[Kabar-Irian] Berita: s/d Oktober 19 2007

Admin-Editors Kabar-Irian editors at kabar-irian.info
Thu Oct 18 18:26:39 MDT 2007


Kabar Irian (Papua)

S/d Oktober 19 2007

Topik2

*

---

http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=6017&ses=

06 Oktober 2007 04:03:31



Ternyata Dibunuh, Senjata Dirampas

Polisi yang Hilang di Mulia, Ditemukan Sudah Tak Bernyawa


JAYAPURA-Setelah hilang kurang lebih selama 25 jam (Sejak Kamis Pukul
12.00WIT) akibat dihadang

(disekap) oleh kelompok orang bersenjata tak dikenal di kawasan Kampung
Yambi, Mulia, Kabupaten

Puncak Jaya, Papua, akhirnya Bripda Edward Inarkombu ditemukan tak
bernyawa (tewas).


Anggota Samapta Polres Persiapan Puncak Jaya (Maaf Bukan Anggota Brimob
Sebagaimana

Diberitakan Sebelumnya) ini, ditemukan oleh masyarakat Kampung Yambi,
Jumat (5/10) sekitar pukul

13.00 WIT, tepatnya di Sungai Yambi yang jaraknya sekitar 3,5 Km dari
lokasi kejadian (Antara

Kampung Yambi-Mulia).
Saat ditemukan, korban mengalami luka yang cukup serius di bagian
tubuhnya, antara lain luka sabetan

parang di tangan sebelah kiri hingga mengakibatkan tulangnya patah, luka
robek di bagian mulut ke atas

dan ke samping, luka sabetan parang di bawah telinga kanan.


Kapolda Papua, Irjen Pol. Drs. Max Donald Aer saat dikonfirmasi
Cenderawasih Pos, membenarkan

adanya penemuan jenazah anggota Polres Persiapan Puncak Jaya itu.


Menurut Kapolda, korban ditemukan oleh masyarakat setempat. Setelah
menemukan mayat polisi itu,

warga melaporkan ke Polres. Mendengar laporan dari warga tersebut, jajaran
Polres Persiapan Puncak

Jaya langsung menuju ke tempat ditemukannya jenazah itu dan selanjutnya
mengevakuasi ke RSUD

Mulia, Puncak Jaya.


Setelah dievakuasi ke RSUD Mulia, selanjutnya dilakukan pemeriksaan lalu
disemayamkan di Rumas

Sakit Umum Daerah Mulia. "Sesuai rencana, besok pagi (pagi ini,red),
jenazah korban akan dibawa ke

kampungnya di Biak," jelas Kapolda.


Disinggung tentang senjata yang dibawa korban yakni Senjata Api (Senpi)
jenis AK-47, Kapolda

menyatakan, hingga tadi malam, Senpi tersebut belum ditemukan. "Anggota
yang di lapangan masih

terus melakukan pencarian untuk mengusut keberadaan Senpi yang diduga
dirampas oleh kelompok

penyerang itu," tegasnya.


Dalam kesempatan berbeda, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas)
Polda Papua,

Kombes Pol. Agus Rianto menambhakan, dari hasil penyisiran di tempat
kejadian, aparat Polres

Persiapan Puncak Jaya juga berhasil menemukan beberapa selonsong peluru
yang kemungkinan

digunakan untuk saling tembak.


Terkait kasus ini, Polda Papua juga telah mengirimkan Tim Gegana Brimob
yang dipimpin oleh Karo

Ops Polda Papua, Kombes Pol. Drs. GM. Sumeka. "Tim ini datang ke sana
dengan maksud untuk

melihat situasi secara riil yang terjadi di Puncak Jaya itu," katanya.


Tentang kronologi penyerangan itu, Kabidhumas kembali menjelaskan, pada
Kamis (4/10) sekitar pukul

11.00 WIT itu, anggota Samapta Polres Puncak Jaya yang bernama Bripda
Edward dan seorang

Mekanik PT. Modern Widya Tecnical (MWT) bernama Yulianus hendak pergi dari
Kamp PT. MWT yang

berada di Kampung Yambi menuju ke Mulia dengan menggunakan dua motor ojek,
masing-masing

dikendarai oleh Bambang dan Syukur.


"Mereka ke Mulia dengan maksud untuk mengambil spare part Dozer yang
digunakan untuk

membangun jalan raya Mulia-Wamena itu," jelasnya.
Namun saat mereka di perjalanan, tepatnya di dekat jembatan yang berada
ditanjakan, mereka tiba-tiba

disergap oleh sekelompok orang tak dikenal bersenjata.


"Saat dilakukan penyergapan oleh kelompok tak dikenal itu, Yulianus sempat
hendak membela anggota

Polres itu dengan cara mengambil batu, namun Yulianus kemudian mendapat
tembakan, sehingga ia

menjatuhkan diri ke semak-semak yang berada di pinggir jalan hingga
akhirnya berhasil menyelamatkan

diri," sambungnya.


Sementara dua orang tukang ojek itu, juga langsung turun lari meninggalkan
sepeda motornya dan

berhasil lari hingga ke kampung. "Setelah lari hingga ke kampung, dua
tukang ojek itu bertemu dengan

tiga orang anggota masyarakat dan kemudian mereka menuju Polres Puncak
Jaya untuk melaporkan

kejadian tersebut," terangnya.


Setelah mendapat laporan itu, satu regu Brimob bersama regu Samapta dan
personel lainnya, langsung

turun ke TKP untuk mencari keberadaan anggota yang disergap itu. "Namun
sesampainya di TKP,

korban tidak ada, yang ada hanya sepeda motor ojek dan ceceran darah,"
pungkasnya.


***
Kasus tewasnya Bripda Edward Inarkombu akibat disekap lalu dibunuh oleh
kelompok bersenjata di

Mulia, Puncak Jaya tak luput dari perhatian Pangdam XVII/Cenderawasih,
Mayjen TNI, Zamroni, SE.


Menurut Pangdam, terkait dengan kasus tersebut, jika memang polisi meminta
bantuan untuk mencari

dan mengejar gerombolan bersenjata tersebut, maka pihaknya siap membantu
pihak polri.


"Jika aksi tersebut benar dilakukan oleh kelompok separatis, kami siap
untuk membatu polisi,''kata

Pangdam di sela-sela acara pergantian nama Kodam XVII/Trikora menjadi
Kodam XVII/Cenderawasih

di Makodam Polimak, kemarin.


Namun demikian, Pangdam segera menambahkan, bahwa untuk sementara ini
pihak Kodam tetap

berhati-hati dalam menentukan sikap. ''Untuk sementara kami menyerahkan
proses penyelidikan kasus

ini kepada aparat kepolisian, sebab yang membunuh korban belum tentu dari
separatis, bisa juga

tindakan kriminal,"lanjut jenderal bintang dua ini.


Disinggung tentang peristiwanya, Pangdam mengatakan bahwa aksi tersebut
belum terlalu

mengkawatirkan terhadap situasi keamanan di Puncak Jaya, sehingga tidak
berencana untuk

mendroping pasukan ke daerah tersebut.
"Saya pikir kejadian pembunuhan yang terjadi di Mulia, tidak terlaku
mengkawatirkan. Hal tersebut

sudah sering terjadi, sehingga tidak ada rencana dari TNI untuk melakukan
operasi militer di

Mulia,"tandasnya.


Namun demikian dengan kejadian tersebut, dirinya juga sudah melakukan
himbauan kepada prajuritnya

(TNI) untuk selalu waspada dalam menjalangkan tugas, sehingga kedepan
tidak terjadi hal-hal yang tidak

diingingkan.(fud/cak

---

Gempa Skala 5,1 Richter Guncang Jayapura
Sabtu, 13 Oktober 2007 | 22:04 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Gempa berskala 5,1 Skala Richter mengguncang
kota Jayapura, Papua.

Menurut informasi situs Badan Meteorologi dan Geofisika, gempa terjadi
malam ini (13/10), pukul

20:16:01 WIB.

Lokasi gempa 2.69 Lintang Selatan dan 140.59 Bujur Timur dengan kedalaman
10 kilometer. Gempa ini

terasa hingga 22 kilometer Barat Daya Jayapura-Papua.

Gempa berskala 5,3 Skala Richter juga melanda 150 kilometer Barat Daya
Painan-Sumatera barat.

Gempa terjadi pukul 21:01:50 WIB. Pusat gempa yaitu 1.89 Lintang Selatan -
99.33 Bujur Timur,

dengan kedalaman 10 kilometer.

+++++

Menteri Kesehatan Kirim Tim Khusus ke Jayawijaya
Minggu, 14 Oktober 2007 | 19:40 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari
menyatakan usai lebaran akan

mengirim tim khusus ke Wamena dan Puncak Jayawijaya, Papua. Tim ditugasi
untuk mendata dan

meninjau langsung kondisi kesehatan masyarakat di wilayah itu tanpa
melibatkan kepala dinas

kesehatan setempat.

"Tim harus meninjau langsung rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat dan
fasilitas pelayanan

kesehatan lainnya, serta tenaga kesehatan dan kondisi kesehatan warga
dengan bertanya langsung

kepada mereka," kata Siti saat menerima Kepala Suku Besar Lembah Baliem
Kecamatan Wamena,

Abdur Rahman Kossay di rumah dinasnya, Ahad siang.

Rencananya, hasil temuan tim khusus akan menjadi dasar pelaksanaan program
itu. Pemerintah pusat

akan mengirim tenaga pengajar, peralatan, dan obat-obatan untuk menunjang
pelatihan itu.

Kepada Siti, Kossay mengungkapkan, pelayanan kesehatan masyarakat Wamena
lebih baik setelah

pemerintah memperbaiki rumah sakit umum daerah di sana. "Ada satu rumah
sakit daerah di sana.

Sehingga masyarakat bisa mendapat pelayanan kesehatan," ujarnya.

Beberapa tahun sebelumnya, Siti menimpali, rumah sakit di Wamena sempat
ditutup. Akibatnya,

masyarakat yang tinggal di wilayah itu dan sekitar Puncak Jayawijaya tidak
mendapat pelayanan

kesehatan. Perjalanan dari puncak Jaya ke Wamena sekitar 1,5 jam dengan
pesawat. "Orang sakit

yang dibawa dari puncak Jaya banyak yang meninggal karena tidak mendapat
pengobatan," ujarnya.

Menurut Siti, ketertinggalan dan kondisi geografis Papua membutuhkan
penanganan khusus. Tanpa

tinjauan lapangan, pemerintah tidak tahu persis kebutuhan masyarakat.

Selain mengirim tim khusus, Departemen Kesehatan juga akan mengadakan
pelatihan pelayanan

kesehatan untuk anak lulusan SMP di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Tujuannya
memandirikan

masyarakat Jayawijaya dalam mengatasi persoalan kesehatan. "Nanti
anak-anak lulusan SMP, laki-laki

dan perempuan, akan diberi pelatihan," kata Siti. KURNIASIH BUDI | AQIDA
SWAMURTI

---

http://www.gatra.com/artikel.php?id=108603

Lebaran Muhammadiyah
Ratusan Warga Shalat Ied di Timika


Timika, 12 Oktober 2007 14:02
Ratusan warga Muhammadiyah di Kabupaten Mimika, Papua, Jum`at (12/10),
pukul 07.00 WIT

melaksanakan shalat Idul Fitri 1428 Hijriah bertempat di Lapangan Djayanti
Sempan, Timika.

Bertindak selaku imam sekaligus khotib yaitu Ustadz H Tata Taofiqurrahman
yang merupakan Sekretaris

Umum Pengurus Daerah Muhammadiyah Kabupaten Mimika dan Wakil Ketua
Pengadilan Agama

Timika.

Ibadah shalat Ied berlangsung aman dan tertib di bawah pengawasan puluhan
aparat gabungan dari

Polres Mimika, Satuan Polisi Pamong Praja dan Sub Dinas Perhubungan Darat
Dinas Perhubungan

Kabupaten Mimika.

Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Kabupaten Mimika, Dahlan Penggeng,
menjelaskan shalat di

lapangan terbuka bagi warga Muhammadiyah di Mimika baru pertama kali
dilaksanakan tahun ini kendati

organisasi itu sudah terbentuk resmi di Mimika sejak tahun 2005.

Para jemaah yang hadir berasal dari kota Timika dan sejumlah Satuan
Pemukiman (SP) transmigran di

sekitar kota Timika. Sementara warga Muhammadiyah yang berada di areal
kerja PT Freeport Indonesia

(PTFI) seperti di Tembagapura, Kuala Kencana, Pelabuhan Amamapare
(Portsite) baru akan menggelar

shalat Ied pada Sabtu pagi bersama dengan umat muslim yang lain.

Sementara itu Ustadz Taofiqurrohman dalam kotbahnya meminta warga
Muhammadiyah merayakan Idul

Fitri dengan dua cara yakni mewujudkan hubungan dengan Sang Khalik (Hablun
Minallah) dengan

berkumandang Asmah Allah melalui takbir, tahmid, dan tahlil.

Selain itu, katanya, meningkatkan hubungan kasih sayang antar sesama
mahkluk (Hablun Minannas)

melalui pemberian zakat fitrah bagi kaum lemah, fakirmiskin dan
orang-orang yang melarat.

Taofiqurrahman juga menegaskan perbedaan pemahaman tentang pelaksanaan
shalat Ied di antara

pemeluk Islam merupakan sesuatu yang wajar sehingga tidak perlu
diperdebatkan.

Dalam kesempatan itu Ustadz Taofiqurrahman mengimbau umat muslim di Mimika
agar dapat menjaga

persatuan dan kesatuan dalam menyukseskan ajang pemilihan kepala daerah
(pilkada) secara langsung

di daerah ini pada 26 Maret 2008.

"Jangan karena pilkada diantara kita saling bermusuhan atau
gontok-gontokan. pilkada hanyalah sarana

untuk mencari pemimpin di kabupaten ini," ujar Taofiqurrahman seraya
mengajak warga Muhammadyah

di Mimika untuk bersama-sama dengan komponen masyarakat yang lain
membangun daerah dari

keterpurukan ekonomi dan sosial.

"Kita harus merasa ikut bertanggung jawab dalam menentukan kemajuan
kabupaten ini dengan memilih

pemimpin yang mempunyai visi dan misi yang jelas untuk perbaikan ekonomi
di masa mendatang dan

membawa kemaslahatan bagi semua orang," katanya.

Shalat Ied warga Muhammadiyah di Mimika diakhiri dengan acara
salam-salaman di antara jemaah

yang hadir. [TMA

---

http://www.gatra.com/artikel.php?id=108671


Obituari
Bapak Pembangunan Jayawijaya Wafat

Jayawijaya, 15 Oktober 2007 12:56
Kolonel TNI-AD (Purn) Albert Dien yang merupakan mantan bupati Jayawijaya,
Papua, yang dikenal

sebagai "Bapak Pembangunan Jayawijaya", Minggu (14/10), menghembuskan
nafas terakhirnya di

Rumah Sakit Dian Harapan Jayapura, dalam usia 78 tahun setelah berjuang
melawan `sakit tuanya`.

Hingga Senin siang (15/10), jenasah "Bapak Pembangunan Jayawijaya" itu
disemayamkan di rumah

duka di Jl Silo Sentani, Jayapura.

Albert adalah putra kelahiran Sulawesi Utara. Dia mulai menginjakkan
kakinya di bumi Cenderawasih

pada 1963 dan telah mendarmabaktikan hidupnya bagi masyarakat Papua
khususnya di Jayawijaya.

Pada tahun 1978, Albert dipercaya masyarakat setempat sebagai bupati
Jayawijaya hingga 1989.

Mantan bupati Jayawijaya dua periode itu, sejak dipilih, telah banyak
berbuat bagi kemajuan daerah

Jayawijaya, saat masih meliputi daerah Tolikara, Puncak Jaya, dan
Yahukimo. Tiga daerah itu kini

sudah lepas dari Jayawijaya.

Melihat keberhasilan pembangunan yang telah dilakukannya bagi kemajuan
Papua, oleh masyarakat

Jayawijaya, Albert diberikan penghargaan sebagai "Bapak Pembangunan
Jayawijaya".

Semasa memimpin Jayawijaya, Albert telah berhasil membuka keterisolasian
Jayawijaya, wilayah

pegunungan tengah Papua menuju kemajuan yang lebih baik.

Almarum meninggalkan tujuh anak dengan 13 cucu.

Salah seorang putranya, Iriando Dien mengatakan, "Kami merelakan kepergian
bapak dengan penuh

ucapan syukur pada Tuhan. Semasa hidupnya, bapak minta jika dia meninggal
dunia, dimakamkan di

tanah Papua sehingga pemakaman hari ini dilakukan di pekuburan umum
Kristen Sentani".

Upacara pemakanan Albert Dien dilakukan melalui sebuah upacara militer
yang dipimpin Komandan

Korem 172/Praja Wira, Kolonel Kav Burhanuddin Siagian, Senin (15/10), pada
Pkl.15.00 WIT. [EL, Ant]

---

http://www.gatra.com/artikel.php?id=108681


Oknum Polisi Tembak Tiga Warga Desa di Papua


Jayapura, 16 Oktober 2007 08:56
Kapolda Papua Irjen Pol. Drs Max D. Aer, di Jayapura, Senin petang
menegaskan, pihaknya segera

melakukan pemeriksaan terhadap oknum anggota polisi yakni Brigadir
Zainuddin dan Brigadir Jufri

yang menembak tiga penduduk Desa Brumeso, Distrik Kasenaweja, Kabupaten
Sarmi, Minggu (14/10),

sekitar pukul 12.00 WIT di desa tersebut.

Menurut Max, sesuai laporan yang diterima dari Kapolres Sarmi, penembakan
terhadap tiga warga Desa

Brumeso masing-masing Lukas Boneba, Kornele Ilo, dan Yohanes itu,
dilakukan anak buahnya karena

warga masyarakat itu menghadang mobil truk yang melewati Desa Brumeso,
Minggu siang (14/10),

dengan menggunakan golok (parang) dan panah.

Keterangan dari Kapolres Sarmi itu, lanjut Max, merupakan informasi awal
dan pihaknya akan

melakukan pemeriksaan terhadap oknum polisi yang menembak warga sipil itu.
Jika ternyata

penembakan tersebut tidak sesuai prosedur yang berlaku, maka oknum anggota
polisi tersebut akan

ditindak tegas.

Dalam kasus penembakan itu Lukas menderita luka di dada, Korneles
mengalami luka di dada sebelah

kanan, dan Yohanes tertembak di bagian lutut. Ketiga korban ini adalah
karyawan perusahaan kayu PT

Mamberamo Alas Mandiri.

Ketiga korban tersebut dievakuasi ke ibukota Kabupaten Sarmi menggunakan
angkutan laut dan sungai

dan selanjutnya dibawa dengan helikopter ke Jayapura dan saat ini sedang
dirawat secara intensif di

RSUD Dok II Jayapura.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sarmi, Robby Rumansara secara
terpisah mengatakan,

kasus penembakan itu terjadi karena kesalahpahaman antara warga Desa
Brumeso dengan pengemudi

truk dengan dan polisi yang bertugas di daerah itu.

Antara melaporkan, Lukas mengaku, saat mereka pulang kerja dan melihat
sebuah truk sedang lewat,

mereka menghentikan kendaraan tersebut, tetapi karena mereka memegang
parang dan panah

sehingga sopir truk itu takut dan langsung melapor ke pos polisi.

Setelah mendapat laporan itu, polisi segera meluncur ke TKP dan karena
merasa terancam maka polisi

mengeluarkan tembakan dan mengenai tiga warga tersebut. [EL, Ant]


---

http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=6291&ses=

      16 Oktober 2007 05:13:46



      Kesamaan Gender Harus Digalakkan





      JAYAPURA-Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Yahukimo, Ny. Yuliana Pahabol
menegaskan, sudah

saatnya kaum perempuan tidak hidup di bawa bayang-bayang tekanan kaum
laki-laki. Kesetaraan

gender perlu menjadi perhatian semua pihak di Kabupaten Yahukimo, sehingga
kaum perempuan juga

bisa berkarya lebih maju lagi dalam berbagai kehidupannya.


      "Sesuai dengan paradigma baru, kaum perempuan dan laki-laki sama
saja. Kaum perempuan yang

selama ini dilihat terbelakang dari kaum laki-laki harus dirubah, baik
perempuan maupun laki-laki harus

berpacu untuk bersaing dalam berbagai aktivitas ataupun jabatan," kata
Bupati Ones Pahabol, SE, MM

menirukan pengarahan Ketua TP PKK usai melantik pengurus tingkat Distrik
Huluon, Distrik Hilipuk dan

pengurus PKK tingkat kampung di kedua distrik tersebut.


      Dalam kesempatan itu, kata Bupati, setiap kader-kader PKK diharapkan
menjadi motivator bagi

setiap masyarakat yang ada di kampung-kampung dalam upaya peningkatan
kesejahteraan keluarga

melalui berbagai aktivitasnya. Baik dari segi memelihara kesehatan, cara
hidup yang sehat, bercocok

tanam, ataupun upaya lain dalam menambah pendapatan keluarga.


      Dikatakan, upaya-upaya pembinaan terhadap kader ataupun anggota PKK
hingga kekampung-

kampung akan terus dilakukan. Dengan harapan, setiap ibu-ibu yang ada
dalam suatu rumah tangga

dapat produktif dalam meningkatkan pendapatan keluarga atau menjaga guzi
bagi anggota keluarganya

itu.


      Juga ditambahkan bahwa menjelang Hari Raya Natal, PKK juga akan
memberikan bantuan beras ke

masing-masing distrik dan kampung. "Pemberian bantuan beras kepada setiap
masyarakat yang berada

di kampung-kampung menjelang Natal merupakan program langsung dari PKK.
Beras ini minimal

mereka persiapkan untuk makanan saat perayaan Natal nantinya," katanya.(ito)

---

http://www.gatra.com/artikel.php?id=108803

Bentrok Mimika
Perang Antar Suku Masih Berlanjut

Jayapura, 18 Oktober 2007 09:48
Sejumlah aparat Polres Mimika dibantu prajurit TNI dari Kodim 1710 Mimika,
Papua, hingga Kamis pagi

(18/10), belum berhasil menghentikan perang antara suku Amungme melawan
suku Dani dan Damal,

karena setiap kubu yang bertikai bersikukuh melanjutkan perang tersebut.

Perang antara suku ini kian memanas, ketika pihak suku Damal dan Dani
belum ingin berdamai,

sebelum jumlah korban yang meninggal dunia diketahui seimbang.

Kapolres Mimika, AKBP Godhelp C Mansembra, di Jayapura, membenarkan kalau
perang antarsuku itu

belum berhasil dihentikan aparat keamanan karena para kepala suku, baik
suku Damal dan Dani

maupun suku Amungme belum bersedia meletakkan busur dan panah untuk
berdamai. "Kami bersama

Dandim 1710 Mimika, Letkol (Inf) Tri Suseno sudah memantau perang suku itu
melalui udara dengan

menggunakan helikopter dan dari udara terlihat perang suku itu kembali
berkobar pagi ini," paparnya.

"Berbagai upaya terus dilakukan untuk menghentikan perang tersebut dan
mendamaikan suku-suku

yang betikai," tambah Mansembra.

Perang suku tersebut, menurt Mansembra, kini memasuki hari ketiga setelah
pecah perang, Selasa

(16/10), antara suku Amungme melawan dua suku yang bergabung itu.

Utusan khusus Polres Mimika yang dipimpin Kapolsek Tembagapura, Ipda Rudy
Hosair, telah

melakukan pendekatan intensif dengan para kepala suku di dua kampung itu
yaitu Kampung Banti dan

Kampung Kimberli. Namun, kepala suku Damal dan Dani belum bersedia
menghentikan perang

sementara kepala suku Amungme sudah bersedia berhenti berperang.

Adapun alasan dari pihak suku Damal dan Dani untuk tidak berhenti
berperang karena jumlah korban

dari suku ini yang meninggal dunia sudah mencapai tiga orang sementara
korban dari suku Amungme

baru satu orang.

Perang baru akan berhenti jika jumlah korban sama dari kedua belah pihak
yang bertikai.

Kendati demikian, aparat keamanan di wilayah itu terus melakukan
komunikasi dengan suku-suku yang

bertikai itu agar segera berhenti berperang.

Pada Rabu (17/10), tim khusus Polres Mimika yang dipimpin Kapolsek
Tembagapura Ipda Rudy

membawa tim medis memasuki lokasi perang suku untuk memberikan perawatan
intensif kepada para

korban yang terluka dan mengevakuasi korban yang meninggal dunia. Empat
korban yang telah

meninggal dunia sudah dimakamkan dengan terlebih dahulu mayat para korban
itu diperabukan.

"Tradisi di Mimika, mayat dari warga yang meninggal dunia ketika sedang
berperang tidak dikuburkan

begitu saja tetapi lebih dahulu diperabukan," ungkap Mansembra.

Terkait upaya penambahan aparat keamanan ke wilayah perang suku,
Mansnembra mengatakan,

pihaknya sudah mengirim satu peleton Brimob dan 20 anggota Dalmas dari
Polres Mimika untuk

memperkuat aparat keamanan di wilayah tersebut.

Sedangkan Satgas Amole III yang selama ini bertugas menjaga keamanan di
lokasi tambang PT

Freeport Indonesia (PTFI) tetap bersiaga di wilayah tersebut, agar perang
suku tidak meluas memasuki

wilayah tambang PTFI.

"Korban yang mengalami luka-luka serius yang sedang dirawat intensif oleh
Tim medis sebanyak 45

orang dari dua kubu yang bertikai itu. Kami segera membuka Pos keamanan
yang permanen di

Kampung Banti dan Kimbeli agar suku-suku yang bertikai ini tidak
melanjutkan perang lagi bila

sesewaktu mereka menginginkan perang," pungkasnya. [EL

---

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0710/17/nus03.html

Penembakan Tiga Warga Sipil di Mamberamo



Jayapura - Tiga warga sipil terkena timah panas peluru dari oknum polisi
Polres Sarmi, di Distrik

Mamberamo Hilir-Kabupaten Mamra di hari kedua Idul Fitri, Minggu (14/10).
Peristiwa itu terjadi pukul

10.00 WIT, di lokasi Camp PT Kodeco Mamberamo Alam Mandiri Distrik Mamberamo.


Ketiga korban itu adalah Kabag Humas di PT Mamberamo Alam Mandiri Yohanes
Lolo Payung (45),

menderita luka tembakan (tembus) di lutut kaki kanannya, dan Lukas
Balembah (34) warga Mamberamo

Hilir mengalami luka tembak di dada dan selangkangan kanan.
Selanjutnya Corneles Silo (50) mengalami luka tembak di bagian bagian dada
kiri hingga tembus dada

kanan. Sedangkan ketiga korban sendiri, saat ini telah berada di RSUD Dok
II Jayapura setelah

diterbangkan dengan heliklopter dari Sarmi pada Senin (15/10) lalu.
Dua oknum aparat kepolisian Polres Sarmi yang melakukan penembakan, yakni
Bripka Zainudin dan

Bripda Jupri.


Pejabat Bupati Mamberamo Raya (Mamra) Demianus Kieuw Kieuw, Selasa
(16/10), tiba di lokasi

penembakan. Kedatangan Bupati Demianus di lokasi kejadian membuat situasi
pascabentrok agak

mereda.


Sebelumnya, Kapolda Papua Irjen Pol Max D Aer dalam jumpa persnya kepada
wartawan di Mapolda

Papua menandaskan masyarakat dinilainya tak kooperatif, sehingga
anggotanya melakukan

penembakan peringatan. Tetapi karena tembakan itu tidak menyurutkan emosi
masyarakat, malahan

mereka melakukan penyerangan kepada anggota, akibatnya tembakan mengenai
warga.
Kapolda berjanji akan tetap memproses secara hukum dua anggotanya itu.
"Keterangan yang ada akan

kita tampung dari dua versi, dan saya tetap memerintahkan agar kasus ini
diproses," tuturnya.


Dari informasi yang diperoleh SH, peristiwa terjadi ketika korban Corneles
Silo (50) karyawan harian PT

Kodeco Mamberamo Alam Mandiri (KMAM) mendatangi Yohanis Lolo Payung (45)
Humas PT KMAM

untuk meminjam truk perusahaan, yang akan digunakan untuk mencari ikan di
KM 18.


Namun karena cuaca buruk, Yohanis tidak mengizinkan. Namun Corneles
menemui mandor

perusahaan dan memaksa sopir membawa mereka ke KM 18.. Truk dipinjam
selama dua hari. Saat

hendak kembali, hujan turun sehingga truk tidak bisa kembali, sementara
sore harinya, truk akan

digunakan menjemput karyawan perusahaan kembali ke kamp.


Hari Sabtu (13/10), Kabag Humas bersama anggota polisi dan beberapa orang
lainnya menuju ke KM-

18 dengan maksud memberitahukan kepada masyarakat agar jangan memaksa bila
meminta diantar

dengan kendaraan.


Keesokan harinya, Minggu (14/10), masyarakat membawa panah, parang, dan
senjata tajam datang dan

mengepung Kantor Humas. Situasi tak terkendali sehingga terjadi cekcok dan
berakhir dengan

pemukulan terhadap Corneles Silo.


Masyarakat makin emosi dan berusaha melakukan penyerangan, sehingga
anggota polisi mengeluarkan

banyak tembakan, yang menyebabkan tiga warga terkena tembakan. Pengamanan
di Camp milik PT

Kodeco itu sebanyak 11 orang, yakni tujuh dari Polres Persiapan Sarmi, dua
orang dari Polsek

Mamberamo Hilir, dan dua orang dari Koramil

---

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0710/18/sh06.html

Bentrokan di Mimika, 8 Korban Tewas

Oleh
Soehendarto/Odeodata H Julia



Jakarta-Bentrokan yang terjadi antarkampung Kimbeli dengan Banti-Waa di
Kabupaten Mimika, Papua,

sampai Kamis (18/10) siang ini masih terus berlanjut.

Dari laporan lapangan, korban tewas delapan orang, dan puluhan orang
lainnya luka-luka. Sementara

itu, menurut laporan pihak kepolisian, korban tewas empat orang yang
terdiri dari satu orang dari

kampung Banti dan tiga orang kampung Kimbeli, sedangkan yang luka-luka
seluruhnya 45 orang.


Wakapolda Papua Brigjen Andi Lolo ketika dihubungi SH per telepon,
mengatakan tadi pagi sekitar

pukul 10.00 terjadi lagi bentrokan antara warga masyarakat dari kedua
kampung tersebut. Belum

diketahui jumlah korban yang jatuh. Pada pukul 11.00 mereka menghentikan
pertikaian, beristirahat

untuk makan, dan kemudian masih dalam suasana yang tegang dan panas,
dikhawatirkan akan terjadi

bentrokan lagi. "Kebiasaan mereka, kalau sudah bentrok seperti ini selalu
menginginkan score tewas

jumlahnya sama, baru ditempuh upaya perdamaian," ujar Andi Lolo.

Menurut Andi, bentrokan terjadi Selasa (15/10), sejak kemarin Kapolres
Mimika AKBP Kapolres Mimika

AKBP Godhelp C Mansnembra bersama Ketua DPRD Mimika Yopi Kilangin, dan
Komandan Kodim

Mimika Letkol Inf. Tri Suseno telah berada di lokasi pertikaian bersama
aparat keamanan dari satuan

Brimob, Dalmas Polres Mimika dan Satgas Amule, untuk melerai bentrokan
tersebut, tapi para pelaku

tidak mau didamaikan dan suasana memanas.


Andi Lolo mengatakan pemicu bentrokan adalah adanya seorang warga dari
Kampung Kimbeli yang

meninggal pada 5 Oktober lalu di Tembagapura. Kejadiannya, warga tersebut
dalam keadaan mabuk

dan membuat keributan masuk ke lokasi Tembagapura, oleh karyawan yang
melihat kejadian itu

dilaporkan kepada securiti. Melihat securiti datang, warga tersebut
berlari ketakutan ke ujung bangunan

yang bertingkat itu dan melompat setinggi enam meter ke tanah sehingga
lehernya patah dan

meninggal.


Akibat kejadian itu pihak Tembagapura memberikan santunan untuk penguburan
Masalahnya berbuntut

panjang, karena ada isu yang dilansir oleh warga, santunan itu
pembagiannya tidak adil dan dihabiskan

oleh Kepala Perang Suku, dengan tuduhan uang santunan itu dibawa ke Timika
untuk foya-foya. n

---

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0710/18/nus02.html

Penembakan Warga di Mamberamo
18 Kepala Suku Temui Kapolri



Jayapura - Buntut kasus penembakan di Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten
Mamberamo Raya, Papua

yang dilakukan dua polisi Bripka Zainudin dan Bripda Jupri, Minggu
(14/10), dan mengenai tiga warga

sipil, 18 orang kepala suku di Mamberamo hari ini Kamis (18/10) telah
bertolak menuju Jakarta untuk

bertemu dengan Kapolri Jendral Soetanto di Jakarta.


Ketua DPRD Sarmi Andi May mengatakan 18 kepala suku itu akan bertolak dari
Jayapura, Kamis pagi,

dengan menggunakan maskapai penerbangan yang berbeda-beda. Belum diketahui
maksud dan tujuan

18 kepala suku ini ke Jakarta. "Anda wartawan enggak perlu tahu,"ujarnya
saat dihubungi SH, Kamis

malam. Andi mengatakan, kasus penembakan di Mamberamo Hilir ini sudah dua
kali terjadi dan

dilakukan oleh oknum polisi. Kasus pertama tanggal 14 Agustus, di lapangan
sepakbola Mamberamo

Hilir. Saat itu, polisi Bripda Marthen Luther Marani menembak seorang
mantri (juru rawat) Markus M

yang juga Kepala Puskesmas di Mamberamo. Kondisi sang mantri sendiri
sampai sekarang belum pulih

dan masih menjalani perawatan di RS Wahidin, Makassar.


Kejadian kedua terjadi lagi tepatnya di hari kedua Lebaran, Minggu
(14/10), yang menyebabkan tiga

warga sipil terkena timah panas. "Sepertinya tanggal 14 adalah tanggal
keramat buat orang

Mamberamo," tambahnya.  Kasus yang terjadi di Mamberamo, menurutnya, lebih
disebabkan pada

kelalaian dan adanya salah pengertian antara kedua belah pihak. Di sisi
lain masyarakat memang salah,

namun dari aparat kepolisian yang memegang senjata juga tak dapat
melakukan pengendalian diri.

Menyesalkan
Sebagai Ketua Dewan di Kabupaten Sarmi yang masih bertanggung jawab
terhadap Kabupaten

Mamberamo Raya karena baru dimekarkan itu, dia sangat menyesalkan aksi
ini.  Soal aksi-aksi seperti

ini belakangan sering terjadi dan dilakukan aparat kepolisian dari kaum
pendatang diduga kemungkinan

akibat ketidaktahuan mereka terhadap karakter budaya orang Papua. Menurut
Andy, di dalam UU No.21

Thn 2001 tentang Otonomi Khusus Papua sudah diatur tentang kearifan lokal
dan sanksi terhadap

hukum adat Papua. Untuk itu, dirinya meminta kepada para pejabat di Papua
ini agar dapat merancang

atau bisa menterjemahkan kebutuhan masyarakat pada sektor pembangunan
untuk menembus budaya

di Papua ini.


Sementara itu, SH belum berhasil melakukan konfirmasi dengan Kabid Humas
Polda Papua Kombel Pol

Agus Rianto atas kejadian ini. Walau dari nada teleponnya terdengar nada
masuk, tetapi telepon SH

tidak diangkat. Pesan pendek meminta konfirmasi juga dikirim, tapi tak
kunjung dibalas. (odeodata h

julia)


---

HARIAN ANALISA
Edisi Kamis, 18 Oktober 2007

Perang Suku Kembali Berkecamuk di Mimika, Papua

Timika, (Analisa)

Perang antara suku Damal yang bergabung dengan suku Dani yang mendiami
kampung Kimberli

dengan suku Amungme yang mendiami kampung Banti, Kabupaten Mimika,
Provinsi Papua kembali

berkecamuk di wilayah itu sejak Selasa (16/10) dan hingga berita ini
disiarkan Rabu (17/10) perang itu

belum juga reda.

Dari Timika, ibukota Kabupaten Mimika, Rabu (17/10), Antara melaporkan,
perang antarsuku Damal dan

Dani berhadapan dengan suku Amungme tersebut masih terus berlangsung.

Sementara itu, Polres Mimika sudah menerjunkan aparatnya untuk
menghentikan perang suku tersebut

dan mendamaikan suku-suku yang bertikai.

"Menurut informasi, perang antarsuku itu sudah membawa korban jiwa
sedikitnya empat orang

meninggal dunia namun belum diketahui dari suku mana para korban perang
suku itu. Kapolres Mimika

AKBP GC Mansnembra dan Ketua DPRD Mimika, Yopi Kilangin sudah berangkat ke
lokasi perang suku

untuk mengimbau masyarakat menghentikan perang tersebut," kata seorang
warga Mimika, Antonius.

Antonius mengatakan, perang suku serupa pernah terjadi pada September lalu
antara suku Damal yang

bergabung dengan suku Dani melawan suku Amungme.

Pada September itu, perang suku dipicu masalah keluarga. Seorang perempuan
suku Amungme yang

telah lama menikah dengan pria dari suku Damal bercerai dan menikah lagi.

Perempuan suku Amungme ini menikah dengan pria dari suku yang sama.
Pernikahan yang kedua itu

menimbulkan konflik karena suami pertama perempuan itu menganggap
perkawinan tersebut sebagai

bentuk perselingkuhan yang berujung pada perang antarsuku.

Perang antarsuku pada bulan lalu itu sudah berhasil didamaikan oleh aparat
keamanan dari Polres

Mimika dan pemerintah setempat. Namun pada Selasa (16/10) perang itu
berkobar lagi.

Antonius mengatakan, perang antarsuku di Mimika, wilayah pegunungan tengah
Papua itu merupakan

kebiasaan masyarakat di wilayah ini. Perang baru akan berhenti jika sudah
menimbulkan korban jiwa.

Untuk menuntaskan perang suku ini maka suku-suku yang terlibat perang itu
akan melakukan upacara

perdamaian dengan melaksanakan tradisi bakar batu dan bayar kepala atau
pemberian denda adat

kepada keluarga yang menjadi korban perang suku itu.

Upacara bayar kepala pernah juga berlangsung di Timika pada Juni 2007
ketika terjadi perang suku di

wilayah Kwamki Lama, Timika pada Juli dan September 2006.

Upacara pembayaran kepala bagi para korban perang Kwamki Lama tersebut
dilakukan oleh kelompok

suku bagian tengah Kwamki Lama dibawah pimpinan kepala perangnya, Elminus
Mom dan David

Wandikbo.

Sementara itu, kelompok bagian bawah dan atas dengan kepala perangnya,
Negro Wanimbo dan

Jacobus Kogoya hanya melaksanakan pengumpulan dana, sedangkan pembayaran
kepala akan diatur

kemudian lantaran belum terkumpul seluruh dana dari para anggota suku.

Dana pembayaran kepala yang terkumpul untuk kelompok tengah seluruhnya
berjumlah Rp1 miliar yang

diserahkan kepada tujuh anggota keluarga korban yang meninggal saat perang
suku Kwamki Lama, 23

Juli-14 September 2006 dimana masing-masing korban menerima Rp200-500 juta.

Selain korban jiwa, di kelompok tengah terdapat 145 rumah yang rusak berat
dan ringan dan 21 rumah

yang hangus terbakar saat perang suku di Kwamki Lama. Rumah-rumah yang
rusak tersebut sudah

diperbaiki. (Ant

---
CEPOS 19 Okt

 Perang di Mimika Berlanjut

Kelompok Kampung Kimbeli Menghendaki Jumlah Korban Tewas Seimbang
JAYAPURA-Perang suku yang terjadi di Kabupaten Mimika, yang melibatkan
masyarakat dari Kampung

Banti (Suku Amungme) dengan masyarakat Kampung Kimbeli (Suku Damal),
Distrik Tembagapura,

kabupaten Mimika, Provinsi Papua) belum ada tanda-tanda untuk berakhir.
Kemarin (Kamis, 18/10),

perang dengan senjata tradisional berupa panah, tombak, parang dan
sejenisnya itu, masih berlanjut.
Alasan perang itu masih berlanjut karena jumlah korban masing-masing suku
dianggap belum sama.

Dimana perang yang terjadi sejak Selasa (16/10) hingga Rabu (17/10) sore
itu, menimbulkan jumlah

korban yang berbeda, yaitu dari Suku Damal tiga orang tewas, sedangkan
dari Suku Amungme hanya

satu yang tewas.

Karenanya perang suku tersebut, berlanjut Kamis pagi (18/10) sekitar pukul
06.30 WIT. Meski tidak

dilaporkan adanya korban tewas, namun hingga pukul 17.30 WIT kemarin,
jumlah korban luka-luka

untuk perang lanjutan kemarin itu berjumlah empat orang. Korban baru itu
dievakuasi ke Mile 68 untuk

dirawat di RS Tembagapura.

Sementara untuk para korban hari sebelumnya yakni sebanyak 16 orang,
sebanyak tujuh orang telah

dipulangkan pihak RS dengan status rawat jalan, sedangkan 9 lainnya masih
dirawat.
Kapolres Mimika, AKBP Godhelp C. Mansnembra, bersama Dandim 1710 Mimika,
Letkol (Inf.) Trie

Soeseno, masih berusaha melakukan pendekatan dengan kedua kelompok warga
yang bertikai itu, tapi

belum juga berhasil. Upaya negosiasi dilakukan saat jedah perang, namun
warga Kimbeli belum mau

menghentikan perang.

Upaya pendamaian terkendala oleh prinsip jumlah korban harus seimbang,
sementara yang terjadi

jumlah korban dari kedua kelompok yang berperang itu belum seimbang.
"Jumlah korban tewas dari Kampung Kimbeli tiga orang, sementara korban
tewas dari Kampung Banti

hanya satu orang. Sehingga oleh mereka dianggap belum seimbang," tutur
Kapolres Mansnembra

kepada wartawan Radar Timika (Grup Cenderawasih Pos di Timika) petang
kemarin.
Sesuai data polisi, keempat korban tewas telah dimakamkan setelah
dilakukan upacara pengabuan di

masing-masing wilayah kelompok yang bertikai.

LAPOR KAPOLDA
Tentang situasi terakhir di Banti, menurut Kapolres Mansnembra, telah
dilaporkan kepada Kapolda

Papua, Irjen Pol. Drs.Max Donald Aer. Terkait dengan laporan itu, kata
Kapolres Mansnembar, Kapolda

meminta dirinya terus melakukan negoisasi dan pengamanan secara persuasif.
Upaya negoisasi sendiri telah dilakukan dengan dibantu Lurah Kwamki Lama,
Yanes Magai. Mereka

berusaha menemui massa, tapi tidak berhasil karena kelompok warga Kimbeli
menghendaki jumlah

korban tewas harus seimbang. Kendati demikian, kata Kapolres, aparat tidak
menyerah, tapi akan terus

melakukan pendekatan dengan tokoh masyarakat kedua kubu.

Aparat keamaman gabungan yang ditempatkan kemarin meliputi Satgaspam Amole
III, Dalmas Polres

Mimika, Brimob Detasemen B, serta security PTFI. Mereka bertugas
mengamankan wilayah

Tembagapura dan Puskesmas Banti yang menjadi tempat evakuasi para korban
perang. Tentang

kemungkinan tambahan bantuan personel pengamanan, menurutnya sementara
belum diperlukan,

karena lebih diutamakan pendekatan persuasif.

Sementara itu dari Polda Papua, melalui Kepala Bidang Hubungan Masyarakat
(Kabidhumas) Polda

Papua, Komisaris Besar (Kombes) Polisi Agus Rianto diperoleh dikonfirmasi
yang sama bahwa dalam

perang susulan itu, setidaknya 150 warga Kampung Kimbeli melakukan
penyerangan terhadap

kelompok warga di Kampung Banti.

Akibat perang susulan ini, empat orang dari Kampung Banti mengalami
luka-luka dan harus dirawat di

Rumah Sakit Tembagapura. Mereka yang mengalami luka-luka antara lain Edi
Omaleng (22) yang

mengalami luka akibat senapan angin.

Berikutnya Jens Kum (25) yang mengalami luka panah di kepala, Devinus
Deanal (24) mengalami luka

panah di kepala, serta seorang wanita bernama Pemina Janampa (26)
mengalami luka panah di

pinggang kanan. "Sedangkan dari kelompok Kimbeli, jumlah korban yang
menderita luka-luka belum

bisa didata,"jelasnya.

Secara keseluruhan, korban yang berhasil diidentifikasi dari Suku Damal
(Kampung Kimbeli) sebanyak

29 orang, yang terdiri dari tiga orang meninggal dunia yaitu Eran
Kogoya(20), Kerianus Kulla (20) dan

Kaminus Waker (18). Kemudian 26 orang lainnya mengalami luka-luka dan
dirawat di Rumah Sakit

Tembagapura, namun hingga Kamis (18/10) yang masih dirawat sisa 9 orang.

"Sedangkan dari Suku Amungme (Kampung Banti), korban secara keseluruhan
mencapai 16 orang,

yang terdiri dari satu orang meninggal dunia yaitu Laki Magai (18) dan 15
orang lainnya mengalami

luka-luka, namun tidak ada yang dirawat di rumah sakit. Semuanya hanya
rawat jalan," kata

Kabidhumas.

Sementara itu untuk menenangkan situasi, Ketua DPRD Mimika bersama
Kapolres Mimika terus

mengupayakan pendekatan persuasif melalui tokoh adatnya agar menghentikan
perang. "Hingga sore

ini (kemarin), situasi sudah normal, namun kita tetap mewaspadai timbulnya
perang lagi," tandasnya.
Ditambahkan, untuk menghindari terjadinya perang suku itu, pasukan yang
diturunkan ke lokasi kejadian

sudah ditambah. "Jumlah kekuatan personel sudah ditambah, namun semua
diambil dari Brimob yang

ada di Timika (Detasemen B) dan diambil dari personel Polres Mimika,"
imbuhnya. (eng/fud)







More information about the Kabar-Irian mailing list