerwa kalah dalam pemilihan Ketua DPRD Mimika, tadi siang. Pemilihan
sempat diwarnai aksi

penyerangan. Aksi lempar batu dan kejar-kejaran antara massa dengan aparat
polisi sempat terjadi saat

pemilihan Ketua DPRD berlangsung.

Setelah pemilihan legislatif tahun 2004, baru kali ini Kabupaten Mimika
memiliki DPRD. Pembentukan

DPRD Mimika selama ini terlantar dan berlarut-larut akibat tarik-ulur
antara pihak-pihak yang

berkepentingan.(DOR)


---

Sosial Budaya / Headline News
Selasa, 13 Maret 2007 21:06 WIB
PEMERINTAH TETAP MENJALANKAN PROGRAM KESEHATAN RAKYAT MISKIN
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah tetap akan menjalankan program
penjaminan kesehatan bagi

warga miskin pada tahun ini. Hal itu disampaikan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) usai

memimpin rapat kerja terbatas di Departemen Kesehatan, Selasa (13/3) petang.

Presiden SBY menegaskan, pemerintah akan meningkatkan kualitas kesehatan
warga miskin. Pemerintah

juga tetap akan melanjutkan program obat generik. Tahun lalu, lewat
program tersebut warga miskin dapat

membeli obat flu, demam dan batuk hanya dengan uang Rp 1.000.

Dalam rapat kerja terbatas yang dihadiri sejumlah menteri ini, pemerintah
memutuskan sejumlah hal di

bidang kesehatan. Di antaranya, peningkatan mutu dan jumlah tenaga
kesehatan di Indonesia,

penanggulangan penyakit menular, dan peningkatan pelayanan kesehatan.
Menurut Presiden, pemerintah

telah menganggarkan dana untuk mempercepat penambahan jumlah tenaga
kesehatan. Tujuannya, agar

terjadi keseimbangan tenaga dokter yang tersedia dengan jumlah pasien.

Sementara program penanggulangan penyakit menular difokuskan pada
penanggulangan penyebaran

penyakit HIV/AIDS di Papua. Presiden SBY telah bertemu dengan Gubernur
Irian Jaya dan Irian Jaya

Barat guna membahas hal tersebut.(****/DOR)


---

Nusantara / Headline News
Selasa, 13 Maret 2007 20:02 WIB
KENDARAAN DI KOTA TIMIKA ANTRE PREMIUM DI SPBU
Antrean panjang kendaraan di salah satu SPBU Kota Timika, Papua.

Metrotvnews.com, Timika: Keterlambatan pasokan minyak premium ke Kota
Timika, Papua,

mengakibatkan antrean panjang kendaraan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar
Umum (SPBU) di seluruh

Kota Timika. Selasa (13/3) hari ini, pemilik kendaraan roda dua maupun
roda empat terpaksa harus rela

mengantre untuk mendapatkan premium.

Antrean semacam ini sudah terjadi sejak dua hari lalu. Pasalnya, tidak
adanya cadangan minyak di

stasiun Join Bersama (Jober) Pertamina di Pomako, Timika. Kepastian jadwal
pasokan minyak premium

ke Jober Pertamina baru diketahui hari ini.

Pasokan premium di Timika selama ini dikirim dari Stasiun Transit Wayane,
Ambon. Biasanya, perjalanan

kapal pengangkut minyak dari Ambon ke Jober, Timika, memerlukan waktu
selama lima hari. Namun,

karena cuaca buruk, kapal tersebut terlambat tiba ke Timika.

Gampang ditebak, Kota Timika akhirnya kekurangan pasokan premium. Kondisi
ini dimanfaatkan para

pengecer mengail untung di tengah kesengsaraan konsumen, yakni menaikkan
harga premium dua kali

lipat menjadi Rp 10 ribu per liternya.(DOR)


---

Nusantara / Metro Hari Ini
Selasa, 13 Maret 2007 18:34 WIB
PEMILIHAN KETUA DPRD MIMIKA DIWARNAI LEMPAR BATU
Keributan dalam pemilihan Ketua DPRD Kabupaten Mimika, Papua.

Metrotvnews.com, Mimika: Pemilihan Ketua DPRD Kabupaten Mimika, Papua,
Selasa (13/3), diwarnai

dengan penyerangan dari massa yang tidak puas dengan hasil pemilihan.
Masaa yang tidak puas

melempar batu dan terlibat kejar-kejaran antara massa dengan aparat polisi.

Setelah pemilihan legislatif tahun 2004, baru kali ini Kabupaten Mimika
memiliki DPRD. Pembentukan

DPRD selama ini terlantar dan berlarut-larut akibat tarik ulur antara
pihak-pihak yang berkepentingan.

Pemilihan Ketua DPRD Mimika diikuti oleh seluruh anggota DPRD Mimika yang
berjumlah 25 orang. Yopi

Kilangin dari Partai PBSD mampu menyingkirkan enam saingan lainnya dengan
mengantongi 16 suara.

Namun, di luar pagar Kantor DPRD Mimika sejumlah kelompok massa dari
masing-masing kandidat

terlibat kericuhan. Untungnya, polisi yang berjaga sejak pagi dapat
menghalau massa, sehingga

bentrokan yang lebih besar dapat dihindari.(DOR)


---

Nusantara / Headline News
Selasa, 13 Maret 2007 14:05 WIB
PEMILIHAN KETUA DPRD DI MIMIKA BERLANGSUNG RICUH
Kericuhan akibat konflik politik pada pemilihan ketua DPRD Mimika.

Metrotvnews.com, Mimika: Aksi lempar batu serta kejar-kejaran antara massa
dan aparat polisi terjadi di

Mimika, Papua, saat berlangsungnya pemilihan ketua DPRD setempat. Itulah
gambaran realitas politik

yang sedang terjadi di Mimika saat ini. Kabupaten Mimika sebenarnya baru
kali ini memiliki DPRD setelah

pemilihan legislatif tahun 2004. Sebelumnya, pembentukan DPRD telantar
akibat tarik ulur antara pihak-

pihak yang berkepentingan.

Pemilihan ketua DPRD ini diikuti oleh 25 orang. Dalam pemilihan yang
berlangsung, Selasa (13/3) Siang,

Yopi Kilangin dari Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD) mampu menyingkirkan
enam saingannya

dengan mengantongi 16 suara. Sementara di luar pagar Kantor DPRD Mimika,
kelompok massa dari

masing-masing kandidat terlibat kericuhan. Namun, polisi yang sudah
berjaga sejak pagi dapat menghalau

massa, sehingga bentrokan lebih besar dapat terhindar.(*****/DEN)


---

Hukum & Kriminal / Headline News
Jum'at, 09 Maret 2007 09:06 WIB
PETUGAS KEAMANAN FREEPORT MENGGAGALKAN PENYELUNDUPAN KUPU-KUPU
Kupu-kupu yang akan diselundupkan tersimpan dalam kantong plastik.

Metrotvnews.com, Timika: Upaya penyelundupan puluhan spesies kupu-kupu
langka dari Papua, Kamis

(8/3) kemarin, berhasil digagalkan petugas keamanan PT Freeport di Bandara
Internasional Moses

Kilangan, Timika. Kupu-kupu langka hutan Papua yang akan dibawa ke Bandara
Ngurah Rai, Denpasar,

Bali, ini terdiri dari jenis ornithopora paradisian, orni-thopora priamus
dan induk dari merido-nalis sejenis

kupu-kupu sayap burung.

Terungkapnya kasus ini bermula dari kecurigaan petugas keamanan PT
Freeport terhadap kemasan

kargo rapat. Setelah berkoordinasi dengan pihak Kepolisian Pengamanan
Perairan dan Pelabuhan

Bandara, kargo tersebut kemudian dibongkar. Saat ini seluruh kupu-kupu
langka yang disita berada

dalam penanganan Badan Konservasi Sumber Daya Alam Timika, Papua.(DOR

---

Nusantara / Headline News
Sabtu, 10 Maret 2007 17:06 WIB
PERSEDIAAN PINANG DI TIMIKA MENIPIS
Buah pinang yang selama ini dikirim dari Jayapura ke beberapa tempat di
Papua menggunakan

transportasi udara jadi terlambata kibat banjir.

Metrotvnews.com, Timika: Banjir dan longsor yang terjadi di Jayapura
beberapa hari lalu membuat jalur

transportasi di Jayapura, termasuk transportasi udara, terganggu.
Akibatnya, distribusi beberapa barang

dari Jayapura pun ikut terganggu. Barang-barang seperti pinang yang selama
ini dikirim dari Jayapura

ke beberapa tempat di Papua menggunakan transportasi udara jadi terlambat.
Persediaan pinang yang

ada di Timika pun sempat terganggu.

Padahal, buah pinang bagi sebagian masyarakt Papua merupakan kebutuhan
sehari-hari. Pinang yang

diperdagangkan di Kota Timika sebagian besar berasal dari Jayapura. Karena
Jayapura dilanda banjir

dan longsor, pasokan pinang ke Timika pun terganggu. Selama ini pinang
diangkut ke Timika

menggunakan kargo pesawat dari Bandara Sentani. Masalahnya, beberapa hari
lalu bandara ini sempat

terendam air.

Kebutuhan pinang di Kota Timika sebetulnya cukup tinggi. Di Pasar Swadaya
Timika perdagangan pinang

setiap hari dapat menghabiskan puluhan kwintal. Ini jadi masalah karena
pasokan utama pinang di Timika

amat tergantung dari Jayapura.(DOR)


---

Nusantara / Headline News
Kamis, 08 Maret 2007 22:02 WIB
TENAGA MEDIS MOGOK KERJA, PUSKESMAS TERABAIKAN
Ratusan tenaga medis di puskesmas Kota Timika, Papua mogok kerja menuntut
perbaikan sistem

penggajian.

Metrotvnews.com, Timika: Ratusan tenaga medis di puskesmas Kota Timika,
Papua mogok kerja menuntut

perbaikan sistem penggajian. Saat mendatangi Kantor Kepala Dinas Kesehatan
Kota Timika untuk

menyampaikan aspirasinya, mereka menilai sistem penggajian yang mereka
terima sangat merugikan.

Akibat pemogokan ini, pelayanan puskesmas lumpuh total. Beberapa warga
yang hendak berobat

terpaksa pulang ke rumah masing-masing karena tidak ada satupun tenaga
medis di puskesmas

tersebut.(NTF)


---

Ekonomi / Metro Pagi
Selasa, 06 Maret 2007 05:40 WIB
PEMERINTAH BERUPAYA MENINGKATKAN HARGA JUAL LNG TANGGUH
Pemerintah sedang bernegosiasi untuk meningkatkan harga jual liquefied
natural gas (LNG) Ladang Gas

Tangguh, Papua, dengan pihak Korea Selatan.

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah sedang bernegosiasi untuk
meningkatkan harga jual liquefied

natural gas (LNG) Ladang Gas Tangguh, Papua, dengan pihak Korea Selatan.
Negosiasi ini diharapkan

dapat meningkatkan harga jual LNG yang maksimum. Pelaksanaan proyek
Tangguh saat ini mencapai 70

persen dan direncanakan dapat mulai berproduksi pada kuartal keempat 2008.
Demikian diungkapkan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro di sela-sela
rapat kerja dengan Komisi

VII DPR di Jakarta, Senin (5/3).

Menurut Purnomo, pemerintah juga sedang bernegosiasi tentang pengalihan
sebagian penjualan LNG

Tangguh dari West Cost Amerika ke pasar Jepang. Purnomo juga mengatakan,
dengan asumsi ini, maka

rata-rata LNG dari Tangguh sebesar US$ 5,6 per MMBTU. Sebelumnya, LNG
Tangguh akan dipasarkan

ke Fujian, China, sebesar 2,6 metrik ton per tahun selama 25 tahun. Harga
yang dipatok rata-rata US$

3,35 per MMBTU. Sedangkan ke SK Power, Korsel, sebesar 0,55 metrik ton per
tahun selama 20 tahun

dengan harga rata-rata US$ 3,5 per MMBTU.(DEN)


---

http://www.cenderawasihpos.com/Utama/h.1.html

 Selasa, 27  Maret 2007

Pusat Didesak Revisi Kontrak Kerja Freeport

*Alfius Murib: Kalau Pendulang Dilarang, Perlu Ada Perhatian Serius

JAYAPURA- Ruwetnya mengatasi masalah pendulangan emas di areal konsesi PT
Freeport Indonesia

(PT.FI) di Timika, tidak luput dari perhatian, Alfius Murib, SE. MM,
Anggota MRP dari Daerah Pemilihan

(Dapil) 13 yang membawahi Mimika dan Puncak Jaya.

Dikatakan, sebagai salah seorang anak adat dari Mimika merasa berat juga
melihat persoalan. Sebab

menurutnya, sikap masyarakat dari sejumlah suku di daerah yang mendulang
emas di areal terlarang itu

bukan tak beralasan. Kata dia, masyarakat terpaksa melakukan itu tak lebih
karena faktor ekonomi yang

menghimpit mereka.

Kendati diakuinya bahwa selama ini memang perusahaan asal Amerika itu
sudah memberikan sebagian

keuntungan sebesar 1 persen untuk 7 suku yang mendiami Mimika, khususnya
suku pemilik ulayat. "Tapi

itu berapa, coba bandingkan dengan hasil yang didapat Freeport selama
ini," tukasnya serius kepada

Cenderawasih Pos, kemarin.

Karena itu, dengan blak-blakan ia mengatakan bahwa masyarakat pendulang
tidak seharusnya dievakuasi

dari areal tersebut. Ia tidak ingin masyarakat dibatasi, meski sebenarnya
dirinya juga sangat prihatin,

karena kegiatan mendulang itu cukup mengancam keselamatan jiwa pendulang
sendiri. Sebab kata Murib,

kalau sekarang ini masyarakat berbuat demikian sesungguhnya karena
disebabkan ulah Freeport juga

yang kurang serius memberikan perhatian.

"Jadi Freeport jangan hanya bilang bahwa sudah kasi 1 persen lalu bilang
saya sudah kasi. Itu bukan

cara yang benar, apalagi kenyataannya hasil kekayaan yang dihasilkan
begitu banyak sementara pemilik

ulayat itu dapatnya hanya sedikit sehingga 1 persen itu tidak berarti,"
tutur Murib yang juga anggota Pokja

adat MRP.

Tak hanya itu, 1 persen yang disisahkan Freeport itu yang sampai ke rakyat
hanya tinggal sedikit karena

sudah dipotong disana sini, untuk itu, ia enggan menyalahkan masyarakat
pendulang dalam hal ini.

Lanjut Murib, kalau Freeport tidak ingin ada pendulangan lagi atau ingin
mengeluarkan semua pendulang,

Freeport harus memberikan perhatian serius kepada masyarakat dengan
sebaik-baiknya agar hidup

mereka sejahtera, bahagia, maka itu keadaan akan aman dengan sendirinya.
Namun jika hanya janji

semata, maka persoalan tidak akan selesai.

"Kacaunya di sini, Freeport juga harus tahu diri bahwa selama ini mereka
sudah keruk kekayaan rakyat,

tapi masyarakat masih tetap hidup miskin, anak - anak aibon, perang di
sana sini, itu karena dari

Freeport juga," katanya.

Bukan hanya itu, kata Murib, dulu Februari tahun 2006 di tengah memanasnya
suasana di Mimika akibat

aksi massa yang berbuntut pada jatuhnya korban jiwa, Freeport berjanji
akan menfasilitasi masyarakat

ulayat untuk membangun rumah dan menyiapkan sedikit dana. "Mereka sudah
perjanjian dan Freeport

akan berikan 7 persen, tapi sampai hari ini tidak ada realisasi," tukasnya.

Karena itu, ia sangat berharap ada niat baik dari Freeport dan pemerintah
harus melihat persoalan itu

secara bijak, sehingga nanti kedepan pengelolaan SDA di Papua bisa membawa
kesejahteraan bagi

rakyat Papua.

Terkait dengan itu, melalui lembaganya MRP ia mendesak pemerintah pusat
agar segera meninjau ulang

kontrak karya dengan PT Freeport. Sebab isi kontrak karya itu tidak
memihak pada kesejahteraan

masyarakat asli Papua. "Terkait dengan persoalan ini, kami mendesak
pemerintah pusat untuk segera

mengkaji ulang kontrak karya dengan PT Freeport," katanya.

Hal ini juga kata dia sudah disinggung di dalam draft Rancangan Perdasus
(peraturan daerah khusus)

tentang hak-hak ulayat masyarakat asli Papua yang kini tengah diproses.
"Perdasus tentang hak ulayat,

sudah kami buat hanya saja saat ini kami sedang menunggu DPRP dan Gubernur
untuk mengesahkan

menjadi Perdsus dan Perdasi," ujarnya.

Kata Murib, dari Perdasus ini nantinya posisi pemilik ulayat, yang
investasi pemerintah daerah dan

sebagainya nanti akan sangat jelas dan tidak ada yang akan dirugikan atau
diuntungkan sepihak.

"Dalam Perdasus hak ulayat itu semua akan mendapat porsi yang adil,"
imbuhnya.

Selain itu, dalam isi Perdasus itu juga menyinggung prioritas orang asli
Papua dalam suatu lembaga

maupun yang terkait dengan investasi di Papua semua harus menomorsatukan
putra asli, sebab selama

ini orang asli Papua tidak menduduki posisi strategis. Dalam kaitannya
dengan persoalan yang

memayungi Freeport saat ini, kelak akan diselesaikan dengan mengacu pada
Perdasus itu.

"Karena itu kami mendesak pusat untuk segera merevisi kontrak karya dengan
Freeport. Selesai kontrak

kerja baru jelas, pusat jangan hanya diam saja," tukasnya serius.

Pemprov Diminta///

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Mimika, Drs Wilhelmus Haurissa
mengatakan, persoalan

pendulang emas yang dilakukan warga, bukan hanya tanggungjawab Pemkab
Mimika semata. Tetapi

kabupaten-kabupaten yang bertetangga dengan Mimika harus ikut menyikapi
dan mencari solusi terhadap

penanggulangannya.

Menurut Sekda, hal itu dikarenakan masyarakat yang mendulang, bukan hanya
masyarakat dari dua suku

besar yang ada di Timika, tetapi ada juga masyarakat dari kabupaten
tetangga dan masyarakat

pendatang yang bukan penduduk asli Papua.

Karena itu, kepada pemerintah provinsi, dalam hal ini Gubernur Provinsi
Papua diminta menjadi mediator

untuk mempertemukan kepala daerah dari kabupaten tetangga serta pihak
terkait yakni PT Freeport

Indonesia untuk membicarakan dan mencari solusinya terhadap masyarakat
pendulang.

Penegasan ini disampaikan Sekda Mimika Drs Wilhelmus Haurissa dalam
pertemuan bersama

Sesmenkopolhukan Letjen TNI Agustadi bersama petinggi TNI-Polri, unsur
Muspida Kabupaten Mimika di

Hotel Sheraton baru-baru ini.

Lanjut Sekda, dalam penanganan persoalan tersebut, secara jujur
dikatakannya kalau dirinya pesimis jika

persoalan ini hanya ditangani Pemda Mimika, karena pendulangan yang
dilakukan masyarakat adalah

demi tuntutan hidup semata.

Menanggapinya secara positif, Sesmenkopolhukam dalam pertemuan waktu itu
menjelaskan, kiranya

dengan program otonomi khusus (Otsus), segala persoalan atau permasalahan
yang terjadi diselesaikan

dulu oleh pemerintah setempat.

Dimana pusat hanya memantau dengan menyikapi, sehingga tidak terjadi
benturan atau hal-hal yang

menimbulkan konflik.

Begitu pula dengan penanganan masalah pendulang emas agar ditempuh secara
persuasif, melalui

arahan kepada pendulang, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan terhadap penanganannya.

(ta/eng)


----

http://www.cenderawasihpos.com/Utama/h.5.html

 Selasa, 27  Maret 2007

Dana PAUD Papua, Naik

JAYAPURA-Perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah Papua terhadap
pendidikan anak usia dini

(PAUD) di Papua, cukup tinggi. Ini dapat dilihat dari alokasi Dana
Anggaran Pendapatan Belanja Negara

(APBN) 2007 ini, PAUD mendapatkan Rp 5.917.615.000 (Rp 5,9 miliar lebih),
atau naik 250 persen dari

sebelumnya (2006), yaitu Rp 2,6 miliar.

Bahkan selain dari APBN, pemerintah Provinsi Papua melalui Dana Anggaran
Pendapatan Belanja

Daerah (APBD) memberikan suntikan dana terhadap (PAUD) sebesar Rp
3.909.000.000 (hampir 4 miliar

rupiah). Jumlah ini naik 300 persen lebih, dari tahun 2006 yaitu Rp 1 miliar.

Kasubdin Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas Pendidikan Dan Pengajaran (P
dan P) Provinsi Papua

Drs. H.M Yusuf, MM mengatakan, alokasi dana yang besar ini bertujuan untuk
mempercepat

pembangunan, pengembangan dan pembinaan PAUD di Tanah Papua.

Menurutnya, membangun anak usia dini sama halnya dengan berinvestasi untuk
masa yang akan datang,

karena dengan demikian, dapat menghasilkan manusia di Papua yang cerdas,
dalam rangka menjawab

tantangan peningkatan kesejahteraan masyarakat ke depan.

"Anak merupakan generasi penerus pembangunan,"katanya saat ditemui di
ruang kerjanya, Senin,

(26/3), kemarin.

Beberapa waktu lalu, Kepala Dinas P dan P Provinsi Papua Drs. James
Modouw, MMT mengatakan,

membangun anak usia dini harus dari keluarga. Untuk itu, peran seorang ibu
sangat penting, dimana ia

yang mengasuh, merawat dan membina anak, terlebih saat anak berada dalam
perut dengan memberikan

gizi baik.

"Akan lebih lengkap, jika anak dididik mulai dari PAUD,"papar M. Yusuf
menirukan ucapan kepala dinas.

Oleh karena itu, pembangunan dan pengembangan PAUD di Papua akan
melibatkan seluruh steakholder,

seperti dinas p dan p, dinas kesehatan, kantor pemberdayaan perempuan,
lembaga sosial masyarakat

(LSM) yang penduli terhadap anak usia dini dan lainnya.

Diungkapkannya, untuk membuka kepedulian masyarakat tentang pentingnya
PAUD, maka di Papua telah

dilakukan seminar dengan pembicara Ace Suryadi, Ny. Mary Suebu Tokoro dan
Drs. Siahaan, MSi.

Mereka duduk bersama dalam mempresentasikan bagaimana membangun pendidikan
anak usia dini,

khususnya di Papua.

Pada kesempatan itu, Ny. Mary Suebu Tokora menjelaskan bahwa membangun
Papua gemilang, Papua

cemerlang, Papua cerdas, harus dimulai dari anak-anak melalui PAUD, dan
kegiatan ini tidak hanya

terfokus di daerah perkotaan, namun juga diterapkan di kampung-kampung.

Hal lainnya mengenai pengembangan dan pembinaan PAUD di Papua, juga
mendapat perhatian khusus

dari bank dunia. Perhatain ini dibuktikan dengan menjadikan Kabupaten
Merauke dan Kabupaten

Jayapura sebagai percontohannya. Untuk tahap I bank dunia telah menyiapkan
dana Rp 1 miliar. "Bank

dunia juga akan berperan dalam pembangunan PAUD di Papua,"pungkasnya.(api)

---

http://www.kompas.com/ver1/Egovernment/0703/10/201119.htm

Peristiwa
Sabtu, 10 Maret 2007 - 20:11 wib
Pemprov Papua Serius Tangani Pembangunan Jalan Nabire-Enarotali

Jayapura, Sabtu--Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua  menyatakan
keseriusannya menangani

pembangunan dan peningkatan mutu jalan trans Irian yang menghubungkan Kota
Nabire, Kabupaten

Nabire ke Enarotali, ibukota Kabupaten Paniai untuk menunjang aktivitas
pembangunan di kedua daerah

itu.

Kepala Bidang Prasarana dan Fisik Kantor Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah (Bapeda)

Kabupaten Paniai, Ambrosius Eria,S.Pd dalam keterangannya di Jayapura,
Sabtu, menyatakan,

keseriusan Pemprov menangani pembangunan jalan Irian yang menghubungkan
Nabire-Enarotali

sepanjang kurang lebih 300 kilometer itu telah disampaikan langsung
Gubernur Papua, Barnabas

Suebu,SH.

Gubernur mengemukakan niatnya yang  serius itu pada 22 Pebruari lalu
ketika mengambil sumpah/janji

sekaligus melantik pasangan Naftali Yogi,S.Sos dan Derek Pakage,S.Pd
masing-masing menjadi Bupati

dan Wakil Bupati Kabupaten Paniai periode 2007- 2012 di Enarotali, ibukota
Kabupaten Paniai.

Pemerintah bermitra dengan masyarakat membuka jalan trans Irian tembus
Nabire-Enarotali sepanjang

300 kilometer lebih itu dalam bentuk badan jalan dan kini bisa dilintasi
kendaraan roda empat terutama

angkutan umum dari Nabire - Enarotali dengan tarif sebesar Rp400.000 per
penumpang dan dari

Enarotali ke Nabire sebesar  Rp250.000/penumpang.

Namun, para pengemudi selalu kewalahan akibat tanah longsor dan banjir
melintasi jembatan

penyeberangan, sehingga tampak pada  beberapa lokasi dibangun  tenda dan
pondok-pondok sebagai

penginapan sementara sambil menunggu surutnya banjir dan perbaikan lokasi
longsor.

Sebagian ruas jalan dari Nabire telah diaspal, sebagian besar ruas jalan
sampai di Enarotali hanya

berbentuk badan jalan yang dilapisi tanah, pasir dan batu (Sirtu), tetapi
animo masyarakat yang

mengunjungi kedua daerah cukup tinggi, apalagi hasil pertanian dari Paniai
yang dipasarkan ke Nabire

sering terancam busuk akibat kondisi jalan yang tertimpa bencana alam
banjir dan tanah longsor.

Masyarakat masih menunggu realisasi keseriusan Gubernur Suebu untuk
menangani peningkatan

pembangunan jalan trans Irian Nabire ke Enarotali itu.

"Sebab jalan ini merupakan  satu-satunya jaringan hubungan kedua daerah di
pedalaman Papua karena

transportasi udara dengan pesawat terbang jenis cessna dan twin otter
Merpati Nusantara Airlines (MNA)

ke Enarotali cukup tinggi sehingga tidak bisa dijangkau masyarakat ekonomi
lemah," ujar Eria.

Perusahaan penerbangan seperti MNA, Trigana Air Service (TAS) dan pesaswat
misionaris Assosiated

Mission Aviation (AMA) telah membuka jalur penerbangan Nabire ke Enarotali
dan sejumlah distrik di

Kabupaten Paniai, namun sering mengalami kesulitan antara lain faktor
cuaca yang tidak menentu karena

semua wilayah di Paniai berada di atas ketinggian 2000-2.500 meter dari
permukaan laut.

Oleh karena itu, tambah Eria, Pemkab dan masyarakat Paniai terus menunggu
janji Gubernur Suebu

untuk meningkatkan jalan penghubung Nabire -  Enarotali dalam jangka waktu
yang relatif singkat ini,

sehingga keterisolasian dapat terbuka untuk melayani masyarakat dan
aktivitas pembangunan secara

menyeluruh.


Sumber: Antara
Penulis: jodhi

---

http://www.antara.co.id/arc/2007/3/9/pemerintah-percepat-proses-pergantian-nama-irjabar-jadi-papua-

barat/

Pemerintah Percepat Proses Pergantian Nama Irjabar Jadi Papua Barat

Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah pusat akan mempercepat proses
pergantian nama Provinsi Irian

Jaya Barat (Irjabar) menjadi Provinsi Papua Barat, setelah menerima usulan
DPRD setempat yang

disampaikan kepada pemerintah melalui gubernur Irjabar.

"Percepatan itu dengan segera menyiapkan Peraturan Pemerintah yang
mengatur pergantian nama itu,"

kata Dirjen PUM Depdagri, Soadjuangon Situmorang, di Jakarta, Jumat.

Ia menyebutkan pihaknya telah menerima usulan pergantian nama itu, konsep
PP-nya telah disusun untuk

segera diserahkan kepada Sekretariat Negara.

Sebelumnya, kalangan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang tergabung
dalam Pansus Papua

menyambut positif perubahan nama Provinsi Irian Jaya Barat menjadi Papua
Barat.

"Deklarasi nama Papua Barat sangat strategis, dan memiliki implikasi
politis maupun budaya, terkait

dengan eksistensi Bumi Papua yang satu dengan dua wilayah pemerintahan,"
kata Wakil Ketua Panitia

Adhoc (PAH) III, Marhany V Pua, di Jakarta, belum lama ini.

Anggota DPD dari Provinsi Papua, Marcus Louis Zonggonao, juga memberi
apresiasi tinggi atas

keberanian Gubernur Abraham Ataruri bersama jajarannya mendeklarasikan
perubahan nama Provinsi

Irjabar ke Provinsi Papua Barat.

"Ini tanda kemajuan untuk suatu masa depan Bumi Papua yang sejahtera. Dan
tidak boleh lagi ada pihak

mana pun yang mencoba mengganggunya," katanya.

Abraham Ataruri sendiri dalam penjelasannya mengungkapkan, Deklarasi nama
Provinsi Papua Barat itu

terjadi pada Selasa (6/2) lalu, setelah melalui proses cukup berliku.

"Kami deklarasikan nama baru ini bertepatan dengan peringatan empat tahun
eksistensi Provinsi Irjabar

dan Hari Seni Budaya Ke-2 Papua di Manokwari. Semoga Tuhan memberkati kami
dengan nama baru

ini," katanya bangga. (*)

Copyright © 2007 ANTARA

---

http://www.radarsorong.com/UTAMA/utama2.html

 Senin  26  Maret 2007

Panwas Beberkan Laporan Kecurangan Pilkada

SORONG- Ketua Panwas Pilkada Kota Sorong H Supran S.Pd dalam jumpa pers
Sabtu (24/03) mengaku

menerima laporan pengaduan kecurangan Pilkada Kota 22 Maret lalu. Bahwa
laporan yang didukung

dengan sejumlah bukti tentunya akan ditindalanjuti. Dalam hal
ini,menindaklnjuti setiap laporan,Panwas

tetap berkoordinasi dengan Panwas tingkat distrik.

"Misalnya ada tempat kejadian, waktu kejadian, siapa pelapornya dan siapa
yang dilaporkan. Saksinya

siapa dan barang buktinya mana,"tuturnya.

Pascapemungutan suara, ketua Panwas Pilkada Kota Sorong mengaku menerima
laporan tentang dugaan

money politik. Hanya saja laporan money politik ini belum bisa ditindak
lanjuti karena belum diikuti dengan

bukti pendukungnya.

Sabtu Siang itu, Panwas menerima laporan dimana seorang warga yang juga
salah satu pimpinan

organisasi dengan semangat melaporkan bahwa di salah satu kelurahan,
pencoblosan suara dilakukan di

rumah Lurah. Bahkan dilaporkan yang dicoblos sekitar 200 surat suara.

Hanya saja ketika Panwas telah siap menindalanjuti laporan tersebut,
seperti melacak kelurahan yang di

laporkan di Distrik Sorong Kota itu, ternyata yang melaporkan malah
menarik laporannya.

"Jangan main- main dalam membuat laporan, karena ini cukup menyita waktu
Panwas. Kalau memang

benar terjadi kecurangan silahkan melapor tapi jangan mengada-ada,"ujar
Supran.

Soal laporan kecurangan Pilkada, disebutkan ada batas waktunya. Dimana
laporan diajukan paling lambat

7 hari setelah pemungutan suara.

Lebih jauh, ketua Panwas juga mengungkapkan adanya kartu pemilih ganda.
Dimana pada salah satu

TPS di Sorong Utara terdapat 127 pemilih mendapatkan kartu pemilih ganda.

Tetapi petugas KPPS cukup sigap untuk menghindari hal- hal yang tidak
diinginkan. Ketua KPPS minta

pendapat Panwas dan kemudian Panwas menahan barang bukti kartu pemilih
yang dobel tersebut.

Proses pelanggaran ini dianggap sebagai pelanggaran administrasi yang akan
disampaikan ke KPUD

Kota.

Diungkapkan pula, pada pelanggaran kecurangan Pilkada, dimana yang cukup
menarik bahwa ditemukan

anak sekolah atau anak dibawa umur memilih dengan menggunakan kartu orang
lain.

Kata Supran umur dari anak sekolah tersebut 16 tahun dan anak- anak
sekolah yang sudah

menggunakan hak pilihnya dengan memakai kartu pemilih orang lain ada 3
orang sedangkan 1 orang

belum sempat menggunakan haknya.

"Info yang kami terima ada 10 orang, tapi tetap kita cross check. Yang
sudah menggunakan hak memilih

ada 3 orang. Kita sudah cross check ke sekolahnya, tapi berbagai pihak
berikan kesempatan kepada

Panwas untuk bekerja secara maksimal,"ujarnya.

Dari laporan yang diterima, dikatakan, Panwas memiliki waktu selama 14
hari untuk bekerja.

"Yang jelas apa yang dilakukan para siswa ini sudah merupakan tindak
pidana. Karena mereka

menggunakan katu pemilih orang lain dan disuruh orang lain. Implikasinya
banyak dan pelanggaran

pidana sudah sangat jelas. Kita lengkapi berkasnya dan berikan kesempatan
kalau memang unsurnya

terpenuhi kita akan serahkan ke polisi. Siswa- siswa tersebut sudah kita
tanya dan memang ada unsur

yang menggerakkan. Kita sedang cari penggeraknya,"imbhunya.

Agar tidak salah alamat,ditegaskan Supran bahwa jika pelanggaran yang
dilakukan pada tahapan Pilkada,

maka dilaporkan ke panwas.

Sementara untuk keberatan tetang penetapan hasil pelaksanaan Pilkada, maka
dilaporkan ke Mahkaman

Agung melalui Pengadilan Tinggi di tingkat Provinsi dan Pengadilan Negeri
ditingkat Kota dan Kabupaten.

"Ini aturan sudah jelas dan jangan lupa kalau mau laporkan keberatan
terhadap penetapan hasil pilkada

tidak boleh lebih dari 3 hari,"pesannya.

COBLOS TANPA BILIK SUARA

Secara terpisah, HMI Cabang Sorong, meminta kepada Panwas untuk lebih jeli
dalam menyikapi berbagai

persoalan yang ditemukan di lapangan saat berlangsungnya Pilkada Kota
Sorong 22 Maret lalu.

Hal ini menyusul ditemukannya beberapa temuan oleh tim pemantau HMI yang
berada di lapangan. Yang

mana jumlah tim pemantau dari HMI yang mendapat rekomendasi dari KPU Kota
Sorong sebanyak 10

orang.

"Setiap distrik kami tempatkan sebanyak 2 orang untuk memantau pelaksanaan
Pilkada kota Sorong,

"ungkap Ketua HMI Cabang Sorong Fatmawati.

Lebih lanjut menggungkapkan hasil temuan dari tim pemantau HMI, disebutkan
banyak warga yang tidak

mendapatkan hak pilih sedangkan mereka adalah penduduk tetap di tempat
tersebut, terjadinya

manipulasi hak pilih atau mencoblos dengan menggunakan kartu pemilih orang
lain.

Selain itu diindikasikan terdapat pemilih dibawah umur yang seharusnya
belum pantas untuk

mendapatkan hak pilihanya serta yang paling menarik adalah ditemukannya
beberapa TPS yang tidak

memenuhi syarat untuk berlangsungnya pemilihan kepala daerah.

 Dikatakan demikian karena di TPS 13 di Kelurahan Klaligi, pencoblosan
dilaksanakan di Kantor Dinas

Perikanan dan Kelautan, tanpa menggunakan bilik.

Sehingga warga dalam menggunakan hak pilihnya harus membalikkan badan
untuk mencoblos surat

suara . Dan dalam melakukan pencoblosan tersebut yang seharusnya bersifat
rahasia sudah tentu dapat

dilihat oleh orang lain.

"Sesuai dengan aturan, pelaksanaan Pilkada itu dilakukan di ruang terbuka
dan tidak boleh menggunakan

fasilitas Negara, "ujarnya.

Karenanya sekali lagi Ia pun minta kepada Panswas menyikapi hal ini, jika
tidak, maka pihaknya tegas

Fatmawati akan meminta aparat untuk menyelesaikannya.

Sementara itu masih terkait dengan pilkada, Jubir dari Team Studi Jaringan
Kota (TSJK) , Julian Kelly

Kambu,ST melalui siaran persnya mengatakan bahwa berdasarkan hasil survey
TSJK, hasil Pilkada Kota

Sorong sah dan telah berjalan secara demokratis.

Dikatakan sah diantaranya karena menindaklanjuti surat Mendagri tentang
pelaksanaan pilkada kota

Sorong yang seharusnya berlangsung pada tanggal 30 Nopember 2006, serta
surat gubernur provinsi

Papua Barat tentang pelaksanaan Pilkada Kota dan Kabupaten Sorong yang
berlangsung bersamaan

pada 22 Maret lalu.

Sementara alasan demokratis karena berlangsung secara umum, bebas dan
rahasia, serta tidak

pengaruhi oleh money politik, dan sekitar 15 – 20 % warga kota tidak
menggunakan hak suaranya dan ini

juga merupakan bagian dari demokrasi.

Lebih lanjut, Kelly Kambu mengatakan,

hasil Pilkada Kota Sorong ternyata tidak jauh berbeda bahkan sangat
mendekati dengan hasil survei TSJK

Kota Sorong yang dipublikasikan melalui media local Radar Sorong dan Fajar
Papu 4 Desember 2006

lalu.

Dimana hasil survey tersebut sempat mengundang reaksi dan pertanyaan dari
berbagai warka. "Kami

melihat bahwa ada kredit point tersendiri bagi bapak gubernur Papua Barat
karena baru terjadi dalam

negara kita dimana dua daerah otonomo dalam salah satu wilayah mempu
melaksanakan Pilkada dalam

hari yang bersamaan, dalam asas luber ,"ujarnya.

Lebih jauh untuk hasil analisis TSJK dengan empat asumsi , asumsi 1,
jumlah suara dibagi merata kepada

lima kandidat, berarti bahwa masing –masing kandidat mendapatkan jumlah
suara sebesar 23,381 dari

jumlah pemilih 116.903 orang, atau masing –masing kandidat baru
mendapatkan 20 persen suara dari

total suara sah. Asumsi ini berlaku jika semua pemilih menggunkaan hak
suara dan tidak ada surat suara

yang rusak.

Asumsi 2, jika calon yang ingin menang berarti harus merebut 25 persen
dari total suara atau sebesar

29.225 , asumsi ini jika semua pemilih menggunakan hak suarannya.
Sementara asumsi 3, jika terhadap

10 persen suara sura yang rusak, Pemilih tidak menggunakan hak pilihnya
berarti selisih suara yang

rusak /pilih tidak menggunakan hak suara (Golput) adalah 17.535 pemilih
dari total pemilih atau 105.212

yang menggunakan hak suara, jika kandidat ingin aman maka harus meraih
25%+1 dari total suara atau

26.303 + 1 suara.

Asumsi 4, jika terdapat 15 persen surat suara yang rusak /pemilih tidak
menggunakan hak pilihnya berarti

selisih suara yang rusak/pemilih yang tidak menggunkaan hak suara adalah
17. 535 pemilih dari total

pemilih atau 99.361 yang menggunakan hak suara. Jika kandidat ingin aman
maka harus meraih 25%+1

dari total suara atau 24.842 +1 suara.

Memperhatikan asumsi diatas maka analisa pemetaan basis pemilih masa
mengambang diperkirakan

sekitar 15% -20% atau sektiar 17.000-23.000 lebih dari total pemilih.

Berdasarkan hasil analisis TSJK pada point Tiga, disimpulkan bahw tidak
ada putaran kedua dalam

Pilkada Kota sebagaimana isu yang beredar dan berkembang di lapisan
masyarkaat warga Kota saat ini.

Kesimpulan ini mengacu kepada hasil analisis team bahwa menurut UU No 32,
tahun 2004 dan PP No 6.

(iin)

---

http://www.antara.co.id/arc/2007/3/6/warga-papua-unjuk-rasa-tolak-pemekaran/

Warga Papua Unjuk Rasa Tolak Pemekaran

Surabaya (ANTARA News) - Sejumlah warga Papua di Surabaya dan Malang
melakukan unjuk rasa di

depan Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa, menolak rencana pemerintah
melakukan pemekaran

terhadap provinsi dan kabupaten di Papua.

Warga yang tergabung dalam Gerakan Tolak Pemekaran Papua tersebut berasal
dari Imapa, Paguyuban

Papua, Komunitas Rakyat Papua se-Jatim dan AMP.

Aksi dimulai dari Taman Kapal Selam di Jalan Pemuda, lalu longmarch menuju
Grahadi dan kembali ke

tempat semula.

Di depan Grahadi warga Papua menyampaikan aspirasinya dengan
membagi-bagikan selebaran.

Beberapa diantara mereka ada yang berdandan khas Papua dengan menari-nari
di jalan lengkap degan

tombak, rambut jabrik dan wajah dibubuhi cat putih.

Koordinator aksi Eja Ugi mengatakan, pemekaran yang sudah dilakukan di
beberapa kabupaten di Papua,

yakni Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Nduga, Kabupaten Yalimo, Kabupaten
Memberamo Tengah.

"Keempatnya merupakan pemekaran wilayah Kabupaten Jayawijaya yang telah
membuat rakyat Papua

terpecah belah," katanya.

Dia mengatakan upaya pemekaran Kabupaten Puncak sebagai pemekaran
Kabupaten Puncak Jaya, dan

Kabupaten Dogeyai sebagai pemekaran Kabupaten Nabire, adalah bentuk dari
neo-kolonialisme modern.

Salah satu warga Papua, Anton Mote, mengatakan data di lapangan
membuktikan bahwa mereka yang

meminta pemekaran provinsi dan kabupaten-kabupaten di Papua adalah
orang-orang yang kecewa akibat

tidak lolos dari persaingan mendapatkan kursi dan kedudukan provinsi dan
kabupaten-kabupaten induk.

"Pemekaran ini membuat politik masuk di Papua. Yang semula fokus pada
bidang pendidikan ataupun

kesehatan, sekarang ikut berpolitik. Kalau ini dibiarkan, rakyat Papua
akan melarat," katanya.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

06/03/07 19:49

---

http://www.suarapembaruan.com/News/2007/03/24/Nasional/nas07.htm

SUARA PEMBARUAN DAILY
Pembagian Dana Otsus dengan Irjabar Perlu Payung Hukum

[JAKARTA] Departemen Dalam Negeri (Depdagri) diminta untuk tidak memaksa
Pemerintah Papua

membagikan dana otonomi khusus (Otsus) dengan Pemerintah Provinsi Irian
Jaya Barat (Irjabar),

sebelum ada payung hukum yang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun
2001 tentang Otonomi

Khusus (Otsus) Papua.

Selain itu, pembagian dana Otsus dengan Irjabar harus dibicarakan dengan
seluruh masyarakat Papua

terlebih dahulu. "Saya mendapat informasi bahwa ada semacam tekanan yang
dilakukan Depdagri

terhadap Gubernur Papua Barnabas Suebu agar membagi dana Otsus tahun 2007
dengan Irjabar pada

saat pembahasan revisi APBD Papua tahun 2007," kata anggota Pokja Papua
Frans Maniagasi kepada

Pembaruan di Jakarta, Jumat (23/3).

Menurut dia, tanpa menekan Pemerintah Papua pun Irjabar sebenarnya
mendapat dana Otsus itu, asal

dibicarakan dengan seluruh komponen masyarakat Papua terlebih dahulu
melalui sebuah pertemuan

akbar.

Pertemuan itu semacam konvensi untuk menerima kehadiran Irjabar dalam
kerangka UU Otsus. "Melalui

konvensi dengan melibatkan gubernur Papua, DPR Papua, Majelis Rakyat Papua
(MRP), gubernur dan

DPRD Irjabar serta komponen-komponen masyarakat strategis di Papua, baru
adanya pengakuan secara

sosiologis, politis lalu dibuatlah payung hukum bagi Irjabar dalam
kerangka UU Otsus. Sehingga UU Otsus

itu nanti berlaku untuk seluruh tanah Papua," kata Frans.

Dia menambahkan, upaya rekonsiliasi antara Papua dengan Irjabar sudah
dimulai dengan pertemuan

Gubernur Papua Barnabas Suebu dengan Gubernur Irjabar Abraham Octavianus
Atururi di Pulau

Mansinam, Monokwari 20 Februari 2007 lalu. Yang perlu didorong, bagimana
dibuat payung hukum untuk

mengintegrasikan Irjabar ke dalam UU Otsus.

Intervensi terlalu jauh dari Depdagri dinilainya justru akan membuat
kondisi Papua semakin kacau. Dia

malah mencurigai, apa yang dilakukan Depdagri itu dengan menekan Gubernur
Papua Barnabas Suebu

adalah upaya Pemerintah Pusat untuk melestarikan konflik antara Papua
dengan Irjabar. [A-21]

Last modified: 24/3/07

---

http://www.antara.co.id/arc/2007/3/19/pemerintah-diminta-relokasi-warga-di-lereng-kca-cyloops/


19/03/07 13:57


Pemerintah Diminta Relokasi Warga di Lereng KCA Cyloops


Jayapura (ANTARA News) -
 Pemerintah diminta segera merelokasi semua warga masyarakat yang kini
bermukim di lereng-lereng

Kawasan Cagar Alam (KCA) Pegunungan Cycloops yang terbentang dari Kota
Jayapura hingga

sebagian wilayah di Kabupaten Jayapura, Papua.

Permintaan itu disampaikan Wakil Ketua II Majelis

Rakyat Papua (MRP), Dra Hanna Hikoyabi, kepada ANTARA News di Jayapura,
Senin, menyikapi

bencana alam banjir yang terjadi 6-7 Maret 2007, dan mengakibatkan
sejumlah fasilitas umum di Kota

Jayapura dan sebagian wilayah di Kabupaten Jayapura menderita kerugian
material yang cukup besar,

serta terancamnya nyawa manusia di daerah itu.



Menurut Hikoyabi, pemerintah perlu melakukan usaha-usaha yang nyata untuk
merelokasi warga

masyarakat yang kini bermukim di lereng-lereng KCA Pegunungan Cycloops,
karena salah satu

penyebab bencana alam banjir adalah pemukiman penduduk yang semakin padat
serta perambah hutan

di kawasan yang telah ditetapkan sebagai salah satu situs warisan dunia itu.

"Upaya merelokasi itu

dilakukan guna menghindari bencana alam yang lebih parah lagi menimpah
penduduk di kedua wilayah

itu dan salah satu upaya yaitu memindahkan para warga di daerah itu atau
trans lokal ke daerah yang

lebih aman agar mereka dapat mengembangkan hidupnya secara layak guna
menunjang pembangunan

di daerah itu," pinta Hikoyabi.



Ia menjelaskan, faktor alam sangat dominan karena jangka waktu antara 7-
10 tahun alam sendiri

mereview,alam sendiri mengatur alam secara alamiah, tetapi ada juga faktor
human error yang harus di

perhatikan, karena dapat di lihat dengan adanya penebangan hutan dan
membuka areal pertanin di

daerah KCA Cycloops.

"Untuk itu pemerintah berkewajiban menertibkan masyarakat dan terus mendorong

mereka dengan sistem pertanian yang baik dan perlu memberikan pemahaman
tentang pola pengelolaan

hutan yang lestari agar tidak terjadi bencana yang sama atau bencana alam
lain yang lebih parah lagi,"

katanya.

Ia menilai, warga masyarakat yang bermukim di bantaran kali dan sungai
perlu di tertibkan agar

mereka tidak membuang sampah tanpa kendali, sebab semua aliran air yang
bersumber dari dari KCA

Pegunungan Cycloops itu mengalir mengikuti kali/sungai ke Danau Sentani
dan Samudera Pasifik.

 Pemerintah perlu memasang rambu-rambu larangan agar masyarakat tidak
seenaknya membuang

sampah secara liar yang mengakibatkan pencemaran di kawasan air.

Dia menegaskan, pemerintah

mempunyai tugas mengatur dan menertibkan masyarakat, agar semua komponen
bertanggung jawab

terhadap kelestarian lingkungan alam dan khusus para penguasa di birokrasi
agar tidak hanya datang ke

masyarakat ketika mempunyai kepentingan tertentu seperti Pilkada untuk
mencari dukungan suara

belaka, sementara kondisi mereka diabaikan, padahal mereka juga perlu
mendapat proses pemberdayaan

secara manusiawi.

"Para birokrasi jangan saling menyalahkan satu sama lain ketika terjadi
bencana alam

banjir seperti yang lalu, tetapi perlu merefelksi diri dan mengambil
langkah-langkah pencegahan yang

lebih nyata," katanya.



Ia berharap, pimpinan lembaga adat agar mengontrol dan mengendalikan
warganya untuk tidak menjual

tanah di daerah yang rawan bencana alam.Pimpinan lembaga adat harus
bertanggung jawab kepada

masyarakatnya agar tidak melakukan jual-menjual tanah, sebab tanah itu
menjadi kultur masyarakat yang

diciptakan Sang Pencipta.

"Basis kultur di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura berangsur-angsur

hilang, sehingga pimpinan lembaga adat jangan hanya menunggu pemerintah,
tetapi segera mengambil

lagkah-langkah nyata.

Adat mempunyai kewenangan penuh untuk mengatur warga
masyarakatnya,walaupun ada hukum formal.

Adat itu lebih awal dianut masyarakat menyusul pemerintah," harapnya.

Pemerintah harus bekerjasama

dengan pimpinan lembaga adat menanganai status tanah di kota ini yang
semakin marak terjadi transaksi

tanah tanpa mempertimbangkan dampak yang kelak terjadi, baik masalah
sosial, budaya maupun aspek

lain, ujarnya menambahkan. (*)


Copyright © 2007 ANTARA




============================================================================
KABAR IRIAN ("Irian News since 1994") www.kabar-irian.com
NOTE: "All items are posted for their news/information content. They are
not necessarily the views of IRJA.org or subscribers. "