[Kabar-Irian] Kabar: Minggu K2-K3 Sept 2006
Admin-Editors Kabar-Irian
editors at kabar-irian.com
Fri Sep 22 06:40:00 MDT 2006
Kabar Irian (Papua)
Minggu K2-3 September 2006
Topik2
* Negosiasi Perdamaian Gagal
* Pasar di Jayapura Musnah
* Pasar Hamadi Tabakar
* Dua Terdakwa Bentrok Abe, Divonis 5 Tahun
* Perempuan harus merdeka dari ketertinggalan pendidikan
* Di Papua, Masih Cukup Satu Kodam
* Penembakan Timika
* Polda Metro Serahkan Laporan Daan Damara
* Desmond Diminta Pisahkan Papua
* Kapolda: Membuat Orang Takut Atau Terancam Suatu Indikasi Teror
* Temuan 52 Spesies Baru Perkaya Biota Laut Papua
* Hiu Temuan Baru Berjalan dengan Sirip
* Suebu Ajak Masyarakat Papua di PNG Mudik
* Bintang Melanesia Bukti Dukungan PNG Kepada NKRI
* Panglima Dinilai Berlebihan
* Isu Papua Merdeka Sering Diangkat Jadi Topik Kampanye
* Dokter asal Papua Berbagi Gembira
* Penerimaan negara dari Freeport dalam lima tahun Rp17,20 triliun
* Jelang Ramadhan harga beras di Biak naik
* Tuntaskan Kasus Dugaan Korupsi Bupati Nabire
* Pemerintah Jamin Keamanan WNI di PNG yang Kembali ke Papua
* Ribuan Warga Abepura Terima Dana SLT
---
CENDRAWASIH POS
Sabtu, 09 September 2006
Negosiasi Perdamaian Gagal
*Tokoh Perang Kubu Tengah 'Menghilang'
TIMIKA-Upaya mendamaikan warga yang bertikai di Kwamki Lama oleh Wakil
Gubernur Papua Alex Hesegem, Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Agus Alua,
serta Muspida Mimika, kembali gagal.
Upaya mempertemukan tiga tokoh perang dari kubu bawah, tengah dan atas dalam
pertemun tertutup di Hotel Sheraton pukul 09.00 WIT kemarin, tak membuahkan
hasil. Pasalnya, ketiga tokoh perang kubu tengah, yakni Elminus Mom, David
Wandikbo dan Jimy Kora, tak mau menghadiri pertemuan itu tanpa alasan yang
jelas. Langkah Kapolres mencoba menghubungi ketiga melalui telepon seluler
pun gagal sampai pukul 12.00 WIT.
Setelah berkoordinasi dengan petinggi TNI-Polri yang ada, Kapolres Mimika,
AKBP Tjantje Jimmy Tuilan, SE, memutuskan menjemput ketiganya agar bersedia
mengikuti pertemuan bersama Wagub, MRP dan Muspida Mimika. Bersama
Bersama Dandim 1710 Mimika Letkol Inf. Tri Soeseno, Kaden B Brimob Kompol Abu
Bakar Tertusi SIK, Danyon 754 ENK Mayor Inf. Mirza Agus dan Dandenkav Mayor
Kav Herdianto N, Kapolres memimpin rombongan mendatangi kediaman Elminus Mom.
Di back up pasukan, mereka jalan aki dari Lapangan Sepak Bola Kwamki Lama
menuju kediaman Elminus Mom yang jauhnya sekitar 1 kilometer.
Namun mereka tak berhasil menemukan Elminus Mom. Kapolres lalu memerintahkan
polisi dan tentara mengumpulkan laki-laki yang berada di kubu tengah. Mereka
ditanyai seputar keberadaan Elminus Mom. Tapi juga gagal, warga banyak yang
bungkam. Ratusan warga kubu tengah kemudian diamankan ke Mapolres Mile 32
untuk dimintai keterangan soal keberadaan Elminus Mom.
Pasukan gabungan di Kwamki Lama kemarin 8 kompi. Untuk mengantisipasi
bentrokan, empat panser Detasemen Kavaleri 3 Kodam XVII disiagakan di Jalur
IV, Kwamki Lama dan beberapa panser lainnya disiagakan di beberapa lokasi.
Pasukan ini kemudian diperintahkan menyisir untuk merazia sajam milik warga
mulai dari lokasi tengah hingga atas. Namun warga yang mengetahui rencana itu
memilih melarikan diri ke semak-semak. Aparat hanya menyita ratusan anak
panah dan busur, termasuk parang, kampak, tombak dan pisau yang digunakan
dalam pertikaian itu. Razia dihentikan pukul 14.00 WIT karena pihak MRP
berniat melakukan pendekatan kembali dengan masyarakat kelompok atas.
Pertemuan digelar di halaman Gereja GKI Jemaat Anugerah di Jalur Sosial,
Jalan Kanguru, Kwamki Lama. Pertemuan diawali himbauan dari Pdt. Abdiel Tinal
dengan bahasa adat. Abdiel Tinal berharap masyarakat bisa menahan diri dan
menyudahi pertikaian. Sejumlah tokoh agama dari GKII Jayapura, seperti Pdt.
Lifius Biniluk juga mengingatkan kepada masyarakat bahwa umat beragama harus
sadar.
"Prihatin sehingga kami datang ke Timika melihat langsung situasi yan
terjadi," katanya. Abdiel Tinal meminta penyelesaian suatu persoalan jangan
menggunakan alat tajam sehingga menimbulkan korban jiwa. Himbauan yang sama
dikatakan Ketua Sinode GKI Pdt. Corianus Beratabui.
Kapolres Mimika juga meminta masyarakat berhenti perang. "Saya minta kepada
bapak-bapak untuk tidak berperang lagi, stop sampai di sini titik," katanya.
Sementara Alphius Murib, salah satu anggota MRP yang dikonfirmasi Radar
Timika, Jumat kemarin, menerangkan pihaknya belum memberi batas waktu akhir,
karena perdamaian melalui tahapan-tahapan.
"Kami tetap upaya negoisasi sampai ada titik temu dan kemudian proses
perdamaiannya," tutur Alphius.
Usai dialog, Kapolres kembali memerintahkan anggotanya untuk melakukan
pengamanan sebagaimana yang dilaksanakan selama ini, guna menghindari bias
pertikaian.
Kapolres kembali mengatakan bahwa dengan persoalan ini, diduga kuat ada aktor
intelektual di balik semuanya ini. "Kita akan terus selidiki keterlibatan
oknum-oknum dalam hal ini," katanya.
Sementara itu, kedua kubu yang bertikai, kemarin tidak melanjutkan perang.
Namun dari masing-masing kubu saling memancing dengan kode dan isyarat-
isyarat untuk melangsungkan perang. Hal ini yang membuat situasi di kedua
kubu menegang.
Bawa 10 Butir Amanusi, Seorang Pria Diamankan ///
Untuk menghindari konflik atau perang saudara di Kwamki Lama Mimika terus
melebar dan untuk menghindari masuknya kepentingan tertentu dari pihak ketiga
yang ingin mengacaukan suasana, maka aparat kepolisian yang bertugas di sana
terus melakukan sweeping di beberapa tempat.
Dari sweeping yang dilaksanakan di Chek Poin I Mimika, polisi berhasil
mengamankan seorang pria yang berinisial AK yang diduga warga SP XIII karena
pria ini kedapatan membawa 10 butir amunisi.
"Pria ini menggunakan jasa tukang ojek dari arah Kota Mimika menuju ke arah
Kwamki Lama. Sesampainya di Chek Poin I sekitar pukul 12.00 WIT diperiksa
oleh anggota yang melakukan sweeping. Setelah diperiksa, di dalam Nokennya
terdadapat 10 butir peluru yang diduga peluru SS1. Terkait motifnya sedang
kita dalami," ungkap Kapolda Papua, Irjen Pol. Drs. Tommy Trider Jacobus saat
ditanya wartawan seputar perkembangan kasus Timika, Jumat (8/9) kemarin.
Sementara Direktur Reskrim Polda Papua, Kombes Pol. Drs. Paulus Waterpauw
menyatakan, untuk mengusut kasus ini pihak Polres Mimika telah memeriksa dua
orang dari keluarga AK, termasuk tukang ojek yang mengantar AK juga akan
dijadikan saksi serta pemeriksaan anggota yang melakukan sweeping tersebut.
Menurutnya, bersamaan dengan amunisi tersebut juga diamankan dokumen lain,
tetapi dokumen tersebut juga sedang didalami. "Mudah-mudahan besok sudah ada
hasil pengembangan tersebut," ujarnya.
Sementara saat ditanya soal upaya penegakan hukum terhadap kelompok yang
melakukan perang tersebut, Kapolda menjelaskan, pihaknya memberikan
kesempatan bagi pemerintah daerah maupun MRP untuk melakukan negosiasi dengan
masyarakat yang perang. "Kalaupun ternyata upaya mereka tidak berhasil,
apakah harus kita biarkan mereka terus begitu. Saya pikir, kita harus sama-
sama sepakat bahwa kita harus ambil tindakan tegas bagi mereka," papar
Kapolda.
Dikatakan, konflik ini tidak hanya cukup diselesaikan dengan penegakkan
hukum, sebab ada kultur menyelesaikan masalah dengan perang. "Anda lihat,
pada kerusuhan sebelumnya kita tangkap panglima perang dan sebagainya, tetapi
tetap terulang kembali. Jadi bukan pada penegakkan hukumnya saja, tetapi
justru akar masalahnya yaitu kultur menyelesaikan masalah dengan perang yang
harus kita ganti dengan asas musyawarah untuk mufakat. Kalau tidak ada titik
temunya, kemudian menempuh jalur hukum. Ini yang harus kita lakukan secara
terus menerus denan membimbing mereka. Dan ini memerlukan waktu yang lama,"
pungkasnya. (vis/fud
---
Kompas
14 Sept. 2006
KEBAKARAN
Di Batulicin Seorang Tewas, Pasar di Jayapura Musnah
Banjarmasin, Kompas - Seorang remaja putri, Pahriah (13), tewas dalam
kebakaran di pusat kota Batulicin, ibu kota Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan
Selatan. Kebakaran di Desa Kampung Baru, Rabu (13/9) dini hari, itu juga
menghanguskan 60 toko dan rumah.
Si jago merah kemarin siang juga melalap 186 dari 196 kios Pasar Sentral
Jayapura di Hamadi, Kota Jayapura, Papua. Ratusan los sayur, ikan, dan
pedagang kaki lima juga terbakar habis. Belum diketahui berapa kerugian
akibat musibah itu.
Pahriah tewas karena terjebak di dalam rumahnya. Kebakaran itu membuat 44
keluarga atau 146 jiwa kehilangan tempat tinggal. Api baru dapat dipadamkan
tiga jam kemudian.
Menurut Kepala Kepolisian Resor Tanah Bumbu Ajun Komisaris Besar Hersom Bagus
Pribadi, api diduga berasal dari hubungan pendek arus listrik di sebuah
warung ikan bakar. Polisi kini memeriksa dua saksi, Rian dan Iwah.
Kebakaran besar ini merupakan yang kedua kali di Tanah Bumbu selama September
ini. Senin dini hari pekan lalu, lebih dari 200 bangunan rumah, toko, dan
rumah toko di Pasar Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, habis terbakar. Sekitar
300 jiwa kehilangan tempat tinggal akibat musibah tersebut.
Pasar Sentral Jayapura
Kebakaran Pasar Sentral Jayapura yang ditempati 1.000 pedagang itu terjadi
sekitar pukul 10.30. Saat terbakar, pasar itu sedang padat pengunjung. "Angin
laut sedang bertiup kencang, api terus merembet dan membakar bangunan pasar,"
kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Papua Komisaris
Besar Kartono Wangsadisastra.
Selain menghanguskan kios, los, dan lapak pedagang kaki lima, rumah yang
dihuni 73 keluarga yang berada di sekitar pasar juga terbakar.
"Kebakaran itu memang sangat besar, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa.
Korban terluka satu orang, yaitu Haji Saleh. Ia tertimpa pecahan asbes
eternit rumahnya," kata Kartono.
Menurut Kartono, kepolisian masih meneliti penyebab kebakaran tersebut. Api
sudah dikendalikan karena mobil pemadam kesulitan menjangkau titik api.
"Selain itu, angin dari laut bertiup kencang," kata Kartono.
Kepala Kepolisian Resor Kota Jayapura Ajun Komisaris Besar Robert Djoenso
menyatakan, pihaknya telah memeriksa beberapa saksi. "Pasar juga kami tutup
untuk kepentingan penyidikan. Jadi, tidak boleh ada orang berjualan atau
memperbaiki kios yang rusak. Untuk sementara, kami masih menyimpulkan
kebakaran itu karena kelalaian manusia," kata Djoenso.
Wali Kota Menase Robert Kambu menyatakan, pihaknya belum bisa memperkirakan
kerugian yang dialami Pemkot Jayapura selaku pengelola pasar.
Menurut Kambu, sejak beroperasi awal tahun 1980-an, Pasar Sentral Jayapura
belum pernah direnovasi. "Pasar itu sudah kumuh. Banyak pedagang yang tinggal
di dalam pasar, padahal itu dilarang. Kami berencana merenovasi bangunan
pasar pada tahun 2007, tetapi sekarang malah terbakar," kata Kambu.
Ia menyatakan, untuk merenovasi pasar itu menjadi bangunan pasar dua lantai,
Pemkot Jayapura membutuhkan dana Rp 50 miliar. (FUL/ROW)
---
Cendrawaih Pos
Kamis, 14 September 2006
Pasar Hamadi Tabakar
*Penyebabnya dari Api Lilin, Kerugian Ditaksir Miliran Rupiah
JAYAPURA-Pasar Central Jayapura yang berada di Hamadi atau yang dikenal
masyarakat dengan Pasar Hamadi, tinggal kenangan. Pasalnya, pasar yang
dibangun sejak tahun 1974 silam ini, Rabu (13/9) kemarin, ludes terbakar
(baca: Tabakar) api.
Tak pelak, peristiwa yang terjadi mulai sekitar pukul 10.30 WIT ini langsung
menyedot perhatian seluruh warga Kota Jayapura, baik yang didekat lokasi
pasar maupun di lokasi lainnya, karena kebulan asap kebakaran ini bisa
dilihat dari berbagai penjuru kota ini.
Dari pantaun Cenderawasih Pos di lapangan, si jaog merah yang mulai mengamuk
dari los pasar bagian belakang semakin menjalar dengan cepatnya melahap habis
pasar yang sebagian besar los dan toko serta kios terbuat dari kayu ini.
Melihat api merajalela dengan cepat karena ditunjang dengan hembusan angin
laut yang cukup kencang, warga dan pengunjung pasar berhamburan lari keluar
pasar untuk menyelamatkan diri dan barang-barang dagangan mereka.
Kebakaran ini diduga bersumber dari perumahan warga Hamadi Pantai yang berada
di belakang komplek Pasar Hamadi. Sedangkan penyebabnya bukan dari kompor
atau akibat arus pendek, namun diduga kuat berasal dari api lilin yang berada
di rumah milik Ilham warga Hamadi Pantai.
Dari informasi yang diperoleh Cenderawasih Pos, lilin itu dinyalakan oleh
anaknya Ilham yang berinisial AM (21). Lilin tersebut ditaruh di kamarnya,
sebab sejak dua terakhir wilayah tersebut mati listrik. Kemudian AM pergi
meninggalkan kamar dengan kondisi lilin masih menyala, akibatnya lilin itu
membakar kamarnya hingga menjalar ke rumah lainnya hingga ke Pasar Hamadi.
Begitu api membakar rumah yang berada di atas para-para atau perairan pantai
Hamadi itu, api langsung membesar dan tidak bisa dibendung, sebab perumahan
tersebut terbuat dari bahan yang serba kayu dan posisi satu rumah dengan
rumah lainnya hanya disekat teriplek.
Terlebih lagi, api yang membara itu didorong oleh angin yang bertiup dari
arah laut, sehingga api pun menjalar ke seluruh perumahan di pinggir pantai
yang berada di belakang pasar hingga menjalar ke pasar dan meludeskan seisi
pasar.
Dua unit mobil pemadam kebakaran yang datang sekitar pukul 11.45 WIT, tidak
bisa berbuat banyak. Meskipun kemudian diback up lagi 1 unit mobil pemadam
dari Kabupaten Jayapura dan dalam pengisian air mendapat bantuan langsung
mobil tangki air milik jajaran Kodam XVII/Trikora.
Sebagaimana data dari Polresta Jayapura, akibat kejadian ini, setidaknya 77
Kepala Keluarga (KK) warga Hamadi Pantai tersebut kehilangan tempat
tinggalnya. Sedangkan di Pasar Hamadi, hampir semuanya ludes terbakar, hanya
sebagian kecil yang berada di sebelah utara pasar (dekat jembatan/kantor
Lurah Hamadi) yang bisa diselamatkan.
Dari 196 kios/toko yang ada, 186 diantaranya ludes dilalap si jago merah.
Kemudian los yang di dalam pasar juga ludes terbakar, antara lain los ikan
sebanyak 94 meja, los sayu 348 tempat, PKL di dalam areal pasar 270 lokasi.
Sedangkan yang tidak terbakar adalah PKL di luar areal pasar sekitar 250
lokasi.
Untuk kerugian material secara total belum bisa disebutkan secara rinci,
namun yang jelas diperkirakan mencapai milliar rupiah.
Sedangkan terkait korban jiwa, data Polresta Jayapura hingga kemarin petang
menyebutkan, kebakaran tersebut tidak mengakibatkan korban jiwa, akan tetapi
hanya mengakibatkan seorang pedagang bernama H. Saleh (56) mengalami luka-
luka di bagian kepala akibat tertimpa asbes dan harus dirawat di Rumah Sakit
Angkatan Laut.
Kejadian kebakaran ini sangat mengagetkan warga dan para pedagang, karena api
menjalar begitu cepat. "Saat kejadian saya sedang tidur. Kemudian saya
dibangunkan oleh istri. Saat itu juga kita berusaha menyelamatkan barang-
barang, namun sudah tidak sempat lagi, karena api menjalar begitu cepatnya,"
ujar Aziz (45) yang tinggal di komplek perumahan yang berada di atas perairan
Pantai Hamadi itu.
Meski ada warga yang berusaha menyelamatkan harta bendanya, baik dengan cara
menjatuhkannya ke dalam air maupun diangkut dengan perahu, namun sebagian
besar harta benda dan rumah hangus terbakar serta hanya menyelamatkan jiwa.
Demikian pula ketika api mulai menjalar ke pasar, para pedagang di dalam
pasar langsung ramai-ramai menyelamatkan barang dagangannya. Meski ada juga
pedagang yang berhasil menyelamatkan barang dagangan, terutama para pedagang
yang berada di pinggir jalan raya Hamadi, tetapi banyak pula yang barang
dagangannya ludes terbakar.
Seperti halnya yang dialami oleh H. Rusdi (39). Sebagian besar barang
dagangannya yang merupakan barang pecah belah, ludes terbakar bersama
kiosnya. "Hanya sedikit saja yang bisa saya selamatkan," ucapnya sambil
menunjuk ke arah barang yang di selamatkan yang kenyataannya memang sangat
sedikit.
Kejadian tragis ini memang cukup menghebohkan masyarakat, ratusan pedagang
sibuk menyelamatkan barang dagangannya dengan dibantu warga masyarakat.
Aparat kepolisian dari Polsekta Jayapura Selatan, Polresta Jayapura, Polda
Papua dan juga aparat TNI turun ke lapangan untuk mengamankan situasi.
Kapolresta Jayapura AKBP Roberth Djoenso juga langsung turun ke lokasi,
termasuk pula Dandim 1701/Jayapura Letkol CHB Victor Tobing juga turun ke
tempat kejadian.
Di tengah berkobarnya api yang membakar pasar itu, Cenderawasih Pos berusaha
mencari tahu tentang penyebab kebakaran dan banyak kabar yang menyatakan
kebakaran ini bermula dari rumah yang sedang ada acara untuk pesta
perkawinan. Namun Cenderawasih Pos berusaha mencari informasi tersebut secara
akurat, hingga akhirnya setelah berputar-putar di sekitar Pasar Hamadi, kami
berhasil menemui pihak keluarga yang mempunyai acara pernikahan itu, yaitu
keluarga H. Baludin (45) warga Hamadi Pantai. "Memang saya sedang ada acara
yaitu persiapan resepsi pernikahan anak laki-laki saya yang rencananya
dilaksanakan sebentar malam pukul 19.00 WIT (tadi malam,red). Namun sumber
api bukan dari rumah saya," tegasnya.
Sumber api itu berasal dari rumah tetangganya yang bernama Ilham yang
jaraknya lima rumah dari rumahnya. "Sumber api itu jaraknya lima rumah dari
rumah saya. Kalau diurutkan, setelah rumah Ilham, rumah milik Madi, kemudian
Tahir, Ali, Arif, Anca baru kemudian rumah saya," paparnya.
Kesaksian ini juga diperkuat oleh istrinya Anca yaitu Hj. Rahmatia (38). "Api
itu dari rumah pak Ilham. Saat itu saya baru selesai mandi dan ada yang
teriak kebakaran, sehingga saya langsung keluar dan tidak sempat selamatkan
barang, semua habis terbakar, tidak ada sisa," ucapnya sedih.
Tetangga yang bersebelahan dengan Ilham, Ny. Nurlina juga menyebutkan, kalau
sumber api dari rumah Ilham. "Saat itu saya di rumah pengantin. Saya lari
setelah ada yang berteriak kebakaran. Tapi api begitu cepat. Saya mau
selamatkan barang, namun api sudah di dalam rumah, sehingga seisi rumah juga
ludes terbakar, termasuk buku tabungan juga tidak bisa diselamatkan,"
tuturnya.
Selain itu, terdengar isu pula, kebakaran ini mengakibatkan dua anak kecil
tewas terbakar. Namun setelah Cenderawasih Pos berputar-putar ke hampir
seluruh penjuru arah yang berada di sekitar lokasi kebakaran, tidak menemui
sumber dari isu tersebut.
Sementara itu, Kapolresta Jayapura AKBP Robert Djoenso saat dikonfirmasi
wartawan di ruang kerjanya menyatakan, hingga petang kemarin dirinya belum
menerima informasi kalau kebakaran itu mengakibatkan korban jiwa. "Memang ada
isu begitu, dimana karena orang tua sibuk urus barang, dia mengira anaknya
terbakar, namun ternyata anaknya sudah diselamatkan orang lain," paparnya.
Terkait hal ini pihaknya menjelaskan, dari hasil penyidikan api berasal dari
rumah Ilham, dimana anaknya yang berinisial AM (21) yang menyalakan lilin di
kamarnya. "Sebab dua hari sebelumnya listrik memang sudah padam, sehingga ia
menyalakan lilin seperti biasa. Namun saat itu AM keluar kamar dan begitu
hendak masuk rumah sudah terbakar," terangnya.
Ditegaskan, terkait hal ini pihaknya sedikitnya telah melakukan pemeriksaan
terhadap lima orang saksi dan karena hasil penyidikan terdapat indikasi kuat
penyebabnya adalah dari lilin di kamar AM itu, maka yang bersangkutan telah
resmi dinyatakan sebagai tersangka, dengan dijerat pasal 188 KUHP, sebab
akibat kelalaiannya itu menyebabkan terjadinya kebakaran dengan ancaman
hukuman paling lama lima tahun penjara.
Dengan kejadian kebakaran ini, pihaknya langsung mempolice line lokasi
kebakaran dan belum ada yang boleh membangun di lokasi pasar itu sebelum ada
petunjuk dari Pemda Kota Jayapura.
Saat ditanya apakah ada kasus penjarahan saat kebakaran itu, Kapolresta
menegaskan tidak terjadi penjarahan, karena anggotanya dan dari Polda cukup
banyak yang dilokasi kebakaran, termasuk dari TNI juga cukup banyak.
Terkait upaya pemadaman yang dinilai tidak maksimal itu, pihaknya menyatakan
perlunya penambahan jumlah armada pemadam kebakaran. "Saya pikir sudah
saatnya ada penambahan mobil pemadam, karena lokasi kota ini cukup luas,
termasuk disiplin petugas pemadam juga perlu ditingkatkan, sehingga ketika
ada kebakaran bisa dengan cepat menuju lokasi kebakaran," ujarnya.
Sementara itu dari pantauan di lapangan, sekitar pukul 13.30 WIT, api yang
meludeskan perumahan warga Hamadi Pantai dan Pasar Hamadi itu sudah mulai
padam, namun hingga pukul 14.00 WIT, meski sudah ludes, masih ada semburan-
semburan api dari dalam pasar yang diduga berasal dari drum-drum yang berisi
minyak, baik itu minyak tanah maupun minyak goring.
Sedangkan para pedagang yang sempat menyelamatkan barang-barangnya mulai
sibuk mengamankan barang dagangannya, yang antara lain menggunakan mobil
truk, maupun mobil pribadi serta taksi.
Dan meski api sudah padam, ribuan warga kota ini juga berbondong-bondong ke
lokasi untuk menyaksikan kondisi pasar yang ludes tersebut. (fud
---
CENDRAWASIH POS
Kamis, 14 September 2006
Dua Terdakwa Bentrok Abe, Divonis 5 Tahun
*Sidang Diwarnai Aksi Tiga Pemuda
JAYAPURA-Dua terdakwa Kasus Bentrok Abepura, masing-masing, Muhammad Kaitam,
Sedrik Jitmau, kenarin divonis 5 tahun penjara, potong masa tahanan dalam
sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jayapura, Rabu (13/9), kemarin. Vonis
lima tahun ini sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang sebelumnya
menuntut terdakwa 5 tahun penjara.
" Sesuai dengan fakta di persidangan, serta barang bukti dan keterangan
saksi, maka kami putuskan terdakwa, dengan hukuman lima tahun penjara,"ujar
Morris Ginting, selaku Ketua hakim.
Mendengar putusan tersebut, tim penasehat hukum, langsung meminta kepada
hakim, dengan nada keras, agar hakim mempertimbangkan putusannya, sebab di
nilai tidak adil, dan tidak sesuai apa yang terjadi di lapangan.
" Masa tidak ada saksi yang melihat terdakwa melakukan pelemparan terhadap
aparat, kok terdakwa bisa dihukum seberat itu,"ujar Davis dengan nada berang.
Untuk itu, selaku tim penasehat hukum, pihaknya akan mengajukan banding atas
putusan hakim tersebut.
" Kami akan penggunakan segala cara hukum, untuk mendapatkan keadilan, sebab
di pengadilan ini haya sandiwara. Dan ingat putusan ini, akan sama juga bagi
tiga terdakwa lainnya, yang akan disidangkan, Jumat (15/9) besok,"ungkap
David Sitorus,SH.
Perbuatan kedua terdakwa, di tuduhkan melanggar pasal 214 (1) KUHP.
Sementara itu, dua terdakwa lain, atas nama Sem Wandik dan Steven Wandik
dalam sidang kemarin masuk pada pemeriksaan saksi.
Selain itu dua terdakwa lain, masing-masing Steven Wandik dan Sem Wandik
Baru memasuki pemeriksaan saksi. Sidang terdakwa, atas nama Sedrik Jitmau,
dalam menghadiri sidang tersebut, menggunakan seragam sekolahnya yaitu
seragam SMU, dengan tas berisikan beberapa buah buku di gantung di samping
tubuhnya.
Saat sidang dimulai, terdakwa Sedrik Jitmau kepada hakim menyampaikan
beberapa permintaannya. Diantaranya, miminta agar selaku pelajar asal Papua,
supaya bisa memperoleh perlakuan hukum yang baik.
" Saya juga minta, kepada hakim, bahwa dengan hukuman yang saya terima, bukan
berarti akan menyelesaikan masalah di Provinsi Papua,"ungkapnya.
Dua saksi yang dihadirkan adalah, Iwan Salikin dan Habel, keduanya anggota
Dalmas Polresta Jayapura, yang saat kejadian, ikut dalam pengamanan terhadap
demonstrasi masa tersebut.
Dalam keterangan kedua saksi tersebut, keduanya menerangkan, bahwa saat
kejadian mereka milihat kedua terdakwa melakukan pelemparan terhadap aparat
keamanan, yang bertugas saat kejadian.
Namun kedua terdakwa kepada hakim, membantah akan keterangan dari kedua
saksi, dan mengatakan tidak terlibat dalam kegiatan tersebut.
Sidang akhirnya ditunda hingga minggu depan, dengan agenda mendengar
keterangan saksi yang meringankan (adecat), yang dihadirkan tim penasehat
hukum.
Sementara itu, tiga orang kembali lagi melakukan aksi, sama seperti aski
salah satu orang, belum lama ini. Aksi ini dilakukan dalam rangka memberikan
dukungan moril bagi para terdakwa Bentrok Abepura yang hendak menerima
putusan di Pengadilan Negeri Jayapura. Ketiga orang tersebut, diketahui
masing-masing bernama As Gombo, Yohanes Migal dan Benyamin Semuanya.
Aksi tersebut berlansung di depan Pengadilan Negeri Jayapura,Rabu (13/9),
pukul 11.30 WIT,kemarin.
Aksi dari ketiga orang tersebut, sempat mengundang perhatian dari warga yang
melintas di depan jalan, di depan Pengadilan negeri Jayapura, sebab busana
pakaian yang digunakan agak berbeda dengan busana biasanya. Mereka hanya
menggunakan celana dalam, serta badannya dilumuri arang warna hitam, dari
kepala hingga kakinya.
Pemuda yang pertama hadir untuk melakukan aksi adalah As Gombo, namun belum
lama lelaki itu berdiri di depan pengadilan, untuk melakukan aksinya,
terpaksa diamankan Polisi yang bertugas mengamankan situasi di Pengadilan.
Tak beberapa menit lagi, setelah itu dua orang, temannya Yohanes Migal, serta
Benyamin Semuanya, juga datang dengan kondisi warna badan yang sama, dengan
temannya semula.
Aksi kedua pemuda tersebut, membuat hingga petugas Polisi, yang berjaga di
depan gedung Pengadilan hendak mengamankan kedua pemuda tersebut, namun kedua
pemuda tersebut, tetap bersikeras untuk tetap saja melakukan aksinya, tanpa
mengeluarkan kata-kata sedikitpun.
Selang beberap menit, saat petugas hendak mengamankan kedua pemuda tersebut,
datang salah satu anggota tim penasehat hukum, bernama Alosius Renowarin,
dari ELSAM- Papua, yang sekaligus memita agar aparat membiarkan kedua pemuda
tersebut menyampaikan aspirasinya.
" Biarkan mereka menyampaikan pendapatnya, sebab itu kebebasan setiap
orang,"ungkap Alosius dengan nada tinggi.
Akhirnya kedua pemuda tersebut, masuk ke halam gedung Pengadilan Negeri dan
di depan gedung tersebut,baru kedua pemuda tersebut, bisa mengeluarkan
beberapa kalimat. "Kami minta agar proses hukum, harus independen, jangan
memihak kepada kepentingan tertentu, hakim harus adil"ujarnya Benyamin
Semunya.
Di samping itu, mereka juga meminta agar demokrasi di Provinsi Papua, harus
benar-benar ditegakkan.
Ditanya dalam melakukan aksi tersebut, mereka didukung dari elemen mana,
namun kedua pemuda tersebut mengatakan, bahwa aksi yang mereka lakukan adalah
spontanitas, secara pribadi dari mereka.
Selang beberapa menit, Kapolsekta Abepura, AKP Dominggus Rumaropen,S,sos
datang ke depan pengadilan, dan selanjutnya bernegosiasi dengan tim penasehat
hukum, serta dua pemudu tersebut, dan akhirnya disepakati, kedua pemuda
tersebut bisa menghadiri sidang, hanya saja harus berpakain yang rapi dan
baik.
" Ketiga pemuda tersebut, kami minta mereka bersikan dirinya, di Polsekta
Abepura, selanjutnya kami persilahkan mereka menghadiri sidang, dan kami
tidak tahan mereka,"ungkapnya.
Perlu diketahui, Jumat (15/9) besok akan dilanjutkan sidang putusan bagi tiga
terdakwa lainnya, masing-masing Yasya Echo Merano, Piter Stevanus Bunei, Aris
Mandowen.(cak)
Keption Foto: S4020044, Kedua pemuda, yang melakukan aksi di depan Pengadilan
Negeri Jayapura, Rabu (13/9), kemarin
---
RADAR TIMIKA
Rabu, 16 September 2006
Perempuan harus merdeka dari ketertinggalan pendidikan
TIMIKA- Kaum perempuan di Kabupaten Mimika harus merdeka dari ketertinggalan
pendidikan. Harapan ini diungkapkan salah seorang aktivis perempuan di
Kabupaten Mimika, Anna Y.Balla. S.Ag menjelang HUT Kemerdekaan Republik
Indonesia ke - 61 yang akan diperingati Kamis besok (17/9). "Karena
pendidikan juga salah satu cara untuk membuat perempuan bisa maju tapi dengan
melihat contoh seperti di Potowayburu, hanya terdapat satu sekolah saja, yang
lainnya bersekolah di balai desa dan gereja, lalau berapa banyak anak-anak
khususnya anak-anak perempuan yang belum mengenyam pendidikan,"tutur Anna.
Tidak hanya dalam pendidikan, sisi kesehatan juga perlu diperjuangkan oleh
kaum perempuan. "Misalkan dari data penderita AIDS di Mimika, tidak sedikit
kaum perempuan yang terkena, gisi buruk pada anak-anak dan ini yang
seharusnya menjadi sebuah keprihatinan bersama,"terang Anna. Sementara itu,
dari sisi perekonomian, Anna menilai juga perlu mendapat perhatian kaum
perempuan. Untuk pembinaan kaum perempuan juga perlu dilakukan, salah satunya
melalui pembinaan PKK. "Kantor PKK tersebut, merupakan kantor yang
diperuntukkan untuk semua kaum perempuan didaerah ini, berkumpul
mendiskusikan hal untuk pembangunan kaum perempuan di Kabupaten Mimika, tidak
hanya untuk tempat pelatihan keterampilan kaum perempuan,"papar Anna.(hny)
---
CENDRAWASIH POS
Sabtu, 16 September 2006
Di Papua, Masih Cukup Satu Kodam
*Mayjend TNI Zamroni,SE Resmi Jabat Pangdam XVII/Trikora
JAYAPURA-Meski Papua kini telah memiliki dua provinsi, yakni Provinsi Papua
dan Irian Jaya Barat (IJB), namun tidak sertamerta akan diikuti pemekaran
Komando Daerah Militer (Kodam) dan penambahan pasukan ke Papua. Sebab, untuk
saat ini, satu Kodam di Papua dianggap masih cukup memadai, yaitu Kodam
VXII/Trikora.
"Tidak ada rencana pembentukan Kodam baru di Provinsi Irian Jaya Barat (IJB),
saya kira satu Kodam sudah cukup, untuk menjaga pertahanan keamanan, di dua
Provinsi ini,"ujar Kasad Jenderal Djoko Santoso menjawab pertanyaan Wartawan
usai memimpin Sertijab Pandam XVII/Trikora dari Mayor Jenderal TNI,George
Toisutta, kepada pejabat baru Mayor Jendral TNI Zamroni,SE, di Lapangan
Upacara Makodam XVII/Trikora, Jumat (15/9), kemarin.
Kasa juga mengatakan, kendati Papua ini cukup luas dan berbatasan langsung
dengan negara tetangga Papua New Guiena (PNG), namun TNI juga tidak berencana
menambah pasukan di sana. Alasannya, karena masalah keamanan dan pertahanan
di wilayah perbatasan Papua- Papua New Gunea, hingga saat ini masih aman dan
stabil. "Di daerah perbatasan, tidak ada rencana penambahan pasukan di sana,
sebab hingga saat ini masih aman dan stabil. Begitu pun dengan di Kabupaten
Timika, tidak ada penambahan pasukan di kabupaten tersebut,"ungkap lagi.
Sementara berkaitan dengan serah terima jabatan Pangdam XVII/Trikora, Kasad
mengatakan, bahwa khusus untuk daerah militer XVII/Trikora mempunyai
kekususan dari wilayah di Indonesia lainnya, sebab kondisi Provinsi Papua,
masih kurang dari sarana prasarana perhubungan, serta sarana informasi di
tambah dengan letak geografis, yang begitu sulit, serta masih adanya
gangguan-ganggun separatisme, yang mengancam keamanan NKRI,sehinggga
dibutuhkan kerja keras, dari semua pihak, termasuk Pangdam yang baru.
" Saya himbau kita bersama-sama harus bekerja sama dan menjaga keamanan di
Provinsi ini. Dan khusus Prajurit TNI di daerah ini harus aktif ikut
membangun daerah ini,"ajaknya.
Menurutnya, dalam menjaga stabilitas pengamanan negara, merupakan tanggung
jawab semua komponen masyarakat, namun secara fungsional untuk pengamanan dan
ketertiban masyarakat di dalam negeri, adalah pihak kepolisian.
"Sedangkan untuk masalah pertahanan dan keamanan yang datang dari luar dan
dalam yang mengganggu kedaulatan negara kesatuan republik Indonesia
(NKRI),yang menjadi penjuru adalah TNI,"katanya.
Dikatakan, walaupun TNI sebagai penjuru dalam menjaga pertahanan dan keamanan
dalam negeri, namun di dalam implementasinya di lapangan dimana masalah
tersebut merupakan tanggung jawab semua komponen masyarakat.
" Keamanan dan stabilitas NKRI tanggung jawab semua pihak,"ujarnya.
Ditambahkan, dalam menjaga stabilitas negara, TNI menggunakan dua pendekatan,
yaitu pendekatan keamanan dan pendekatan kesejahteraan. "Keamanan dalam arti
tugas stabilitas negara Indonesia harus terjamin dengan baik,"ujarnya.
Sehingga dengan keamanan yang baik, dengan sendirinya pembangunan akan di
laksanakan juga dengan baik, tanpa ada gangguan. "Keamanan merupakan syarat
mutlak dari pembangunan suatu bangsa, sehingga dengan sendirinya
kesejahteraan masyarakat meningkat,"ungkapnya.
Usai acara, bertempat di ruang pertemuan Kodam XVII/Trikora di lanjutkan juga
serah terima jabatan dari Ketua Persit Kartika Chandra Wirana Daerah
XVII/Trikora dan Dharma Pertiwi daerah-H, dari pejabat lama Ny, George
Toisutta, kepada pejabat baru,Ny Zamroni,SE. Acara ini disaksikan Ketua Umum
Persit Kartika Chandara Wirana Pusat, Ny Djoko Santoso.
Untuk diketahui, Mayor Jenderal TNI,George Toisutta, selanjutnya menjabat
sebagai Panglima Kodam III/Siliwangi di Bandung, sementara pejabat baru,Mayor
Jendral TNI Zamroni,SE, sebelumnya menjabat Pangdam IX/Udayana Denpasar Bali.
Dalam upacara tersebut, dihadiri sejumlah Muspida Tingkat I, baik Provinsi
Papua, dan Provinsi Irian Jaya Barat, seperti Gubernur Irian Jaya Barat,
Abraham Oktovianus Ataruri dan Gubernur Papua, Barnabas Suebu, serta pejabat
teras lainnya.
Sementara itu, kemarin malam, juga dilakukan acara lepas sambut Pangdam
XVII/Trikora, pejabat lama Mayor Jendral TNI George Toisutta bersama dengan
jajaran serta prajurit di lingkungan Makodam XVII/Trikora, yang berlangsung
hikmat dan meriah, di Aula Mayjen Tonny Rompis.(cak
---
http://www.indomedia.com/bpost/092006/16/nusantara/nusa2.htm
Penembakan Timika
Setelah Walk Out Mogok Makan
Jakarta, BPost
Aksi walk out dari ruang sidang yang dilakukan 6 terdakwa penembakan di
Timika belum lah cukup. Sebagai bentuk protes, mereka pun menggelar aksi
mogok makan sejak Rabu (13/9) lalu. Akibatnya sidang, Jumat kemarin, terpaksa
ditunda.
"Sejak Rabu sampai sekarang mereka mogok makan, itu akan dilakukan hingga
keadilan ditegakkan," ujar Damaris Onawame, putri salah satu terdakwa,
Pendeta Ishak Onawame.
Alasan para terdakwa mogok makan itu karena mereka menolak kesaksian FBI
dalam kasus tersebut. Mereka menganggap pengadilan berlaku tidak adil.
Meski sudah memasuki hari ketiga, kondisi para terdakwa dipastikan baik-baik
saja.
"Kami kan kuat!" cetus Damaris sambil mengangkat tangannya seraya
memperagakan aksi tokoh kartun Popeye setiap habis makan bayam.
Sementara itu JPU Anita Asterida di hadapan majelis hakim yang diketuai
Adriani Nurdin mengakui sejumlah jaksa juga berhalangan hadir.
Beberapa jaksa yang seyogianya hadir dalam sidang saat ini harus mengikuti
pemusnahan barang bukti di wilayah Bumi Serpong Damai.
"Sementara kendaraan yang digunakan untuk mengangkut para tahanan dari
Bareskrim juga digunakan untuk acara tersebut," katanya.
Sidang dengan agenda pemeriksaan saksi akan digelar lagi pada 19 September.
Rencananya saksi yang akan dihadirkan adalah anggota TNI AD.
Terkait kesehatan salah satu terdakwa, Hardi Tsugumol, yang selama ini
dirawat di RS Polri karena sakit jantung, dokter sudah mengizinkannya
meninggalkan RS meski kondisinya masih lemah.dtc
---
LAMPUNG POS
Jum'at, 15 September 2006
NASIONAL
Polda Metro Serahkan Laporan Daan Damara
LAPORKAN HAMID. Daan Damara menunjukkan berkas pelaporan Hamid Awaluddin ke
Polda Metro Jaya dalam kasus sumpah palsu.(DOK SCTV)
Lampost Online, JAKARTA: Polda Metro Jaya melimpahkan penyidikan
laporan Daan Dimara dalam kasus dugaan kasus sumpah dan kesaksian palsu
dengan terlapor Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin ke Mabes Polri.
"Kemarin sore laporannya sudah masuk. Kami langsung melimpahkannya ke Mabes
Polri karena yang dilaporkannya adalah seorang menteri," kata Wakil Direktur
Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKB Tejo Subagio di Jakarta, Jumat
(15/9).
Menurut Tejo, pelimpahan itu dilakukan agar proses penyidikannya bisa lebih
mudah. "Untuk memeriksa seorang menteri, harus ada izin dari Presiden.
Sementara pengajuan izin itu harus melalui Mabes Polri," katanya.
Sementara itu Kapolda Metro Jaya Irjen Adang Firman mengungkapkan, Polri akan
memproses laporan Daan tersebut. "Kami sedang mempelajari kasus tersebut,"
katanya.
Mengenai permintaan Daan untuk menemuinya sebelum membuat laporan, Kamis
(14/9), Kapolda mengungkapkan setiap orang yang membuat laporan polisi tidak
perlu bertemu dengan dirinya.
"Di Polda kan bukan hanya Kapolda. Lagi pula kemarin saya ada acara di luar,"
ujarnya. (Miol/LO-01)
---
http://www.indomedia.com/bpost/092006/21/nusantara/nusa1.htm
Desmond Diminta Pisahkan Papua
Jakarta, BPost
Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asing kini melancarkan manuver
pemisahan Papua dari Bumi Pertiwi. Uskup Desmond Tutu yang memiliki reputasi
internasional dilobi agar membantu pemerdekaan Papua melalui forum
internasional.
Usaha LSM asing ini dideteksi TNI sebagai ancaman terhadap Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto pun
mengingatkan agar bangsa kita waspada.
"Perkembangan terakhir, ada upaya dari LSM asing untuk menggunakan orang-
orang terkenal, seperti Desmond Tutu untuk melobi PBB guna mengangkat isu
Papua ke forum internasional," tegas Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto pada
Rapimnas TNI 2006 di Mabes TNI Cilangkap, Rabu (20/9).
Desmond Tutu adalah peraih Nobel Perdamaian tahun 1984. Uskup Agung Afrika
Selatan ini memiliki reputasi dan pengaruh besar di ajang internasional.
"Siapa yang tidak tahu engan Desmond Tutu. Suaranya di PBB sangat dihargai
dan diperhatikan," kata Djoko.
Panglima TNI mengaku telah menerima surat dari perwakilan tetap RI di PBB
tentang manuver LSM yang mendekati Uskup Desmond Tutu. Meski masalah ini
bukan kewenangan langsung panglima, TNI niscaya meningkatkan kewaspadaan. TNI
tak mengkhawatirkan isu-isu yang mengkaitkan masalah Papua dengan isu
pelanggaran HAM.
Ia meyakini dengan performance TNI yang profesional, akan dapat melaksanakan
tugas, wewenang dan fungsi sesuai aturan berlaku. "Tidak perlu khawatir.
Suasana di Papua sekarang sangat kondusif," tandas Djoko.
Masalah yang mencuat di Papua dinilai tidak begitu menonjol dari aspek
keamanan. Namun, secara politis sering dimanfaatkan LSM asing untuk
dipolitisasi di forum internasional.
Selain mencermati Papua, dalam Rapim yang dihadiri Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono itu, Panglima TNI menyoroti perkembangan di Poso, Sulawesi Tengah
dan Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Konflik horisontal di dua wilayah ini
relatif menurun dalam dua tahun terakhir.
"Insiden-insiden kecil yang masih terjadi di Aceh merupakan proses perdamaian
abadi yang telah kita sepakati. Konflik-konflik itu dikategorikan sebagai
tindakan kriminal yang harus diselesaikan secara hukum di sana," jelasnya.
Sedangkan di Poso, meski ada letupan-letupan, secara umum situasi kawasan
tersebut jauh lebih baik, dibanding beberapa tahun lalu. Rapimnas TNI 2006
kemarin dihadiri presiden dan Menhan Juwono Sudarsono. Keduanya memberi
pengarahan Rapimnas yang akan berakhir Kamis (21/9) ini.
Presiden minta perwira menengah dan tinggi TNI yang profesional, tidak boleh
gagap teknologi. "Jangan hanya modal nekat dan berani. Kalau tidak paham
teknologi perang modern, kita bisa dikadalin orang lain," tandas Yudhoyono.
Sekitar 1.300 perwira menengah dan tinggi TNI peserta rapat pimpinan
terbatas, menyambutnya dengan anggukan kepala dan senyum simpul tanda setuju.
Pembekalan itu sendiri digelar sebagai rangkaian peringatan hari jadi ke-61
TNI.
Sesuai kemampuan negara, yang dikembangkan kemampuan esensi minimal untuk
mengemban tugas-tugas berat menjaga keamanan NKRI. "Meski kekuatan minimal,
namun harus tetap canggih, mengikuti perkembangan teknologi militer terkini,"
tandas presiden. ant/mic/dtc
---
Teroris Sudah Ada di Papua
Diposkan oleh Cepos pada 21 Sep 2006, 12:13
Kapolda: Membuat Orang Takut Atau Terancam Suatu Indikasi Teror
JAYAPURA-Masalah terorisme adalah suatu hal yang bisa kapan saja terjadi.
Oleh sebab itu, Polda Papua melalui Detasemen 88 Anti Teror Polda Papua terus
mewaspadai kemungkinan adanya teroris yang masuk ke wilayah Papua.
"Masalah terorisme ini bukan berarti kita harus menunggu hingga ada teroris
masuk, sebab bentuk-bentuk suatu hal yang bisa membuat orang merasa takut,
atau merasa terancam ini adalah salah satu indikasi dari teror. Semua tempat
bisa menjadi sasaran teroris, karena itu kita terus waspada dan menyiagakan
personel agar jangan sampai di Papua ini terjadi aksi terorisme," tegas
Kapolda Papua, Irjen Pol. Drs. Tommy Trider Jacobus saat ditanya wartawan
seusai menutup pelatihan anti teror di Halaman Mapolda Papua, Rabu (20/9)
kemarin.
Saat ditanya soal apakah latihan anti teror ini ada kaitannya dengan
datangnya bulan puasa, Kapolda menegaskan, pelatihan ini sudah lama
dirancang, kebetulan saja penutupannya menjelang puasa.
"Jadi tidak ada kaitannya dengan bulan puasa, tetapi kita ingin meningkatkan
kemampuan detasemen yang baru terbentuk ini, setidak-tidaknya mereka
mempunyai kemampuan yang standar untuk bisa menangani semua bentuk-bentuk
kejahatan teror," tegasnya.
Sementara menjelang ramadhan ini, pihaknya menyatakan bahwa jajarannya antara
lain melaksanakan operasi Miras sebagai upaya pra kondisi dan dilanjutkan
dengan operasi citra berlalulintas dan operasi-operasi simpatik lainnya.
"Situasi dan kondisi di Papua menjelang puasa, kita berdoa kepada Tuhan agar
diberikan suasana damai dan memberikan kesempatan bagi Umat Islam untuk
menjalankan ibadah puasa dengan baik," harapnya.
Kepada masyarakat lain, pihaknya berharap untuk menghormati umat Islam yang
akan melaksanakan ibadah puasa. "Sehingga kerukunan antar umat beragama dapat
kita ciptakan, sebagai motto kita Papua adalah tanah damai," ujar Kapolda.
Sementara Kepala Detasemen 88 Anti Teror Polda Papua, Kombes Pol. Drs.
Fachrudin,SH menjelaskan, detasemen yang berada di bawah komando langsung
dari Kapolda ini terbentuk sejak 11 Juni 2005. "Ada 6 Detesemen Anti Teror
yang langsung dibawah Kapolda, termasuk di Polda Papua ini. Sedangkan di
Polda selain yang 6 itu berada dibawah Direktorat Reserse dan Kriminal,"
paparnya.
Menurutnya, di Papua ini sebetulnya sudah ada teroris, tetapi belum muncul ke
permukaan dan agar aksi ini tidak muncul ke permukaan, pihaknya terus
melakukan langkah-langkah antisipasinya.(fud)
---
http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0609/18/194228.htm
Temuan 52 Spesies Baru Perkaya Biota Laut Papua
JAKARTA, KCM - Temuan 52 spesies baru di kawasan Teluk Cendrawasih serta
perairan di sekitar Kabupaten Fak-Fak dan Kaimana, Irian Jaya Barat
membuktikan betapa kayanya biota laut di kawasan Kepala Burung, Pulau Irian.
Puluhan spesies yang belum teridentifikasi secara ilmiah tersebut terdiri
atas 24 jenis ikan baru, 20 jenis karang, dan 8 jenis udang-udangan.
Bahkan kawasan seluas 18 juta hektar tersebut menyimpan sekitar 75 persen
jenis karang yang ada di dunia. Hasil survai menunjukkan sedikitnya ada 1.200
jenis ikan dan 600 jenis karang di perairan tersebut. Survai yang dipimpin
Dr. Mark Erdmann, Senior Advisor Program Kelautan Conservation Internasional
Indonesia, dilakukan di Teluk Cendrawasih pada Februari dan di Fak-Fak -
Kaimana dari April hingga Mei 2006.
Kawasan tersebut juga teridentifikasi sebagai lokasi bertelur penyu belimbing
yang terbesar di Lautan Pasifik. Juga, kawasan itu sebagai tempat perpindahan
berbagai jenis paus (Sperm whale, Bryde whale, dan Orca), serta beberapa
spesies lumba-lumba.
Survai melibatkan para pakar ikan, karang, udang mantis (stomatopoda),
terumbu karang, konektivitas genetis, populasi laut, penyu, pariwisata
bahari, perikanan, dan sosial. Mereka berasal dari Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan,
Universitas Negeri Papua (UNIPA), Balai TN Cendrawasih, BKSDA Papua II, dan
WWF Indonesia selain Conservation Internasional.
"Kami telah mendokumentasikan sebagian besar kekayaan biota laut di sana,
namun belum mengambil spesimen untuk diidentifikasi yang merupakan wewenang
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)," kata Mark saat dihubungi KCM,
Senin (18/9).
Mark mengatakan timnya berencana kembali ke sana tahun depan bekerja sama
dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi (P3O) LIPI untuk
melakukan penelitian lanjutan.
Konservasi baru
Hasil survai cepat ini membuktikan bahwa perairan Teluk Cendrawasih dan Fak-
Fak - Kaimana mempunyai potensi keanekaragaman hayati yang unik dan khas yang
harus dilindungi, melengkapi hasil survai keanekaragaman hayati di Raja Ampat
pada 2001. Kegiatan penilaian secara cepat ini juga membuktikan bahwa
perairan Kepala Burung Papua, mulai dari Teluk Cendrawasih di timur, Raja
Ampat di barat, dan Fak-Fak - Kaimana di selatan, merupakan wilayah yang
perlu dikelola secara berkelanjutan.
Gerry Allen
Beberapa spesies ikan yang baru ditemukan di perairan Kepala Burung Pulau
Irian antara lain Meiacanthus sp. (kiri atas), Pseudochromis sp (kanan atas),
Pterocaesio sp. (kanan bawah), Pomacentrus sp (kiri bawah).
Apalagi, wilayah ini merupakan pemasok utama sumber kehidupan laut, seperti
larva ikan dan karang, bagi wilayah Indonesia bagian timur dan kawasan Indo-
Pasifik secara umum. Kehidupan laut ini sangat penting bagi keberlanjutan
perikanan komersial, terutama masyarakat lokal yang hidupnya sangat
tergantung pada kondisi perikanan setempat.
Kurang lebih 11 persen dari wilayah bentang laut ini telah dikonservasi dalam
berbagai bentuk perlindungan alam, yang terbesar adalah Taman Nasional Teluk
Cendrawasih. Beberapa tindakan harus segera diambil untuk mempertahankan
integritas DAS di sekitar taman nasional, karena perambahan hutan yang sangat
marak dan kegiatan pertambangan yang menyebabkan erosi dan sedimentasi, yang
dapat merusak terumbu karang dan perikanan di sekitar wilayah ini.
"Mungkin di beberapa lokasi perlu dipertimbangkan untuk dikembangkan menjadi
kawasan konservasi baru," ujar Mark. Menurutnya, pemerintah daerah setempat
sangat antusias menanggapi laporan temuan timnya dan mendukung upaya
melestarikan lingkungan di sekitarnya.
Penulis: Wah
---
http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0609/19/155803.htm
Conservation International/ Gerry Allen
Seekor hiu bambu baru dari genus Hemiscyillum terlihat di dasar laut perairan
Kepala Burung Pulau Irian seolah akan berjalan dengan mengerak-gerakkan
sirip-siripnya.
Hiu Temuan Baru Berjalan dengan Sirip
JAKARTA, KCM - Di antara 52 jenis spesies baru yang ditemukan di perairan
sekitar kawasan Kepala Burung, Pulau Irian terdapat dua jenis hiu yang unik.
Sebab, kedua jenis hiu terlihat seperti berjalan dengan sirip-siripnya.
"Mereka sering terlihat di dasar laut yang tidak begitu dalam dan menggerak-
gerakkan siripnya untuk bergerak seperti mau jalan," kata Mark Erdmann saat
dihubungi KCM, Senin (18/9). Erdmann adalah penasihat senior Conservation
International Indonesia yang memimpin survai di Teluk Cendrawasih dan
perairan Fal-Fak-Kaimana.
Peneliti berkewarganegaraan AS namun fasih berbahasa Indonesia itu mengatakan
bahwa keduanya termasuk jenis hiu bambu. Tubuhnya kurus dengan kulit belang
berwarna hijau hitam dan putih seperti baju tentara dan panjangnya hanya
sekitar 1 meter. Hiu yang kemungkinan besar masuk genus Hemiscyillum ini
tidak membahayakan manusia.
Untuk menjumpainya juga tidak terlalu sulit, cukup menyelam di kedalaman
beberapa meter di malam hari. Mereka tidak banyak berenang, namun lebih
banyak menghabiskan waktu di atas pasir di dasar laut.
Sejauh ini, tim survai tidak melakukan pengambilan sampel spesies atau
spesimen untuk dikoleksi. Tim yang dipimpin Mark akan bergabung dengan tim
peneliti Pusat penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (LIPI) yang akan berangkat ke sana tahun depan.
"Kami akan bekerja sama dengan tim LIPI yang dipimpin Kasim Mousa," kata
Mark. Kabarnya, LIPI juga akan menggandeng lembaga penelitian dari Belanda
terutama Museum Leiden sehingga identifikasi spesies baru lebih akurat.
Penulis: Wah
---
http://www.gatra.com/2006-09-22/artikel.php?id=97912
Suebu Ajak Masyarakat Papua di PNG Mudik
Port Moresby, 18 September 2006 12:14
Gubernur Papua Barnabas Suebu mengajak masyarakat Papua yang selama ini
berdomisili di Papua Nugini (PNG), agar pulang ke kampung halamannya untuk
bersama-sama dengan saudara-saudara di provinsi itu membangun tanah Papua
yang baru yakni masyarakat Papua yang adil, damai dan sejahtera.
Hal itu disampaikan Gubernur Suebu ketika berdialog dengan sedikitnya 500
warga masyarakat Papua yang bermukim di PNG dengan mengambil tempat di Aula
pertemuan KBRI di Port Moresby, Senin (18/9), sebagai salah satu rangkaian
kunjungan Gubernur Papua ke negara ini sejak Jum`at (16/9) hingga Selasa
(19/9).
"Saya datang kesini sebagai saudaramu untuk mengajak kamu pulang ke kampung
halaman sendiri dengan perasaan bebas tanpa takut apa pun juga. Saya menjadi
jaminan keamanan bagi kamu, jika kamu takut mati, biarlah saya mati lebih
dahulu sebelum kamu mati," katanya.
Ia meminta saudara-saudara sesama anak Papua di PNG yang ingin pulang ke
kampung agar pulang dengan bebas tanpa paksaan dari siapa pun juga. "Tetapi
jika di antara kalian ingin tetap tinggal di PNG maka hal itu pun tidak
dipaksakan asalkan kita semua tetap bersaudara," seru Suebu.
"Tidak ada alasan apa pun untuk kita tidak bersaudara," tegasnya disambut
tepuk tangan meriah dari masyarakat Papua di PNG.
Suebu juga mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia terus berusaha menata
jalannya roda pemerintahan khususnya di Papua secara baik dan bebas dari
korupsi. Pemerintah Provinsi Papua pun sudah merancang pembukaan jalur
transportasi udara dengan penerbangan Air Efata rute Jayapura-Port Moresby.
Begitu pula akan dibuka pelayaran kapal-kapal penumpang dengan jurusan
Jayapura-Port Moresby serta jalan darat melalui pintu perbatasan yang sudah
disiapkan pemerintah RI dan PNG.
Semua yang dilakukan ini semata-mata bertujuan memperlancar jalinan
persaudaraan antara masyarakat Papua yang bermukim di PNG dengan saudara-
saudara mereka di Provinsi Papua dan Irian Jaya Barat.
Kembali, Suebu menegaskan bahwa Pemerintah RI membuka tangan dan hati untuk
menerima warga Papua yang selama ini tinggal di PNG untuk pulang ke tanah
kelahiran di Papua. Pemerintah menerima siapa saja orang Papua yang ingin
pulang dengan hati yang tulus.
"Bagi mereka yang pulang kampong tidak diperlakukan secara khusus tetapi akan
diperlakukan sama dengan saudara-saudaranya yang lain di tanah Papua,"
katanya. [EL, Ant]
---
http://www.antara.co.id/seenws/?id=42487
Bintang Melanesia Bukti Dukungan PNG Kepada NKRI
Port Moreby (ANTARA News) - Penganugerahan Bintang Melanesia kepada Gubernur
Provinsi Papua, Barnabas Suebu, merupakan bukti nyata dukungan pemerintah dan
rakyat Papua Nugini (PNG) pada keutuhan Provinsi Papua dan Irian Jaya Barat
dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Hal itu disampaikan Kuasa Usaha Ad Interim KBRI di Port Moresby, Pratito
Soeharyo kepada ANTARA, di Port Moresby, Senin, usai mengikuti upacara
penganugerahan Bintang Melanesia kepada Gubernur Papua, Barnabas Suebu atas
jasa-jasanya membangun persahabatan antara masyarakat Papua dengan PNG dan
upayanya yang sangat gigih untuk melahirkan Otonomi Khusus bagi Papua.
"Penghargaan Bintang Melanesia kepada Gubernur Suebu diberikan oleh
Pemerintah PNG bukan dari lembaga lain yang tidak kompeten dan tidak
kredibel. Itu berarti ada pengakuan pemerintah dan rakyat PNG atas jasa
seorang gubernur Indonesia yang saat ini memimpin Provinsi Papua, wilayah
yang bertetangga paling dekat dengan PNG," katanya.
Penghargaan yang sama pernah juga diberikan Pemerintah PNG kepada tokoh
masyarakat dan negarawan lain di dunia seperti Fiji, Vanuatu dan Salomon.
Keinginan Pemerintah PNG untuk menganugerahkan Bintang Melanesia kepada
Gubernur Suebu telah disampaikan kepada Pemerintah Indonesia. Keinginan itu
disampaikan melalui Kedutaan Besar RI di Port Moresby dan pihak KBRI
memberikan penilaian bahwa pemberian penghargaan ini positif karena dari
pemerintah bukan dari pihak-pihak lain, kata Pratito.
Selama ini Pemerintah PNG sangat mendukung Papua dalam bingkai NKRI, malahan
keutuhan NKRI itu sudah merupakan harga mati bagi PNG.
"Kita patut menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah PNG dan berusaha agar
penganugerahan Bintang Melanesia ini dihargai bangsa
Indonesia," katanya.
Menurut Pratito, fakta membuktikan bahwa secara geografis, wilayah Indonesia
itu berbatasan langsung dengan PNG sehingga dibutuhkan kemauan baik dari
semua komponen bangsa Indonesia untuk membangun dan mempererat jalinan hidup
bertetangga itu, apalagi, secara budaya, masyarakat PNG itu punya pertalian
kekerabatan dan tradisi dengan masyarakat di Provinsi Papua dan Irjabar.
Sementara itu, salah seorang tokoh masyarakat Papua yang bermukim di Port
Moresby, John Norotouw, berpendapat pemberian penghargaan pemerintah PNG
kepada Gubernur Suebu menyatakan bahwa selama ini PNG menilai pribadi Suebu
sebagai seorang Indonesia kelahiran Papua yang mampu menguatkan ikatan
kekerabatan antarwarga Melanesia di Papua dan PNG.
"Kita tahu bahwa jumlah warga masyarakat Papua di PNG sekitar 25 ribu jiwa.
Jumlah ini cukup banyak sehingga dibutuhkan kerjasama Pemerintah RI dengan
PNG untuk mengajak warga Papua itu kembali ke kampung halamannya sendiri.
Bintang Melanesia yang diterima Gubernur Suebu merupakan penghargaan
sekaligus tugas mulia baginya untuk mengembalikan ribuan warga Papua di PNG
ke tanah kelahiran mereka di Provinsi Papua dan IJB," katanya.
Menurut dia, cepat atau lambat, masyarakat papua di PNG akan pulang ke
kampung halaman mereka sendiri. Walaupun ada di antara mereka yang ingin
menetap di PNG, namun hubungan persaudaraan antara mereka dengan sanak
saudara di Provinsi Papua dan IJB ingin tetap dipelihara dan dilestarikan.
Pemerintah RI dan PNG harus tetap menjalin kerjasama agar masyarakat Papua di
PNG tidak menjadi ganjalan dalam seluruh proses pembangunan di tanah Papua,
tambahnya. (*)
Copyright © 2006 ANTARA
18 September 2006 13:6
---
http://www.cenderawasihpos.com/Utama/h.2.html
Jumat, 22 September 2006
Panglima Dinilai Berlebihan
*Soal Tudingan LSM Asing Menginternasionalisasi Isu Papua
JAYAPURA- Pernyataan Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto yang menuding adanya
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asing yang terus berupaya
menginternasionalisasi isu Papua dengan memanfaatkan tokoh-tokoh Hak Asasi
Manusia (HAM), dinilai pernyataan yang berlebihan.
Penilaian itu diungkapkan Direktur Kontras (Komisi Orang Hilang dan Korban
Tindak Kekerasan) Papua, Pieter Ell, SH. Menurutnya, banyak masalah
pelanggaran HAM yang terjadi di Papua selama ini, dan itu adalah fakta.
Hanya saja penyelesaiannya kurang diseriusi. Karenanya, lanjutnya, tak heran
jika masalah HAM di Papua terus menjadi perhatian internasional.
Tak hanya itu, dengan perkembangan dan kemajuan teknologi memudahkan siapa
saja untuk mengakses informasi tentang masalah di Papua. Meski mengaku belum
tahu pasti apakah ada LSM asing yang melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh
HAM di Papua, namun dirinya menyatakan kalau masalah pelanggaran HAM di Papua
sebenarnya sudah mendunia, karena dapat diakses dari berbagai media dan
teknologi. "Saya kira semua LSM memberikan perhatian terhadap pelanggaran HAM
yang terjadi di Papua. Dan jangankan LSM semua orang tahu kalau di Papua
banyak kasus pelanggaran HAM yang tidak diselesaikan dengan baik," ujarnya
kepada Cenderawasih Pos saat di hubungi via telepon, Kamis (21/9) kemarin.
Dikatakan, isu HAM sifatnya universal, artinya tidak mengenal batas.
Karenanya, isu pelanggaran HAM di Papua dikenal ke luar negeri dinilai
sebagai hal yang biasa. "Dimanapun pelanggaran HAM terjadi pasti menjadi
perhatian dunia, termasuk di Papua," tandasnya.
Lebih jauh, Pieter Ell, konvensi internasional tentang perlindungan HAM di
Indonesia sedang mengesahkan 5 poin penting. Dalam konvensi yang terkait
dengan masalah HAM itu salah satu diantaranya adalah konvensi anti
penyiksaan.
"Oleh karena itu jangan dikambinghitamkan LSM. Prihatin terhadap kasus HAM di
Papua tentunya suatu hal yang wajar, karena sampai saat ini belum ada
diselesaikan secara tuntas," katanya..
Sementara itu Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua Paskalis Letsoin, SH
yang ditemui secara terpisah mengatakan hal yang hampir sama. Meski mengaku
apapun bentuknya LSM yang aktif memperjuangkan HAM, tentunya tidak akan
mungkin menjual nama negara karena LSM tersebut dibawa Kesatuan Negara
Republik Indonesia (NKRI), artinya ada karena ada negara.
Meski begitu, namun ia menilai pernyataan Palinglima TNI itu kurang
transparan karena tidak berani mengungkapkan langsung LSM asing yang
dimaksud. Demikian halnya dengan tokoh-tokoh HAM yang berpengaruh dimaksud.
"Kita tidak mungkin menjual bangsa, jadi kalau memang ada tudingan LSM asing
dan tokoh HAM yang didekati seperti yang dimaksud Panglima, ya disebutkan
saja supaya jelas. Supaya ada klarifikasi atau penjelasan dari yang
dimaksud," ujarnya.(ito)
---
http://www.cenderawasihpos.com/Utama/h.3.html
Jumat, 22 September 2006
KUAI KBRI di Port Moresby Tentang Isu Merdeka oleh Warga Papua di PNG
Isu Papua Merdeka Sering Diangkat Jadi Topik Kampanye
Tulisan sebelumnya telah digambarkan bahwa sebagian warga Papua di PNG
menginginkan agar Papua ini merdeka dalam arti independent (negara). Lantas
bagaimana KBRI melihat hal ini dan bagaimana sebenarnya respon pemerintah PNG
tentang isu Papua Merdeka itu, serta apapula upaya KBRI terhadap warga Papua
di PNG terkait isu itu. Berikut wawancara khusus Cenderawasih Pos dengan
Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI di Port Moresby DR Pratito Soeharyo.
Laporan RAHMATIA, Jayapura
Kendati sesungguhnya hubungan diplomatik antara pemerintah Republik Indonesia
(RI) dengan pemerintah Papua New Guinea (PNG) cukup baik bahkan harmonis,
namun ternyata ada satu hal yang seringkali mengganjal hati pihak RI, yakni
isu Papua Merdeka. Di PNG, isu Papua Merdeka merupakan hal lumrah dan sering
dibahas. Bahkan seringkali menjadi isu kampanye politikus di negerinya
Michael Somare itu. Sebab ternyata warga Papua yang jumlahnya cukup besar di
negara itu menjadi aset politik yang sangat besar pula untuk bisa memenangkan
suatu Pemilu.
"Nah itulah kekuatan mereka di sini (PNG), baik di Nine Mile maupun Eight
Mile serta tempat-tempat lainnya itu ribuan dari mereka memang tidak ikut
memilih tetapi ribuan suara mereka juga bisa mempengaruhi," kata Pratito.
Kenapa, karena adanya perkawinan antara dua negara misalnya orang Indonesia
(Papua) kawin dengan orang PNG. Sehingga isterinya tentu bisa memilih begitu
juga anaknya sehingga kalau ada suami dan mempunyai tiga orang anak, maka
tentu saja suaranya bisa sampai 4 suara. Meski sebenarnya meraka tidak
memiliki indentitas yang jelas.
"Makanya saya bilang pengungsi x yang datang kesini (PNG) itu kartu kelahiran
aja nggak punya, KTP juga nggak punya, paspor gak punya mereka datang hanya
lewat hutan tapi ya.......," ujarnya seraya mengangkat bahu.
Aneh memang kedengarannya karena seperti diketahui bahwa pemerintah PNG
sangat mendukung integritas NKRI, namun pada saat tertentu (kampanye) justru
berteriak mendukung separatis Papua. Untuk itu, KBRI di Port Moresby sudah
mengirimkan surat komplain agar isu Papua Merdeka tidak dijadikan topik
kampanye.
"Tapi masalahnya, mereka bilang hak kebebasan disini susah untuk ditahan.
Makanya saya pikir perlu ada upaya kita yang lebih keras lagi. Saya akan
sampaikan ini pelan - pelan dengan pemerintahan sini (PNG) untuk mengurangi
atau membatasi kegiatan kampanye dengan mengangkat isu itu," katanya.
Namun, kata Pratito hal tersebut hanya dipakai pada saat kampanye usai
kampanye, hilang begitu saja. "Jadi itu yang dipakai. Tapi nanti kalau sudah
selesai hilang begitu saja seperti melempar garam di laut," ujarnya. Tetapi
lagi - lagi ia menegaskan bahwa
sesungguhnya pemerintah PNG sangat mendukung kedaulatan NKRI. "Jadi kurang
lebih beberapa tahun belakangan ini hubungan RI - PNG itu sudah tidak bisa
disangsikan lagi baik dalam tindakan maupun dalam program mereka termasuk
policy luar negeri mereka," katanya.
PNG sudah menunjukkan bagaimana dukungan PNG terhadap kedaulatan Indonesia
yang juga ditunjukan melalui tindakan nyata, seperti bagaimana dengan serius
menyelesaikan setiap pesoalan yang ada. Contoh, pada kejadian penembakan itu,
PNG langsung bereaksi cepat dan langsung mengcounter bahwa tidak pernah
inteleijen PNG memberikan informasi bahwa para nelayan itu adalah agen atau
TNI (Spy) di perbatasan.
Hanya saja, satu hal yang harus terus diwaspadai adalah hubungan orang Papua
(RI) dengan kelompok tertentu dari negara luar. Salah satunya Australia.
Sebab yang diketahuinya hal itu sering terjadi. Bahkan beberapa hari lalu
diketahui ada beberapa orang Papua menuju Australia menemui sejumlah partai -
partai tertentu di negara tetangga itu. "Itulah yang saya bilang yang sampai
saat ini masih terus gonjang-ganjing dengan statemen dari partainya mengenai
isu imigrasi dan sebagainya, tapi apa yang dibicarakan oleh mereka di
Asutralia saya nggak tahu," ujarnya.
Dan itu berarti, Pratito mengakui ada aktivis Papua merdeka di PNG. Hanya
saja ia tidak menyebutkan apa saja dan bagaimana bentuk aktivitas itu.
Pihaknya tidak pernah melihat para separatis itu bersatu, sebab mereka jalan
sendiri-sendiri ada yang dari marga Rumkorem, Mathias Wenda, atau Tabuni dan
lain-lain. Mereka - mereka itu sangat menginginkan Papua merdeka dan sering
menyeberang ke PNG. Namun, Pratito mengatakan bahwa sesungguhnya dari seluruh
warga Papua yang ada di PNG banyak juga yang tidak menginginkan merdeka.
"Mereka sebenarnya orang baik, hanya saja kalau kita tanya soal merdeka,
mereka juga bingung, merdeka yang mana ini, pokoknya merdeka atau lepas dari
NKRI, merdeka Independent, karena di Indonesia mereka merasa tidak bebas dan
segala macam. Itu yang harus kita luruskan," tuturnya. Meski begitu,
sebenarnya banyak juga yang tidak mendukung Papua Merdeka.
Terkait dengan separatis Papua Merdeka ini, kata Pratito mereka sering
mengangkat isu genocida. Sebab mereka itu mengaku ada yang keluarga atau
saudara dan anak mereka yang dibunuh atau disakiti. Dan itu berbekas dalam
hati mereka. "Itu yang harus kita obati dengan memberikan mereka suatu
kepercayaan atau trash building. Itu yang paling penting bagaimana membangun
kepercayaan," katanya.
Dengan membangun kepercayaan itu, nantinya ada saling percaya antara
pemerintah Indonesai maupun para separatis itu. "Saya yakin itu, asal betul-
betul didukung bahwa trash building itu untuk NKRI dan mereka juga tidak akan
diganggu dan disudutkan atau segala macam," paparnya.
Lebih jauh, terkait peranan Australia yang seolah-olah mendukung separatis
Papua Merdeka, Pratito tidak mengelak. "Dukungan itu ada, saya tahu banget"
tukasnya. Hanya saja kalau dilihat dari sejarahnya, pemerintah Australia
sebenarnya sangat mendukung integritas NKRI. Tetapi system pemerintahan
Australia sendiri itu yang membuat pemerintahnya tidak bisa berkutik ketika
ada suara-suara sumbang dari LSM atau NGO di negara itu yang mendukung
separatis Papua merdeka dan parahnya pemerintah Australia tidak bisa
menghentikan itu. Misalnya saja system undang-undang (UU), kebebasan
berbicara dan aturan lainnya membuat pemerintah Australia tidak bisa
menunjukan bahwa sebenarnya mereka mendukung integritas NKRI.
"Australia mendukung integritas NKRI, Pak John Howard itu mengakui bahwa
Papua adalah bagian integral dari NKRI tetapi dia tidak bisa meyakinkan hal
itu kepada parlemen atau dimana tentang hal itu karena selalu gugur dengan
opini publik dimana sebagian besar di Australia mendukung berdirinya
separatis. Nah itu yang saya bilang demokrasi tapi agak sedikit kebablasan,"
terangnya.
LSM - LSM dari dari negara tetangga itu selalu membawa sesuatu untuk warga
Papua di nine mile atau tempat lainnya. Walaupun sedikit tetapi sangat
berarti untuk mereka, sementara pemerintah Indonesia datang saja tidak.
"Makanya KBRI sekarang terus membuat suatu pendekatan yang lebih persuasive
dan bermartabat dan mencoba mendengar keluh kesah meraka untuk dibicarkan
bersama dan kita tetap pada garis bahwa NKRI itu adalah harga mati," katanya.
Kedepan, KBRI sudah membuat program untuk studi pendataan warga Papua di PNG
untuk bagaimana caranya menempatkan warga Papua di Indonesia dengan lebih
baik. "Janganlah mereka menjadi korban hanya karena suatu mimpi yang tidak
jelas. Kami ingin mereka mimpi dalam suatu bangsa indonesia dengan hidup yang
bermartabat dari pada seperti skerang ini hanya mimpi namun mereka tidak tahu
untuk mewujudkannya," ujarnya.
Pratito menghimbau agar pihak-pihak tertentu yang menginginkan Papua merdeka
bersikap realistis dan tidak terus menjerumuskan saudaranya hanya untuk
kepentingannya sendiri yang tidak jelas itu. "Saya menghimbau untuk cobalah
realistis, jangan menjerumuskan orang lain yang tidak mengerti hanya untuk
kepentingan mereka sendiri, kasian orang-orang yang terdampar disini, beli
baju susah, makan aja susah, tidur beralaskan tanah, apa itu yang kita butuh.
Kok mereka rela mengorbankan keluarganya," tuturnya miris.
Pratito mengajak agar kembali ke Papua (Indonesia), dimana mereka bisa
menyekolahkan anak-anaknya, bisa hidup lebih baik dan punya tanah sendiri.
Dengan dana Otsus yang begitu besar, orang Papua menjadi kuat, orang Papua
akan menjadi orang terkaya di Indonesia. "Saya sangat mengharapkan agar
mereka lebih bisa atau paling tidak memahami dulu, tidak ada gunanya lagi
untuk berpikir merdeka. Jangan rugikan diri sendiri hanya karena egoisme.
Tanggung jawab-nya mana mereka itu. Ayo kita duduk bicara selesaikan ini,
simpan itu kebencian di tempat lain lalu kita bicara, bangun itu
kepercayaan," ajaknya.
Pratito menandaskan bahwa KBRI sebagai wakil RI di negara itu, terus berupaya
meyakinkan warga Papua di PNG dengan berbagai cara sehingga warga Papua yang
hidup susah disana dan mereka yang berpikir separatis bisa menyadari bahwa
alangkah bagusnya hidup bebas ditanah sendiri dengan saling percaya dan
saling menghormati. "Dengan Otsus apalagi yang mereka cari, Otsus telah
memberikan perlindungan untuk mereka agar kedepan membangun dirinya menjadi
manusia yang sejahtera dalam segala hal," pungkasnya.***
---
http://www.suaramerdeka.com/harian/0609/22/kot07.htm
Jumat, 22 September 2006 SEMARANG
Line
Dokter asal Papua Berbagi Gembira (1)
Rp 50 Juta untuk Dampingi Wisuda
Mendampingi anggota keluarga saat diwisuda merupakan salah satu cara berbagi
kebahagiaan. Seperti yang dilakukan keluarga dokter Maria Warwe, yang baru
meraih gelar dokter spesialis anak (SpA) di Undip. Mereka secara berombongan
datang dari Papua untuk berbagi gembira. Berikut laporan mengenai kisah unik
tersebut.
KAMIS, 21 September 2006. Suka cita menjadi milik dokter Maria Christina Mine
Warwe. Setelah lima setengah tahun ngangsu kawruh di Program Pendidikan
Dokter Spesialis 1 FK Undip, wanita mungil asal Papua itu akhirnya berhak
menyandang titel dokter Spesialis Anak (SpA), yang telah lama diidamkannya.
Bersama ribuan lulusan lain, Maria diwisuda oleh Rektor Prof Eko Budihardjo
di Gedung Prof Sudharto, Kampus Tembalang, Semarang.
Kebahagiaan putri pasangan Jan Fredrik Warwe dan Agustina Mori Muzendi itu
terasa semakin berlipat dengan kehadiran anggota keluarga besarnya dari
Jayapura. Mereka sengaja datang ke Semarang, ribuan kilometer jaraknya dari
kampung halaman untuk mendampingi dia dalam upacara wisuda.
Tak tanggung-tanggung, jumlah mereka berkisar 20 orang, tua-muda, besar dan
kecil. Tak urung banyaknya jumlah pengantar itu menarik perhatian keluarga
wisudawan lain. Karena kesibukan yang berbeda-beda, keberangkatan mereka ke
Kota Lumpia terbagi atas tiga kelompok terbang (kloter). Kelompok pertama
berangkat pada 14 September, sedangkan dua kelompok lain masing-masing empat
dan lima hari berikutnya.
Rombongan pendamping itu transit terlebih dahulu di Jakarta, karena tak ada
rute penerbangan yang melayani Jayapura-Semarang. Sebagian dari mereka
memilih melanjutkan perjalanan dari ibu kota dengan kereta api. Meski waktu
tempuh lebih lama, kereta menjadi pilihan, karena di Papua tak ada
transportasi jenis itu. Istilahnya sambil menyelam minum air.
''Menuhin'' Semarang
Maria sendiri adalah anak kedua dari empat bersaudara yang semuanya
perempuan. Kakak dan dua adiknya turut hadir di acara wisuda untuk berbagi
kebahagiaan. Kedua orang tua wanita lajang kelahiran 8 Februari 1967 itu
telah tiada. Ayahnya meninggal saat dia masih kuliah untuk mengambil gelar
dokter pada 1992. Dua tahun lalu, ibunya menyusul berpulang ke Sang Pencipta.
"Dahulu, yang menghadiri wisuda dokter hanya lima orang, yaitu mendiang ibu
dan saudara-saudara saya. Kini jumlahnya banyak ya, menuh-menuhin Semarang
aja," guraunya sambil tertawa.
Gelar dokter yang disandang Maria juga berasal dari FK Undip. Dia lolos ujian
masuk Sipenmaru tahun 1986 dan lulus pada 1995. Sepuluh bulan setelah
menjalani dokter PTT, alumni SMA Gabungan Kristen-Katolik Jayapura tersebut
diangkat menjadi Kepala Puskesmas Amban, Kabupaten Manokwari, Papua (kini
termasuk Provinsi Irian Jaya Barat-Red).
John Mano, kakak iparnya, menyebut kedatangan keluarga dalam jumlah besar itu
sebagai wujud penghargaan atas prestasi besar yang telah diraih Maria.
Menurut pegawai Dispenda Jayapura itu, putra Papua asli yang bertitelkan
dokter saja masih terbilang sedikit. Jadi, lulusnya sang adik dari pendidikan
spesialisasi amat membanggakan keluarga mereka.
Untuk keperluan itu, mereka sengaja menyisihkan waktu dan penghasilan. John
dan anggota keluarga lain yang berprofesi pegawai negeri sipil (PNS)
mengambil cuti. Biaya transportasi dan akomodasi dikumpulkan dari iuran
anggota keluarga yang berangkat. Maria menghitung tak kurang dari Rp 50 juta
yang dipergunakan keluarganya untuk mendampingi wisuda. (Abduh Imanulhaq-18h)
---
http://www.bisnis.com/servlet/page?
_pageid=196&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&p_topik=W08&p_prev=473038
Ekonomi Makro
Jumat, 22/09/2006 15:36WIB
Penerimaan negara dari Freeport dalam lima tahun Rp17,20 triliun
MAKASSAR (Antara): Penerimaan negara dari PT. Freeport Indonesia (PTFI),
perusahaan tambang raksasa asal Amerika Serikat yang beroperasi di Mimika,
Papua, dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2001 - 2005) mencapai Rp17,20
triliun lebih.
Dari jumlah tersebut, akumulasi penerimaan untuk pajak penghasilan dan
royalti selama periode yang sama masing-masing mencapai Rp13,48 triliun dan
Rp1,97 triliun.
Tahun 2005 lalu saja, kontribusi fiskal PTFI yang mulai beroperasi 30
Desember 1991 berdasarkan Kontrak Karya (KK) dengan pemerintah Indonesia itu,
terhadap APBN sebesar Rp8,26 triliun atau setara dengan 1,62% dari total APBN
periode itu.
Keterangan tertulis dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM - FEUNI) yang dikutip ANTARA Jumat,
menyebutkan, dana yang disetorkan ke APBN 2005 tersebut bersumber dari
pembayaran pajak sebesar Rp6,31 triliun (76,4 persen), royalti Rp773 miliar
(9,4%) dan pembayaran lainnya Rp1,17 triliun atau 14,2%.
Sedangkan jumlah penerimaan daerah di Papua baik APBD provinsi Papua, APBD
kabupaten Mimika dan kabupaten/kota lainnya di provinsi paling timur
Indonesia itu adalah sebesar Rp835,24 miliar.
Dari jumlah itu, provinsi Papua mendapat Rp208,57 miliar (24,97%) dan
kabupaten Mimika memperoleh Rp329,10 miliar atau lebih banyak dari APBD
Papua, sisanya sekitar Rp300 miliar akan didistribusikan ke kabupaten/kota
lainnya di provinsi itu.
Deputy Presiden Direktur PTFI, Rusdian Lubis pada seminar pertambangan di
Makassar, Kamis mengatakan, PTFI selama ini memberikan kontribusi yang tidak
kecil dalam meningkatkan penerimaan negara baik pemerintah pusat maupun
daerah melalui kontribusi fiskal , bahkan perusahaan ini berperan besar dalam
memacu aktivitas perekonomian di Mimika, Papua maupun pada tingkat nasional.
Ini terbukti dengan terbukanya kesempatan usaha, lapangan kerja dan
kesempatan memperoleh pendapatan bagi masyarakat sekitar setelah hadirnya
PTFI.
Pada tahun 1995, PTFI telah berkontribusi dalam penciptaan kesempatan kerja
pada semua sektor ekonomi sebanyak 128 ribu orang, tahun 2000 bertambah
menjadi 189 ribu orang dan tahun 2005 lalu perusahaan ini mempekerjakan
kurang lebih 277 ribu orang.
Selain itu, perusahaan pertambangan ini juga telah memberikan perhatian
terhadap pemberdayaan masyarakat di provinsi tersebut dengan menyiapkan dana
sebesar 27 juta Dolar AS melalui program pengembangan masyarakat (community
development) yang berorientasi pada perbaikan kualitas hidup masyarakat di
daerah itu.
Program pemberdayaan masyarakat ini paling banyak menyentuh sektor kesehatan,
pemukiman, pertanian, pendidikan, agama dan pengembangan industri kecil.
"Semua program tersebut didanai PTFI," ungkapnya. (dj)
---
http://www.bisnis.com/servlet/page?
_pageid=196&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&p_topik=W50&p_prev=472924
Sosial
Jumat, 22/09/2006 08:58WIB
Jelang Ramadhan harga beras di Biak naik
BIAK (Antara): Tiga hari menjelang pelaksanaan ibadah puasa 1426 Hijriyah,
harga beras lokal di sejumlah pasar Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua,
mengalami kenaikan berkisar Rp500 hingga Rp1.000 per kilogram.
Menyikapi kenaikan harga beras lokal di pasaran, pihak Kantor Sub Divisi
Regional (Subdivre) Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Kabupaten Biak Numfor
berencana akan melakukan kegiatan operasi pasar beras murah kepada masyarakat
dalam upaya menekan kenaikan harga.
Kepala Sub Divisi Regional Badan Urusan Logistik (Bulog) Kabupaten Biak
Numfor Lubis Husaeni ketika dihubungi di Biak, Kamis, mengatakan, pihaknya
akan melakukan operasi pasar beras murah dalam waktu dekat untuk menjaga
kestabilan harga di pasaran.
"Untuk jadwal pelaksanaan operasi pasar beras murah yang akan dilakukan Bulog
Kabupaten Biak Numfor, kami masih menunggu kepastian koordinasi dengan Kantor
Dinas Perdagangan maupun pihak terkait di daerah ini," katanya.
Lubis menyebutkan, meski harga beras lokal mulai bergerak naik, namun warga
masyarakat di Kabupaten Biak Numfor tak perlu resah dengan persediaan stok
beras karena Kantor Bulog Subdivre Biak, masih memiliki stok mencapai 1.159
Ton.
"Pihaknya menjamin kebutuhan beras untuk menghadapi hari besar keagamaan,
seperti ibadah puasa, hari raya Idul Fitri dan Natal tersedia cukup,"
katanya.
Ia menjelaskan, untuk harga eceran tertinggi (HET) penjualan beras Bulog di
pasaran ditetapkan pemerintah sebesar Rp4.800 per kilogram.
Meski stok beras tersedia, menurut Lubis, pihaknya tetap mengupayakan menjaga
kestabilan harga beras di pasaran apalagi dalam menyambut kegiatan hari besar
keagamaan seperti ibadah puasa, hari raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru
2007 mendatang.
"Menyediakan ketahanan stok beras untuk memenuhi kebutuhan beras di
masyarakat merupakan tugas Bulog yang harus dipertahankan," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Sub Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Biak
Numfor DL Tobing menyebutkan, kenaikan harga bahan pokok termasuk menjelang
hari besar keagamaan, seperti puasa, lebaran maupun Natal biasa mengalami
lonjakan harga dibandingkan hari biasanya. "Mekanisme pasar, dimana
permintaan meningkat, maka harga akan mengalami kenaikan," ungkapnya.
Pantauan ANTARA dari sejumlah pasar maupun pertokoan Toserba, Kamis,
penjualan harga beras lokal merek tawon, jambu atau sejenisnya dijual
bervariasi dengan harga sebesar Rp6.500 hingga Rp7.000 per kilogram. (editor
dj)
---
http://www.suarapembaruan.com/News/2006/09/21/Nusantar/nus07.htm
SUARA PEMBARUAN DAILY
Tuntaskan Kasus Dugaan Korupsi Bupati Nabire
[JAKARTA] Lebih dari seratus pemuda yang tergabung dalam LSM Lingkar Aksi
Berantas Korupsi di Indonesia (Labirin) berunjuk rasa di Gedung Kejaksaan
Agung, di Jakarta, Rabu (20/9) siang.
Mereka mendesak Kejagung menuntaskan kasus dugaan korupsi yang melibatkan
Bupati Nabire, AP Youw.
"Jaksa Agung dalam program seratus harinya berjanji akan menyelesaikan kasus
-kasus yang mengendap. Termasuk kasus korupsi Nabire. Tetapi mengapa kasus
ini masih tidak tertangani di Kejaksaan Tinggi Papua. Makanya kami datang
menagih janji itu," ujar koordinator aksi, Rizky Yulianto kepada wartawan di
Jakarta, Rabu (20/9).
Para pengunjuk rasa sempat membakar ban bekas di depan halaman Kejagung.
Meskipun ada aksi pembakaran ban, namun aksi berjalan damai. Rizky
mengatakan, pihaknya juga akan melakukan aksi serupa di Gedung Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Jumat mendatang.
Dijelaskan, kasus Nabire merupakan penyalahgunaan jabatan oleh Bupati AP
Youw. Yakni dalam proyek pembangunan rumah toko (ruko) di Nabire dari dana
APBD 2002-2003 senilai Rp 2,5 miliar. Proyek itu dilaksanakan tanpa tender,
sehingga dinilai melanggar Keppres Nomor 80 tahun 2003 tentang Pengadaan
Barang dan Jasa di Pemerintahan. Dikatakan, kasus tersebut semula ditangani
Polda Papua dan telah dinyatakan ada perbuatan tindak pidana korupsi. [Y-4]
Last modified: 21/9/06
---
http://www.suarapembaruan.com/News/2006/09/20/Nusantar/nus05.htm
SUARA PEMBARUAN DAILY
Pemerintah Jamin Keamanan WNI di PNG yang Kembali ke Papua
[JAYAPURA] Pemerintah membuka tangan bagi warga negara Indonesia (WNI) asal
Provinsi Papua yang bermukim di Papua Nugini (PNG) untuk kembali dan
membangun diri di Tanah Air. Pemerintah menjamin keamanan mereka yang ingin
kembali. Bahkan memberikan jaminan keamanan dan fasilitas kalau ada yang mau
pulang ke Papua.
Gubernur Papua, Barnabas Suebu mengemukakan hal itu kepada wartawan di VIP
Room, Bandara Sentani Jayapura, Rabu (20/9), pukul 01.00 WIB saat kembali
dari perjalanan ke PNG sejak 16 hingga 19 September 2006.
Bas Suebu dalam konferensi pers itu didampingi Wakil Ketua Dewan Perwakilan
Rakyat Papua (DPRP), Komarudin Watubun dan Ketua Kamar dan Industri (Kadin)
Papua, John P Kabey.
Dalam acara tatap muka dengan warga Papua, yang berlangsung Senin (18/9) di
Joglo Kedutaan Besar RI di Port Moresby, PNG, Suebu, mengajak warga Indonesia
asal Papua yang saat ini tinggal di sana untuk kembali ke Indonesia. "Sebab
saat ini, keadaan di Papua sudah sangat berbeda dengan masa lalu, "ujarnya.
Kepada mereka, Suebu, menjelaskan saat ini Papua tengah menata masa depan
dengan payung hukum Otonomi Khusus (Otsus). Melalui Otsus, Papua memiliki
kewenangan dan kekuasaan yang cukup besar. "Soal keamanan saya mengatakan
kepada mereka, saya akan menjamin keamanan mereka bila kembali ke Papua,"
ujar Suebu.
Mengenai jumlah warga Papua di PNG, Suebu mengaku, sampai sekarang belum ada
data yang pasti. "Kepastian berapa jumlah mereka, belum ada yang tahu hingga
saat ini," ujarnya.
Suebu menambahkan dalam pertemuan itu, ada sejumlah warga Indonesia yang
ingin pulang meminta pemerintah memberikan amnesti bagi keamanan mereka.
"Namun, saya katakan amnesti bagi orang yang melakukan perbuatan kriminal.
Tidak perlu amnesti. Kalau saudara ingin pulang, pemerintah Republik
Indonesia akan menjamin keamanan dan memberikan fasilitas untuk menata masa
depanmu di Papua bagian dari Indonesia Raya," tandas Suebu.
Dalam kunjungan tersebut Gubernur Suebu menghadiri peringatan Kemerdekaan PNG
yang ke 31, pada tanggal 16 September 2006. Selain itu menghadiri pembukaan
Festival Hiri Moale.
Selain itu, Senin (18/9), Suebu menerima gelar kehormatan Companion of the
Order of the Star Of Melanesia. Penganugerahan gelar kehormatan itu dilakukan
di Istana Guvernoor General of Papua New Guinea (PNG) di Port Moresby oleh
Governoor General of PNG Grand Chief Sir Paulias Matane. GCL, GCMG,KStJ.
Paulias Matane adalah pemimpin tertinggi di PNG. Ia merupakan wakil Kerajaan
Inggris di PNG. Selain itu, Suebu juga menerima penghargaan Companion of the
Order of The Star of Melanesia (CSM) karena dedikasi dan perjuangannya dalam
membangun masyarakat Melanesia, khususnya masyarakat Papua di Indonesia.
CSM juga adalah suatu gelar kehormatan tertinggi di PNG setelah Cross of
Valour dan Grand of Logohu.
Pemerintah PNG hanya memberikan gelar CSM kepada mereka yang dinilai telah
memberikan pelayanan luar biasa dan bermutu tinggi dalam semua aspek
kehidupan secara nyata selama 15 tahun. [ROB/W-8]
Last modified: 20/9/06
---
http://www.suarapembaruan.com/News/2006/09/19/Ekonomi/eko07.htm
SUARA PEMBARUAN DAILY
Ribuan Warga Abepura Terima Dana SLT
[JAYAPURA] Sedikitnya 18.000 warga Abepura, Jayapura, Papua menerima dana
kompensasi BBM, Selasa (19/9) pagi di Kantor Pos Cabang Abepura di Abepura,
Jayapura. Pembayaran dana subsidi langsung tunai (SLT) di Kantor Pus Abepura
ini tidak terbatas untuk masyarakat dari Distrik Abepura saja, tetapi juga
melayani warga Kabupaten Keerom asal yang bersangkutan memiliki kartu
kompensasi BBM dan menunjukkan kartu identitas diri.
Hal ini ditegaskan Kepala Kantor Pos Cabang Abepura, Raymond Manuputty,
menjawab Pembaruan di ruang kerjanya, di Kantor Pos Abepura, Selasa (19/9).
Menurutnya, Kantor Pos Abepura tidak mengalami kesulitan berarti melayani
pembayaran tersebut karena pihaknya telah menyiapkan sedikitnya 15 orang
petugas ditambah lima orang siswa SMK 2 Kotaraja yang sedang magang di Kantor
Pos Cabang Abepura. Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan itu, pihaknya juga
membuka dua loket pelayanan sehingga mengurangi antrian warga.
Terkait jumlah dana yang akan dibayarkan, Raymond Manuputty enggan
menyebutkan nilainya. Hal ini disebabkan pihaknya belum tahu berapa banyak
warga yang datang. "Stok dana selalu tersedia, dan setiap detik siap
ditransfer ke Kantor Pos Abepura", ujar Manuputty.
Sementara itu, pantauan Pembaruan di Kantor Pos Abepura, warga telah berjubel
di dua loket yang tersedia untuk melakukan transaksi tersebut. mereka tetap
antri walaupun diguyur hujan gerimis.
"Tak apalah basah sedikit yang penting dapat uangnya," ujar Maria, salah
seorang penerima SLT. Di antara antrian tersebut terlihat beberapa penerima
dana kompensasi BBM yang memiliki telepon selular dan datang dengan
mengendarai sepeda motor pribadi. [Gab/N-3]
Last modified: 19/9/06
---
More information about the Kabar-Irian
mailing list